Dapat Hidayah: Dari Antek Imad Menjadi Pecinta Habaib


Pengakuan Jujur Mantan Pendukung Penolak Nasab Ba‘alawi

Ketika Keberanian Ternyata Menyesatkan Akal


Fatahillah313, Jakarta - Saya menulis ini bukan untuk mencari pembenaran, apalagi simpati. 
Saya menulis karena kejujuran menuntut untuk disampaikan, dan kesalahan harus diakui.
Ada satu pertanyaan sederhana yang akhirnya mengguncang seluruh keyakinan saya di masa lalu:
Jika benar saya mengaku mencari kebenaran, mengapa justru saya menutup mata terhadap pengakuan nasab yang telah dijaga ratusan tahun oleh para ulama dunia?

Dulu, saya berada di barisan pendukung Imad bin Sarman. 
Saya mengikuti narasi, tulisan, video, hingga tesis yang menyatakan bahwa Ba‘alawi bukan keturunan Nabi Muhammad ﷺ.
Pada tahap awal, narasi itu terasa berani, kritis, dan tampak ilmiah. 
Ia menawarkan sensasi intelektual: 
seolah sedang membongkar “kebenaran besar” yang selama ini diterima umat.

Tanpa sadar, keberanian itu berubah menjadi kecurigaan.
Kecurigaan berubah menjadi kebencian.
Dan kebencian mulai diarahkan kepada para habaib, dzurriyah Rasulullah ﷺ.


Saat Akal dan Hati Mulai Bekerja Bersama

Seiring waktu, kegelisahan itu tumbuh. 
Saya mulai bertanya dengan jujur, bukan lagi dengan emosi.

Saya membaca bantahan para ulama nasab lintas negara.
Saya membuka kitab-kitab tarikh dan ansab klasik.
Saya mempelajari bagaimana sanad nasab Ba‘alawi disambungkan, dicatat, diverifikasi, dan dijaga dari generasi ke generasi.

Di titik ini saya tersadar akan satu fakta besar:
Nasab Rasulullah ﷺ tidak pernah ditetapkan oleh satu orang, satu riset, atau satu tesis. 
Ia ditegakkan oleh ijma’ panjang ulama lintas abad.

Para sejarawan Islam, ahli nasab, dan Naqobah Asyraf di berbagai belahan dunia, Hijaz, Yaman, Mesir, Syam, Maghrib, hingga Nusantara, mengakui dan menjaga nasab Ba‘alawi sebagai bagian dari dzurriyah Nabi ﷺ.

Pertanyaannya sederhana tapi menghantam batin:
Apakah mungkin seluruh ulama dunia keliru, sementara satu narasi modern dianggap paling benar?


Narasi Ilmiah yang Melahirkan Kebencian

Ada satu hal penting yang dulu luput dari perhatian saya.

Narasi yang dibangun oleh KH. Imad dan para pendukungnya tidak berhenti pada diskusi ilmiah. 
Ia menjelma menjadi gelombang cercaan, sindiran, dan pelemahan kehormatan.

Yang diserang bukan hanya klaim akademik, tetapi martabat keluarga Rasulullah ﷺ.

Saya menunggu jawaban ilmiah yang benar-benar kokoh dari pihak penolak nasab Ba‘alawi:

    • Kitab mu‘tabar mana yang secara tegas menafikan nasab tersebut?
    • Ulama nasab mana yang diakui dunia dan berdiri di balik penolakan itu?
    • Naqobah Asyraf mana yang mengesahkan penafian tersebut?

Jawaban-jawaban itu tidak pernah tuntas.
Sebaliknya, yang saya saksikan justru:

    • Peremehan terhadap para habaib
    • Cibiran atas karomah ulama
    • Penghinaan terhadap kecintaan umat kepada dzurriyah Rasulullah ﷺ

Di titik ini, hati saya berontak.


Kritik Boleh, Merusak Kehormatan Ahlul Bait Tidak

Saya akhirnya memahami satu garis tegas dalam agama:
Kritik adalah bagian dari ilmu, tetapi merusak kehormatan Ahlul Bait adalah perkara besar di sisi Allah.

Saya teringat kembali akhlak Rasulullah ﷺ:

    • Bagaimana beliau memuliakan keturunannya
    • Bagaimana para sahabat menjaga Ahlul Bait
    • Bagaimana umat Islam sepanjang sejarah menghormati dzurriyah Nabi, bukan karena kultus, tetapi karena perintah agama

Kesalahan oknum tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk menafikan nasab seluruh kaum.
Jika ada habib yang keliru, itu adalah kesalahan pribadi, bukan kesalahan nasabnya.
Sebagaimana ulama, kiai, dan wali: tidak semuanya maksum.


Pengakuan dan Kembali ke Jalan Lurus

Hari ini, dengan penuh kesadaran, saya mengakui:
Saya keliru pernah berdiri di barisan yang meragukan dan melemahkan kehormatan habaib.
Kini saya kembali ke posisi yang lurus:

    • Mencintai habaib sebagai dzurriyah Rasulullah ﷺ yang sah
    • Menghormati mereka tanpa berlebihan
    • Menasihati dengan adab jika ada kekeliruan
    • Menolak segala upaya adu domba umat
Saya menulis ini dengan hati, bukan dengan dendam.

Karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak mungkin dipisahkan dari penghormatan kepada keluarganya.

Semoga Allah mengampuni kekeliruan saya di masa lalu dan menetapkan kita semua di jalan adab, ilmu, dan persatuan. 🤲


(Ketua Umum HRS Center & Sekretaris Majelis Syuro DPP Front Persaudaraan Islam)
(as)
#Hidayah #CintaHabaib #AhlulBait #DzurriyahRasulullah #NasabBaAlawi #PersatuanUmat #AdabSebelumIlmu #MelawanFitnah #IslamRahmatan