Dr. Muhammad Ardiansyah: Tantangan Kontemporer Ahlussunnah wal Jama’ah di Tengah Ekstremisme Tafsir


Fatahillah313, Petamburan - Di tengah hiruk-pikuk wacana keislaman hari ini, umat Islam, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), berada dalam pusaran tantangan yang kian kompleks. 
Bukan hanya tantangan klasik yang telah lama dibahas dalam kitab-kitab ulama, tetapi juga tantangan kontemporer yang datang dengan wajah baru, bahasa baru, dan metode baru. 
Inilah kegelisahan yang disampaikan secara lugas dan bernas oleh Dr. Muhammad Ardiansyah dalam sebuah forum ilmiah Aswaja.

Dengan bahasa yang tegas namun tetap humanis, Dr. Ardiansyah menyoroti satu problem mendasar yang kini menggerogoti umat: ekstremisme tafsir, baik yang lahir dari liberalisasi berlebihan maupun dari literalisme kaku yang menutup ruang khilafiah.


Dari Tantangan Klasik ke Tantangan Zaman Kini

Sejarah Islam mencatat berbagai aliran klasik seperti Syiah, Mu’tazilah, Jabariyah, Khawarij, dan Murji’ah. 
Semua itu telah lama dibahas, dipetakan, dan dijawab oleh para ulama besar dalam khazanah keilmuan Islam. 
Namun, menurut Dr. Ardiansyah, kesalahan fatal umat hari ini adalah berhenti pada nostalgia intelektual, tanpa mengaktualkan warisan ulama untuk menjawab realitas zaman.
Kita membaca Imam al-Ghazali, Fakhruddin ar-Razi, an-Nasafi, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk menjawab tantangan hari ini,
tegasnya.

Hari ini, tantangan itu menjelma dalam bentuk ateisme, feminisme radikal, misionaris modern, sekularisme, pluralisme, liberalisme, hingga fenomena yang ia sebut sebagai “pseudo-salafi”, mereka yang mengklaim salafi, tetapi justru menyalahi manhaj salaf itu sendiri.


Aswaja: Jalan Tengah yang Kerap Ditinggalkan

Ahlussunnah wal Jama’ah sejatinya berdiri di titik wasath (tengah)—tidak jatuh pada ekstrem kiri (liberalisme) dan tidak tergelincir ke ekstrem kanan (literalisme kaku).

Namun ironisnya, jalan tengah ini justru kerap diserang dari dua arah.

1. Kelompok liberal, yang mengusung jargon tajdid dan pembaruan, tetapi pada praktiknya justru:
Merelatifkan kebenaran yang mutlak
  • Menggugat fikih, akidah, dan syariat sebagai “kadaluwarsa”
  • Mengadopsi metode tafsir Barat seperti hermeneutika tanpa kendali
  • Merendahkan ulama klasik, sambil mengagungkan pemikir Barat.
2. Kelompok literal-ekstrem, yang:
  • Menutup pintu khilafiah
  • Memutlakkan tafsir tunggal
  • Mudah melabeli sesat, bid’ah, bahkan kafir
  • Membenturkan ulama dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Di sinilah letak masalah besar umat hari ini.
 
 
Mono Tafsir vs Multi Tafsir: Dua Ekstrem yang Sama-sama Berbahaya

Dr. Ardiansyah menyoroti dengan tajam fenomena mono-tafsir absolut. 
Segala yang berbeda langsung dicap salah.
Beda dikit, salah. Laisa minna. Bukan kelompok kami. Tata cara takbir beda, dianggap sesat. Salatnya beda, katanya masuk neraka. Ngeri sekali.

Padahal dalam fikih dan muamalah, khilafiah adalah keniscayaan. Ia adalah bagian dari rahmat, bukan ancaman. 
Ketika khilafiah dimatikan, agama berubah menjadi alat penghakiman, bukan jalan keselamatan.

Sebaliknya, liberalisme juga bermasalah karena menjadikan semua tafsir relatif. 
Satu ayat bisa punya seribu tafsir, semuanya dianggap benar. Akhirnya, kebenaran kehilangan makna.


Ketika Akal dan Wahyu Dipisahkan

Dalam analisisnya, Dr. Ardiansyah menegaskan bahwa Aswaja tidak pernah memusuhi akal. 
Justru, Aswaja memadukan akal (‘aqli) dan wahyu (naqli) secara harmonis.

Ia mengutip Imam al-Ghazali:
Akal itu seperti mata, wahyu seperti cahaya. Mata tanpa cahaya tidak bisa melihat. Cahaya tanpa mata juga sia-sia. Ketika akal dan wahyu bersatu, itulah nur ‘ala nur.

Karena itu, mengharamkan logika, menolak mantik, atau mencurigai nalar kritis sama bahayanya dengan mengultuskan akal tanpa wahyu.


Agenda Aswajaisasi: Dari Konsep ke Gerakan

Sebagai penutup, Dr. Muhammad Ardiansyah menawarkan agenda Aswajaisasi yang praktis dan membumi:
    1. Tauhid sebagai akidah dan worldview
    2. Berilmu secara kulli dan jami’i (komprehensif)
    3. Menggabungkan ‘aqli dan naqli
    4. Beramal saleh secara fardi dan jama’i
    5. Menjaga adab dan akhlak
    6. Bersanad dan bermazhab
    7. Bersikap wasathiyah (bukan moderatisme liberal)
    8. Menguatkan ukhuwah dan jamaah
    9. Berjuang dengan ilmu, jiwa, dan harta
    10. Menyeimbangkan doa dan ikhtiar

Semua ini, menurutnya, adalah syarat mutlak agar Aswaja tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjelma sebagai peradaban hidup.
Penegasan Akhir

Tantangan Aswaja hari ini bukan hanya soal akidah, tetapi soal cara berpikir, cara bersikap, dan cara beradab. 
Ketika umat kehilangan keseimbangan, agama mudah dipelintir, baik atas nama pembaruan maupun pemurnian.

Aswaja hadir bukan untuk memecah, tetapi untuk merangkul; bukan untuk membungkam akal, tetapi untuk menuntunnya; bukan untuk menutup khilafiah, tetapi menjaganya dalam adab.
Di situlah Aswaja berdiri: teguh, berilmu, beradab, dan berimbang.

(as)
#Aswaja #AhlussunnahWalJamaah #TantanganKontemporerIslam #IslamWasathiyah #MelawanEkstremisme #PemikiranIslam #IslamBeradab