Lagu: “IJAZAH PALSU” Ketika Kepalsuan Tak Lagi Malu, dan Sistem Memilih Buta



Ketika Lirik Menjadi Cermin Sistem yang Sengaja Buta

Fatahillah313, Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk ruang publik, sebuah lirik lagu berjudul “Ijazah Palsu” hadir bukan sebagai tudingan personal, melainkan sebagai metafora sosial.
Ia menyuarakan kegelisahan kolektif tentang praktik manipulasi, kongkalikong lembaga dengan birokrasi, dan normalisasi kebusukan yang disamarkan lewat legalitas semu. 
Lagu ini tidak menyebut nama, dan justru di situlah ketajamannya bekerja: 
yang disorot adalah sistem, bukan individu.


Lirik sebagai Editorial Sosial 

Ramai dilayang, ijazah palsu. / Siapa pemiliknya semua bisu?
Pembuka ini langsung menghantam kesadaran. 
Ketika isu mengemuka, respons yang muncul bukan klarifikasi, melainkan kebisuan kolektif. 
Diam bukan karena tak tahu, melainkan karena tahu terlalu banyak. 
Di pojok sana, “semua main peran”, sebuah gambaran tentang aktor-aktor yang piawai mengenakan topeng rapi demi jabatan.

Lagu ini bekerja seperti editorial tajam: 
mulut manis menjual moral, sementara praktik di belakang layar “tampak legal”. 
Kata tampak penting, sebab legalitas di sini bukan kebenaran, melainkan ilusi yang disusun rapi.


Legalitas Tanpa Akal Sehat 

Bukan soal aturan harus patuh / Yang penting foto terlihat utuh. 
Inilah kritik telak terhadap budaya administratif yang lebih mengutamakan kelengkapan visual daripada substansi. 
Akal sehat “disimpan dulu” demi stabilitas jabatan. 
Pendidikan direduksi menjadi akses, bukan proses. 
Tak perlu begadang menyusun skripsi, tak perlu bergulat dengan metodologi, cukup “datang saja ke sang ahli,” dan sim salabim, ijazah jadi.

Lirik ini menelanjangi industri legitimasi: 
ketika cap basah dan nama besar menggantikan kerja keras dan integritas. 
Mereka yang belajar mati-matian hanya bisa menonton, “sambil gigit lidah.”


Cap, Gelar, dan Beban Moral 

Cap bukan tanda keaslian. / Gelar palsu tanpa beban.
Dua baris ini merangkum tragedi etika kita. 
Keaslian tak lagi diukur dari proses, melainkan dari stempel. 
Gelar tak lagi memikul beban moral, hanya menjadi alat naik mimbar. 
Yang jujur diminta sabar; yang palsu diberi panggung. 
Tertawaan bukan lawakan, melainkan dusta yang dijadikan kebiasaan.


Bukan Soal Nama, Tapi Sistem 

Lagu ini menolak personalisasi isu. 
Ini bukan soal siapa punya nama / Ini sistem yang sengaja buta.
Kebutaan ini bukan kecelakaan, melainkan desain. 
Ada relasi kuasa yang saling mengunci: 
lembaga, birokrasi, dan kepentingan. Ketika sistem memilih buta, kebenaran diperlambat, keadilan ditunda, dan kebohongan diberi waktu untuk menjadi normal.


Refrain sebagai Vonis Moral 

Pengulangan “Ijazah palsu” bukan sekadar chorus, melainkan vonis. 
Dan klimaksnya tajam: 
“Dosanya asli.” Di sini lagu menegaskan garis pemisah antara simbol dan nilai. Kertas bisa palsu, cap bisa basah, gelar bisa disahkan, tetapi dosa tetap nyata. Ia menempel bukan pada ijazah, melainkan pada nurani.



Penutup: Seni yang Mengingatkan 

“Ijazah Palsu” membuktikan bahwa musik bisa menjadi alat kontrol sosial, menggugah, mengganggu, dan mengingatkan. 
Ia mengajak publik kembali pada pertanyaan mendasar: 
apa arti pendidikan jika kejujuran dinegosiasikan? 
Bukan tentang siapa-siapa. 
Ini tentang kita, tentang sistem yang perlu diterangi, dan tentang keberanian untuk mengatakan bahwa legal belum tentu benar, dan yang palsu, sekeras apa pun disahkan, tetap palsu.


Judul: 
Ijazah Palsu
Chanel youtube: moouhui
Lyrik :
Ramai dilayang, ijazah palsu.
Siapa pemiliknya semua bisu?
Di pojok sana semua main peran
Topeng yang rapi demi jabatan
Mulut manis jualan moral
Demi siasat tampak legal.


Bukan soal aturan harus patuh
Yang penting foto terlihat utuh
Akal sehat disimpan dulu
Asal jabatan enggak diganggu
Tak perlu sekolah tinggi
Tak perlu begadang susun skripsi
datang saja ke sang ahli
Sim sala bim
jazah langsung Jadi


Ijazah palsu cap basah
Nama besar langsung sah.
Yang belajar mati-matian
Nonton sambil gigit lidah.

Cap bukan tanda keaslian.
Gelar palsu tanpa beban.


Yang jujur disuruh sabar,
Yang palsu naik mimbar.
Yang ditertawakan bukan lawakan,
Tapi dusta yang dijadikan kebiasaan.

Bukan kurang pendidikan
Tapi terlalu lihai memanipulasi keadaan
Ini bukan soal
siapa punya nama
Ini sistem yang sengaja buta.


Ijazah palsu.
Ijazah palsu.
Ijazah palsu.
Ijazah palsu.
Ijazah palsu.
Dosanya asli.



(as)
#IjazahPalsu #KritikSosial #BirokrasiBisu #KebenaranDikubur #PendidikanBermartabat #LaguPerlawanan #SistemButa