Ulama adalah cahaya umat.
Namun cahaya itu bisa meredup, bahkan berubah menjadi api yang membakar, ketika ilmu tidak lagi dibimbing oleh iman dan ketakwaan.
Dalam khutbah Jum’at yang menggugah ini, Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani mengajak jamaah untuk menajamkan kewaspadaan terhadap satu fitnah besar akhir zaman:
ulama su’, ulama jahat yang menyimpang dan menyesatkan.Tulisan ini disajikan sebagai artikel majalah online reflektif, mempertahankan alur khutbah, namun diperkaya dengan narasi humanis dan penekanan moral agar mudah dicerna, direnungi, dan dijadikan bekal menjaga iman di tengah zaman penuh distorsi kebenaran.
Ulama: Pewaris Nabi atau Pedagang Agama?
Dalam Islam, ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia. Mereka adalah pewaris para nabi, penjaga wahyu, penunjuk jalan lurus di tengah gelapnya kebodohan dan fitnah zaman. Rasulullah ﷺ mengibaratkan ulama seperti bintang di langit, penunjuk arah bagi musafir yang tersesat di malam gelap.
Namun sejarah dan realitas hari ini menunjukkan satu kenyataan pahit:
tidak semua yang berlabel ulama benar-benar membawa umat kepada Allah.Seiring menjauhnya umat dari masa kenabian, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, zaman akan terus memburuk, bukan karena kurangnya orang pintar, tetapi karena hilangnya kejujuran dan ketulusan dalam ilmu.
Sungai yang Keruh di Muara Zaman
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa setiap zaman akan lebih buruk dari sebelumnya hingga umat bertemu Rabb-nya.
Umat Islam diibaratkan seperti sungai yang jernih di hulu, namun semakin ke muara, airnya semakin keruh dan tercemar.
Yang mengotori sungai itu bukan hanya tangan musuh dari luar, tetapi juga, dan ini yang paling berbahaya, tangan dari dalam umat sendiri, termasuk mereka yang tampil sebagai tokoh agama, ustadz, bahkan ulama.
Yang mengotori sungai itu bukan hanya tangan musuh dari luar, tetapi juga, dan ini yang paling berbahaya, tangan dari dalam umat sendiri, termasuk mereka yang tampil sebagai tokoh agama, ustadz, bahkan ulama.
Siapakah Ulama Su’?
Ulama su’ adalah ulama yang:
- Memiliki ilmu,
- Fasih berbicara dan berdalil,
- Namun ilmunya berhenti di lisan, tidak menembus hati dan amal.
Mereka bukan tidak tahu kebenaran.
Justru mereka tahu, tetapi memilih menjualnya demi:
Nama mereka sering mentereng, Buya, Habib, Kyai, Ustadz.
- Jabatan,
- Kedekatan dengan penguasa,
- Popularitas,
- Harta dan fasilitas dunia.
Nama mereka sering mentereng, Buya, Habib, Kyai, Ustadz.
Wajah mereka akrab di layar televisi dan mimbar. Ucapannya lembut, retorikanya memikat.
Namun di balik semua itu, mereka membela kezaliman, membungkam ulama yang kritis, bahkan mengkriminalisasi dakwah yang lurus, dengan dalih stabilitas, toleransi, atau maslahat versi penguasa.
Allah ﷻ telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
Allah ﷻ telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
Di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab agar kamu menyangka itu dari Kitab Allah, padahal bukan…
(QS. Ali Imran: 78)
Manis di Lisan, Serigala di Hati
Rasulullah ﷺ menggambarkan ulama akhir zaman yang berbahaya ini dengan sangat tegas:
Lisan mereka lebih manis dari gula, tetapi hati mereka adalah hati serigala.
(HR. At-Tirmidzi)
Mereka tampil seolah rendah hati, seakan bijak dan moderat. Namun di balik itu, mereka:
- Mengemas kebatilan dengan bungkus kebenaran,
- Mengaburkan batas haq dan batil,
- Menjadikan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan.
Inilah fitnah yang lebih berbahaya dari Dajjal, sebagaimana ditegaskan Rasulullah ﷺ kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:
Ulama yang sesat dan menyesatkan.
Tiga Ciri Ulama Su’ Menurut Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali rahimahullah merumuskan tiga ciri utama ulama su’, dan ketiganya masih sangat relevan hari ini.
1. Menjadikan Ilmu sebagai Komoditas Dunia
Belajar dan mengajar agama bukan untuk mencari ridha Allah, melainkan demi materi, proyek, dan fasilitas.
Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa orang seperti ini tidak akan mencium bau surga.
2. Bersekutu dengan Penguasa Zalim
Alih-alih menasihati dan mengoreksi kekuasaan, ulama su’ justru mendekat, memoles kezaliman dengan dalil, dan menjual legitimasi agama demi kedudukan.
Para ulama salaf justru menjaga jarak dari istana, bahkan menolak hadiah penguasa.
Alih-alih menasihati dan mengoreksi kekuasaan, ulama su’ justru mendekat, memoles kezaliman dengan dalil, dan menjual legitimasi agama demi kedudukan.
Para ulama salaf justru menjaga jarak dari istana, bahkan menolak hadiah penguasa.
Imam Malik dan Imam Bukhari memberi teladan:
ilmu didatangi, bukan mendatangi kekuasaan.
3. Mudah Mengumbar Fatwa
Ulama akhirat berhati-hati dalam berfatwa.
Ulama akhirat berhati-hati dalam berfatwa.
Ulama su’ justru cepat menghalalkan dan mengharamkan sesuai pesanan dan kepentingan duniawi.
Yang Paling Merugi di Hadapan Allah
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
Yang paling aku khawatirkan atas umat ini adalah munafik yang berilmu.
Ulama su’ berada di peringkat terendah manusia, karena:
- Ia tahu kebenaran,
- Namun justru mengajak kepada kesesatan,
- Dan menyesatkan banyak orang dengan dalih agama.
Rasulullah ﷺ menegaskan:
Sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama, dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama.
(HR. Ad-Darimi)
Seruan Penutup: Kembali kepada Ulama Akhirat
Khutbah ini bukan ajakan membenci ulama, melainkan seruan untuk mencintai ulama yang benar, ulama akhirat yang:
- Ikhlas,
- Berani berkata benar meski pahit,
- Berdiri bersama umat, bukan di atas penderitaan umat.
Sebagaimana pesan luhur:
Qulil haqqo walau kana murron”, Katakan kebenaran meskipun pahit.
Semoga Allah ﷻ:
- Melindungi kita dari ulama su’,
- Menghimpun kita bersama ulama yang jujur dan bertakwa,
- Menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan alat penyesatan.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Disampaikan oleh: Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd., M.Pd., Gr حفظه الله
(as)
#KhutbahJumat #UlamaSuu #UlamaAkhirat #FitnahAkhirZaman #JagaIman #KatakanKebenaran #IslamRahmatan #DakwahLurus
(as)
#KhutbahJumat #UlamaSuu #UlamaAkhirat #FitnahAkhirZaman #JagaIman #KatakanKebenaran #IslamRahmatan #DakwahLurus


