Majelis Ta’lim Bulanan Markaz Syariah Petamburan & Seminar Ilmiah Nasional
Petamburan, Ahad 14 Rajab 1447 H / 4 Januari 2026 M - Sejak pukul 07.00 WIB, Markaz Syariah Petamburan menjadi poros pertemuan ilmu, adab, dan tanggung jawab peradaban.
Majelis Ta’lim Bulanan yang rutin digelar setiap Ahad pertama ini kembali menghadirkan rangkaian kajian kitab turats dan seminar ilmiah nasional yang menyatukan ulama, akademisi, dan umat dalam satu napas:
menguatkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai fondasi moderasi autentik Islam.
Acara yang berlangsung hingga tengah hari ini disiarkan langsung melalui kanal YouTube, menjangkau jamaah dari berbagai wilayah, sekaligus menegaskan bahwa dakwah dan pendidikan umat hari ini menuntut keterbukaan media tanpa kehilangan kedalaman makna.
Kajian Kitab: Menyambung Turats, Menguatkan Akhlak
Majelis dibuka dengan rangkaian kajian kitab yang menjadi ruh acara.
Lima pemateri menyampaikan warisan keilmuan Islam klasik secara sistematis, jernih, dan kontekstual.
Habib Muhammad Alwi bin Hasan Smith, Lc. mengupas Fathul Qorib Al Mujib ‘ala Tahdzib Targhib wa Tarhiib karya Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki. Kitab ini menjadi pengingat bahwa fikih dan akhlak tidak dapat dipisahkan; hukum Islam hadir bukan sekadar aturan, melainkan tuntunan menuju kemaslahatan dan keselamatan jiwa.
Selanjutnya, Habib Muhammad bin Husein Al-Attas, Lc., M.A. membedah Syarah Hikam Imam Al-Haddad RA. Dengan pendekatan tasawuf yang membumi, jamaah diajak menata niat, membersihkan hati, dan memahami hikmah ujian hidup sebagai jalan taqarrub kepada Allah.
Habib Muhammad Hanif Al-Attas, Lc., M.Pd. melanjutkan dengan kajian Mafahim Yajib an Tushahhah karya Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. Kitab ini secara tegas meluruskan kesalahpahaman dalam beragama, terutama sikap ekstrem, mudah menyesatkan, dan mengkafirkan—yang kerap muncul akibat pemahaman tekstual tanpa sanad keilmuan.
Sementara itu, Habib Muhammad bin Hadi Al Habsyi, Lc. menyampaikan Risalah Al Mu’awanah Imam Al-Haddad RA, sebuah panduan praktis tentang bagaimana seorang Muslim membangun relasi dengan Allah, manusia, dan dirinya sendiri melalui disiplin ibadah, adab, dan kesadaran sosial.
Keseluruhan rangkaian kajian ini dipandu dalam muqaddimah baranamij oleh Habib Muhammad Irfan bin Taufiq Alaydrus, S.Si., M.Han., M.Si., yang menegaskan bahwa majelis ilmu bukan sekadar rutinitas, melainkan proyek peradaban.
Habib Muhammad Alwi bin Hasan Smith, Lc. mengupas Fathul Qorib Al Mujib ‘ala Tahdzib Targhib wa Tarhiib karya Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki. Kitab ini menjadi pengingat bahwa fikih dan akhlak tidak dapat dipisahkan; hukum Islam hadir bukan sekadar aturan, melainkan tuntunan menuju kemaslahatan dan keselamatan jiwa.
Selanjutnya, Habib Muhammad bin Husein Al-Attas, Lc., M.A. membedah Syarah Hikam Imam Al-Haddad RA. Dengan pendekatan tasawuf yang membumi, jamaah diajak menata niat, membersihkan hati, dan memahami hikmah ujian hidup sebagai jalan taqarrub kepada Allah.
Habib Muhammad Hanif Al-Attas, Lc., M.Pd. melanjutkan dengan kajian Mafahim Yajib an Tushahhah karya Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. Kitab ini secara tegas meluruskan kesalahpahaman dalam beragama, terutama sikap ekstrem, mudah menyesatkan, dan mengkafirkan—yang kerap muncul akibat pemahaman tekstual tanpa sanad keilmuan.
Sementara itu, Habib Muhammad bin Hadi Al Habsyi, Lc. menyampaikan Risalah Al Mu’awanah Imam Al-Haddad RA, sebuah panduan praktis tentang bagaimana seorang Muslim membangun relasi dengan Allah, manusia, dan dirinya sendiri melalui disiplin ibadah, adab, dan kesadaran sosial.
Keseluruhan rangkaian kajian ini dipandu dalam muqaddimah baranamij oleh Habib Muhammad Irfan bin Taufiq Alaydrus, S.Si., M.Han., M.Si., yang menegaskan bahwa majelis ilmu bukan sekadar rutinitas, melainkan proyek peradaban.
Seminar Ilmiah Nasional: Aswajaisasi sebagai Jawaban Zaman
Memasuki sesi seminar dan dialog tokoh, tema besar diangkat dengan lugas dan berani:
“Deliberalisasi dan Deradikalisasi Melalui Aswajaisasi.”
Prolog dan epilog disampaikan langsung oleh DPMSS Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc., MA., Ph.D, selaku pendiri dan pembina Yayasan Markaz Syariah.
Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa liberalisme dan radikalisme adalah dua kutub ekstrem yang sama-sama merusak bangunan umat.
Keduanya lahir dari keterputusan sanad, pengabaian adab, serta peminggiran ulama.
Menurut beliau, Aswajaisasi bukan jargon, melainkan proses sistematis mengembalikan umat kepada manhaj yang seimbang:
Menurut beliau, Aswajaisasi bukan jargon, melainkan proses sistematis mengembalikan umat kepada manhaj yang seimbang:
berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama mu’tabar, menjunjung akhlak, serta menjaga persatuan umat dan bangsa.
Pandangan ini diperkuat oleh para narasumber:
- Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH., MA., Guru Besar Sosiologi Agama, menyoroti dampak sosial dari ideologi keagamaan yang lepas dari tradisi. Ia menegaskan bahwa Aswaja terbukti historis mampu menjaga kohesi sosial di tengah pluralitas Indonesia.
- Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor, mengkritisi liberalisasi pemikiran Islam yang seringkali mengorbankan worldview Islam demi standar Barat. Aswajaisasi, menurutnya, adalah upaya menjaga integritas epistemologi Islam.
- Dr. Adnin Armas, MA., Peneliti INSISTS, mengulas bagaimana perang pemikiran (ghazwul fikri) bekerja melalui media, kurikulum, dan wacana publik. Ia menegaskan perlunya literasi Islam berbasis turats dan metodologi ilmiah.
- Dr. Muhammad Ardiansyah, Dosen Islamic Worldview Pascasarjana UII Dalwa, menekankan pentingnya pendidikan Aswaja sejak dini sebagai benteng jangka panjang umat.
Diskusi dipandu dengan tajam dan berimbang oleh Dr. Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alathas, Lc., M.Pd., yang berhasil menghidupkan dialog tanpa kehilangan substansi ilmiah.
Dakwah, Kemanusiaan, dan Solidaritas Umat
Tidak berhenti pada wacana, acara ini juga membuka ruang kontribusi nyata melalui rekening kemanusiaan, bantuan Palestina, serta donasi media dan perjuangan.
Tidak berhenti pada wacana, acara ini juga membuka ruang kontribusi nyata melalui rekening kemanusiaan, bantuan Palestina, serta donasi media dan perjuangan.
Hal ini menegaskan bahwa ilmu harus berbuah amal, dan dakwah harus berjalan seiring kepedulian sosial.
Panitia juga mengajak umat untuk mendukung perjuangan dakwah melalui media digital dengan mengikuti kanal resmi IBTV di YouTube, Instagram, Telegram, dan WhatsApp Channel, sebuah langkah strategis menghadirkan dakwah Aswaja di ruang publik modern.
Majelis Ta’lim Bulanan Markaz Syariah Petamburan dan Seminar Ilmiah Nasional ini kembali menegaskan satu pesan penting:
Panitia juga mengajak umat untuk mendukung perjuangan dakwah melalui media digital dengan mengikuti kanal resmi IBTV di YouTube, Instagram, Telegram, dan WhatsApp Channel, sebuah langkah strategis menghadirkan dakwah Aswaja di ruang publik modern.
Majelis Ta’lim Bulanan Markaz Syariah Petamburan dan Seminar Ilmiah Nasional ini kembali menegaskan satu pesan penting:
di tengah kebisingan ideologi dan krisis arah, Islam memiliki jalan tengah yang kokoh, Aswaja, yang berakar pada ilmu, berbuah akhlak, dan berpihak pada kemaslahatan umat.Rekening Kemanusiaan :
BSI 78 555 888 75 (Kode Bank 451)
A/N : HILMI PERSAUDARAAN ISLAM
Konfirmasi : Ustadz Ahmad Yani 0877 7533 9415
Rekening Palestina :
BSI 6666 68 8811 (Kode Bank 451)
A/N : KOMITE PERSAUDARAAN AL AQSHO
Donasi Media & Perjuangan :
Bank Muamalat 30 800 394 77 (Kode Bank 147)
A/N Ahmad Sihabudin
Konfirmasi : Muhammad Syukron 0814 1111 9212
Mari Bantu Perjuangan dan Dakwah Kami dengan Like, Comment, Share & Subscribe link dibawah ini :
Youtube : Islamic Brotherhood Television
Instagram : officialibtv
Telegram : OfficialIbTv
WhatsApp : https://whatsapp.com/channel/0029VbB3...
(as)
#MajelisIlmu #MarkazSyariahPetamburan #Aswajaisasi #Deliberalisasi #Deradikalisasi #IBTV #PersaudaraanIslam #RevolusiAkhlak #IslamRahmatan
#MajelisIlmu #MarkazSyariahPetamburan #Aswajaisasi #Deliberalisasi #Deradikalisasi #IBTV #PersaudaraanIslam #RevolusiAkhlak #IslamRahmatan

