Fatahillah313, Jakarta - Jagat media sosial kembali gaduh.
Kali ini, pusarannya adalah musik, politik, dan teknologi, tiga elemen yang jika bertemu sering kali melahirkan polemik berlapis.
Kuburan Band Terseret, Padahal Tak Terlibat Di tengah riuh itulah, muncul lagu “Tak Diberi Tulang Lagi”, dengan suara, visual, dan gaya yang dibuat mirip Kuburan Band.
Narasi ini viral, cepat, dan menyesatkan.
Resa, salah satu personel Kuburan Band, akhirnya angkat bicara.
Lagu berjudul “Tak Diberi Tulang Lagi” mendadak viral di TikTok dan disebut-sebut sebagai serangan balik Kuburan Band terhadap Slank, menyusul rilis lagu “Republik Fufu Fafa” yang menuai kontroversi.
Slank, Kritik Sosial, dan Kembalinya Nada Jalanan
Namun, fakta berkata lain. Kuburan Band dengan tegas membantah tudingan tersebut. Lagu yang ramai dipakai konten kreator itu bukan rilisan resmi, bukan karya mereka, dan dipastikan merupakan produk kecerdasan buatan (AI).
Slank dikenal sebagai band yang punya sejarah panjang dalam kritik sosial.
Melalui lagu “Republik Fufu Fafa”, Slank kembali ke akar selengean, menyuarakan kegelisahan tentang kekuasaan, moral publik, dan realitas sosial yang timpang.
Liriknya menyentil keras:
Liriknya menyentil keras:
soal negeri yang kacau, ketergantungan pada kuasa, stunting, gizi buruk, hingga kecerdasan publik yang dipertanyakan. Bagi sebagian pendengar, lagu ini adalah satire. Bagi yang lain, ia terasa menampar.Tak heran jika lagu tersebut memicu respons emosional.
Ada yang memuji keberanian Slank, ada pula yang merasa tersindir dan marah.
Pertanyaannya sederhana namun menggelitik:
jika tak merasa terkait, mengapa harus bereaksi berlebihan?
Kuburan Band Terseret, Padahal Tak Terlibat Di tengah riuh itulah, muncul lagu “Tak Diberi Tulang Lagi”, dengan suara, visual, dan gaya yang dibuat mirip Kuburan Band.
Narasi pun dibangun:
seolah-olah Kuburan Band merilis lagu sindiran balasan untuk Slank.
Narasi ini viral, cepat, dan menyesatkan.
Resa, salah satu personel Kuburan Band, akhirnya angkat bicara.
Klarifikasi disampaikan langsung di kolom komentar Instagram resmi Kuburan Band, merespons seorang Slanker yang ikut nimbrung.
Boleh bantu viralkan lagu baru Kuburan yang berjudul Ajeng, bukan lagu yang viral di TikTok yang hoaks. Karena itu lagu AI,
tulis Resa.
Pernyataan singkat, lugas, dan mematahkan seluruh spekulasi.
Produk AI, Algoritma, dan Budaya Adu Domba
Pernyataan singkat, lugas, dan mematahkan seluruh spekulasi.
Produk AI, Algoritma, dan Budaya Adu Domba
Penelusuran menunjukkan lagu “Tak Diberi Tulang Lagi”:
Ini bukan sekadar kesalahpahaman.
- Tidak pernah diumumkan Kuburan Band
- Tidak tersedia di kanal resmi atau platform musik mereka
- Visual videonya menampilkan gerakan personel yang tidak natural
- Bernuansa hitam putih dengan sinkronisasi wajah dan suara yang khas rekayasa AI
Ini bukan sekadar kesalahpahaman.
Ini contoh nyata bagaimana konten AI yang menyerupai figur publik dapat digoreng algoritma, dipelintir narasinya, lalu dijadikan alat adu domba.
Kuburan Band menjadi korban penempelan identitas. Slank dijadikan sasaran konflik semu.
Kuburan Band menjadi korban penempelan identitas. Slank dijadikan sasaran konflik semu.
Sementara publik, jika tak kritis, mudah terjebak.
Lirik Viral yang Menipu Persepsi
Lirik Viral yang Menipu Persepsi
Lagu versi AI itu memang terdengar “menggigit”. Lirik tentang kesetiaan, kekuasaan, “anjing setia”, dan “tak diberi tulang lagi” seolah pas sebagai alegori politik.
Tapi justru di situlah bahayanya:
makna yang kuat tidak selalu lahir dari karya yang sah.Kuburan Band menegaskan:
mereka tidak pernah merilis lagu tersebut, tidak berniat menyindir Slank, dan tidak terlibat sedikit pun.
Musik, Politik, dan Ingatan Digital
Fenomena ini membuka pelajaran penting:
- Musik kritik sosial sah dan perlu, tetapi harus ditempatkan pada konteks yang benar
- AI bisa menciptakan ilusi otentik, bahkan terhadap band besar
- Jejak digital tidak bisa dihapus, tapi bisa menyesatkan jika sejak awal keliru
- Publik dituntut lebih cermat: cek sumber, kanal resmi, dan klarifikasi langsung
Kuburan Band sendiri memilih jalan elegan, meluruskan tanpa memperpanjang konflik.
Mereka justru mengajak publik mendengarkan karya resmi terbaru mereka, “Ajeng”, alih-alih terjebak hoaks.
Hoaks Tumbang, Fakta Menang
Pada akhirnya, isu ini bukan soal Slank versus Kuburan Band. Ini soal bagaimana hoaks bekerja, bagaimana AI dimanfaatkan tanpa etika, dan bagaimana emosi publik bisa digiring hanya oleh potongan video viral.
Dan musik, sekali lagi, mengingatkan kita bahwa kritik sosial sejati tidak lahir dari kebohongan, apalagi dari mesin tanpa tanggung jawab.
Fitnah itu akhirnya gagal total. Klarifikasi berdiri tegak. Fakta berbicara.
Dan musik, sekali lagi, mengingatkan kita bahwa kritik sosial sejati tidak lahir dari kebohongan, apalagi dari mesin tanpa tanggung jawab.
(as)
#KuburanBand #Slank #RepublikFufuFafa #TakDiberiTulangLagi #HoaksAI #MusikDanPolitik #KlarifikasiResmi #LiterasiDigital #AIHoax #BudayaPopa

