Majelis Ta’lim Bulanan yang rutin digelar setiap Ahad pertama ini berpadu dengan Seminar Ilmiah Nasional, menghadirkan diskursus serius dan mendalam bertajuk “Deliberalisasi dan Deradikalisasi Melalui Aswajaisasi.”
Tema besar seminar menegaskan satu pesan utama:
Acara berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 12.00 WIB dan disiarkan secara langsung melalui Islamic Brotherhood Television (IBTV), menjangkau umat di berbagai penjuru Tanah Air.
Seminar ini tidak sekadar menjadi agenda rutin dakwah, tetapi juga ruang intelektual strategis untuk menjawab tantangan zaman, di tengah arus liberalisasi pemikiran Islam di satu sisi dan radikalisme yang kerap mencederai wajah agama di sisi lain.
Aswajaisasi: Moderasi Berbasis Tradisi Keilmuan
Seminar ini tidak sekadar menjadi agenda rutin dakwah, tetapi juga ruang intelektual strategis untuk menjawab tantangan zaman, di tengah arus liberalisasi pemikiran Islam di satu sisi dan radikalisme yang kerap mencederai wajah agama di sisi lain.
Aswajaisasi: Moderasi Berbasis Tradisi Keilmuan
Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bukan sekadar identitas, melainkan metodologi berpikir, bersikap, dan bertindak.
Aswajaisasi dipandang sebagai jalan tengah yang berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam klasik, namun tetap relevan menjawab problem modernitas.
Melalui pendekatan Aswaja, Islam hadir sebagai agama rahmat, tegas dalam prinsip, namun adil dan bijak dalam praktik.
Inilah yang menjadi landasan utama upaya deliberalisasi (meluruskan pemikiran Islam yang terlepas dari otoritas ilmu dan tradisi) sekaligus deradikalisasi (mencegah sikap ekstrem yang lahir dari pemahaman parsial dan emosional).
Prolog dan Epilog: Pesan Ideologis dan Moral
Prolog dan Epilog: Pesan Ideologis dan Moral
Seminar ini dibuka dan ditutup langsung oleh DPMSS Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc., MA., Ph.D, selaku Pendiri dan Pembina Yayasan Markaz Syariah.
Dalam prolognya, beliau menegaskan bahwa krisis umat hari ini bukan semata persoalan ekonomi atau politik, melainkan krisis cara berpikir dan cara memahami agama.
Habib Rizieq menekankan pentingnya kembali kepada manhaj Aswaja sebagai fondasi perjuangan umat.
Habib Rizieq menekankan pentingnya kembali kepada manhaj Aswaja sebagai fondasi perjuangan umat.
Liberalisme agama yang menafikan batas halal-haram dan radikalisme yang menghalalkan kekerasan sama-sama lahir dari penyimpangan epistemologis.
Karena itu, solusi yang ditawarkan bukan kompromi, melainkan pemurnian manhaj berpikir Islam.
Pada epilog, beliau kembali menegaskan bahwa dakwah dan perjuangan harus berjalan seiring dengan akhlak, ilmu, dan keteguhan prinsip.
Pada epilog, beliau kembali menegaskan bahwa dakwah dan perjuangan harus berjalan seiring dengan akhlak, ilmu, dan keteguhan prinsip.
Revolusi akhlak hanya mungkin terwujud bila umat memiliki kerangka berpikir yang lurus dan bertanggung jawab.
Paparan Ilmiah Para Narasumber
Paparan Ilmiah Para Narasumber
Seminar ini menghadirkan para akademisi dan pemikir Islam terkemuka dengan latar belakang keilmuan yang kuat.
Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH., MA., Guru Besar Sosiologi Agama, mengulas fenomena liberalisasi agama dari perspektif sosial.
Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH., MA., Guru Besar Sosiologi Agama, mengulas fenomena liberalisasi agama dari perspektif sosial.
Ia menjelaskan bagaimana pemikiran liberal sering kali tumbuh dari kegamangan identitas dan tekanan globalisasi, lalu diproduksi ulang melalui media dan institusi pendidikan tanpa filter epistemik yang memadai.
Sementara itu, Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, menyoroti aspek worldview.
Sementara itu, Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, menyoroti aspek worldview.
Menurutnya, liberalisme dan radikalisme sama-sama berangkat dari worldview yang rusak, yang satu mengagungkan kebebasan tanpa batas, yang lain terjebak pada literalisme kaku.
Aswaja hadir sebagai worldview Islam yang utuh, menyatukan wahyu, akal, dan tradisi.
Dr. Adnin Armas, MA., Peneliti INSISTS, memperdalam kajian dengan membedah akar ideologis liberalisme agama serta pengaruh pemikiran Barat sekuler dalam diskursus Islam kontemporer. Ia menegaskan pentingnya literasi intelektual umat agar tidak mudah terjebak dalam narasi akademik yang tampak ilmiah namun sesungguhnya problematik.
Adapun Dr. Muhammad Ardiansyah, Dosen Islamic Worldview Pascasarjana UII Dalwa, menekankan peran pendidikan Islam dalam proses deradikalisasi.
Dr. Adnin Armas, MA., Peneliti INSISTS, memperdalam kajian dengan membedah akar ideologis liberalisme agama serta pengaruh pemikiran Barat sekuler dalam diskursus Islam kontemporer. Ia menegaskan pentingnya literasi intelektual umat agar tidak mudah terjebak dalam narasi akademik yang tampak ilmiah namun sesungguhnya problematik.
Adapun Dr. Muhammad Ardiansyah, Dosen Islamic Worldview Pascasarjana UII Dalwa, menekankan peran pendidikan Islam dalam proses deradikalisasi.
Menurutnya, radikalisme sering lahir dari pemahaman yang dangkal dan terputus dari sanad keilmuan.
Pendidikan berbasis Aswaja menjadi kunci pembentukan karakter muslim yang kokoh, kritis, dan berakhlak.
Diskusi ilmiah ini dimoderatori dengan apik oleh Dr. Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alathas, Lc., M.Pd., yang berhasil menjaga alur dialog tetap fokus, dinamis, dan bernas.
Dakwah, Ilmu, dan Perjuangan yang Terbuka
Diskusi ilmiah ini dimoderatori dengan apik oleh Dr. Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alathas, Lc., M.Pd., yang berhasil menjaga alur dialog tetap fokus, dinamis, dan bernas.
Dakwah, Ilmu, dan Perjuangan yang Terbuka
Selain sebagai forum keilmuan, acara ini juga menjadi bagian dari ikhtiar dakwah terbuka. IBTV menyiarkan langsung jalannya seminar melalui YouTube, memungkinkan partisipasi luas dari masyarakat.
Panitia juga mengajak umat untuk berperan aktif mendukung dakwah dengan cara sederhana namun bermakna: like, comment, share, dan subscribe kanal resmi IBTV.
Di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi, seminar ini menegaskan bahwa Islam tidak anti-ilmu, tidak anti-dialog, dan tidak anti-perubahan, namun memiliki fondasi nilai yang tidak bisa ditawar.
Di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi, seminar ini menegaskan bahwa Islam tidak anti-ilmu, tidak anti-dialog, dan tidak anti-perubahan, namun memiliki fondasi nilai yang tidak bisa ditawar.
Majelis Ta’lim Bulanan Markaz Syariah Petamburan dan Seminar Ilmiah Nasional ini kembali menegaskan peran penting ruang-ruang keilmuan dalam menjaga arah umat.
Aswajaisasi bukan slogan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan Islam tetap hadir sebagai pedoman hidup yang adil, beradab, dan mencerahkan, di tengah tantangan liberalisasi dan radikalisme yang terus mengintai.
(as)
#MajelisTalimMSP #SeminarIlmiahNasional #Aswajaisasi #Deliberalisasi #Deradikalisasi #MarkazSyariahPetamburan #IBTV #PersaudaraanIslam #RevolusiAkhlak #IslamBerilmu
(as)
#MajelisTalimMSP #SeminarIlmiahNasional #Aswajaisasi #Deliberalisasi #Deradikalisasi #MarkazSyariahPetamburan #IBTV #PersaudaraanIslam #RevolusiAkhlak #IslamBerilmu































































