IB HRS Habib Rizieq Shihab Tantang Oknum Yang Meneror Aktivis Saat Kritik Penangann Bencana Sumatra


Fatahillah313, Jakarta - Di tengah duka bencana yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, suara kemanusiaan justru dibungkam dengan cara-cara keji. Aktivis yang membela korban bencana diteror. 
Rumah mereka diserang. Ada yang dikirimi kepala babi, bangkai, darah, bahkan dilempari bom molotov.
Peristiwa inilah yang memantik kemarahan sekaligus pernyataan terbuka Imam Besar Habib Rizieq Shihab (HRS). 
Dalam sebuah tausiyah panjang yang sarat pesan keumatan, kebangsaan, dan keadilan, Habib Rizieq secara tegas menantang para pelaku teror tersebut.
Saya tantang mereka semua. Yang mengancam, yang mengintimidasi, yang meneror. Mau apa kalian? Saya bicara soal Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara. Saya bersama rakyat. Ada apa?
Nada Habib Rizieq bukan sekadar retorika emosional. Ia menyusun argumen: 
jika bencana benar-benar murni musibah alam, mengapa suara yang mengkritik penanganannya justru dibungkam dengan teror?


Teror Aktivis, Alarm Bahaya Demokrasi 

Kemanusiaan Habib Rizieq menilai teror terhadap aktivis kemanusiaan bukan peristiwa sepele. 
Itu adalah indikasi kuat bahwa ada sesuatu yang ingin disembunyikan.

Menurutnya, aktivis-aktivis tersebut tidak sedang berpolitik praktis. 
Mereka membela korban bencana, mengkritisi kerusakan lingkungan, dan mempertanyakan dugaan penggundulan hutan yang berujung longsor dan banjir besar.
Kalau ini murni musibah karena hujan, tidak ada yang perlu ditakuti. Tapi kalau ada penjahat yang menggunduli hutan, menyebabkan longsor, banjir, korban nyawa dan harta, tentu mereka takut terbongkar.

Habib Rizieq menyebut para pelaku teror sebagai biadab, karena menyerang orang-orang yang justru berdiri di garis depan kemanusiaan.


FPI dan Kerja Nyata di Lokasi Bencana 

Dalam penjelasannya, Habib Rizieq menegaskan bahwa Front Persaudaraan Islam (FPI) tidak hanya bersuara, tetapi bekerja langsung di lapangan. 
Ia menyebut telah berdiri lebih dari 200 dapur umum di berbagai titik bencana, termasuk wilayah-wilayah sulit dijangkau.
Selain dapur umum, relawan FPI juga:

    • membangun hunian sementara (huntara),
    • mendirikan MCK darurat,
    • membuka klinik kesehatan darurat,
    • menyiapkan sekolah darurat agar anak-anak korban bencana tetap bisa belajar dan mengikuti ujian.

Bencana ini bukan kerja jangka pendek. Ini kerja jangka panjang. 
Di Aceh saat Sunami 2004, kami bertahan sampai empat tahun sampai masyarakat benar-benar pulih.


Habib Rizieq memastikan dirinya akan turun langsung ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, meski dalam kondisi pemulihan pascaoperasi, didampingi tim medis.


Kayu Gelondongan, Negara Lamban, Rakyat Bertahan 

Salah satu isu krusial yang disorot adalah nasib kayu-kayu gelondongan sisa bencana. 
Warga mempertanyakan boleh tidaknya memanfaatkan kayu tersebut untuk membangun kembali rumah mereka.

Sikap Habib Rizieq tegas:

    • Jika negara hadir, cepat, serius, dan membangun kembali rumah warga → patuhi aturan.
    • Jika negara lamban, rakyat kelaparan, rumah tak kunjung dibangun → rakyat berhak menyelamatkan diri dan membangun tempat tinggalnya.

Ia mengkritik keras pengusaha yang justru datang ke lokasi bencana untuk mengklaim kayu bernomor perusahaan.
Yang seperti itu mestinya ditangkap. Hartanya disita dan dibagikan kepada korban bencana.


Ahlusunah wal Jamaah: Jalan Tengah di Tengah Kekacauan 

Dalam tausiyahnya, Habib Rizieq juga mengulas panjang tentang bahaya radikalisme dan liberalisme, serta menegaskan posisi Ahlusunah wal Jamaah (Aswaja) sebagai jalan tengah yang adil, seimbang, dan berkeadaban.

Ia menjelaskan dengan contoh-contoh konkret:

    • ayat tentang perang,
    • ayat tentang hukum Allah,
    • hadis tentang bid’ah,

untuk menunjukkan bahwa radikal menafsirkan agama secara berlebihan, sementara liberal menafsirkan agama secara serampangan.
Ahlusunah itu tidak radikal, tidak liberal. Tidak ifrad, tidak tafrid. Tawasuth, tawazun, tasamuh.

Menurutnya, selama Indonesia dijaga oleh nilai-nilai Aswaja, persatuan umat dan keutuhan bangsa masih punya harapan.

Seruan Persatuan dan Perlindungan Aktivis Di akhir pernyataannya, Habib Rizieq menyerukan agar seluruh elemen umat:

    • menjaga persatuan,
    • melindungi para aktivis kemanusiaan,
    • tidak takut menyuarakan kebenaran,
    • dan tidak membiarkan teror menjadi alat pembungkam nurani.

Jaga para aktivis kita. Mereka menyuarakan kebenaran. Mereka bela rakyat. Jangan diganggu.

Ia menutup dengan doa dan selawat, memohon keselamatan umat dari bencana, musibah, dan kezaliman.


(as)
#HabibRizieq #BelaAceh #StopTerorAktivis #BencanaDanKeadilan #LawanTeror #SaveAceh #Aswaja #AmarMarufNahiMunkar