Fatahillah313, Jakarta - Pertemuan tertutup antara Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo dengan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis di Solo mendadak menjadi episentrum polemik baru.
Di satu sisi, Jokowi menyebutnya sebagai silaturahmi berniat baik.
Jokowi: Silaturahmi Tak Bisa Ditolak
Dua Polisi Aktif dan Etika Penegakan Hukum
Pejuang atau Pecundang?
Di tengah semua itu, satu hal tak terbantahkan:
Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa benar dan siapa salah, tetapi:
(as)
Di sisi lain, pertemuan ini justru membuka lapisan persoalan yang lebih dalam:
soal transparansi hukum, etika penegakan keadilan, dan konsistensi perjuangan dalam isu ijazah yang sejak awal membuat heboh.Di tengah pusaran itu, satu suara tampil paling konsisten dan keras:
Roy Suryo. Mantan Menpora yang sejak awal berdiri di garis depan kritik terhadap dugaan manipulasi dan disinformasi, kini justru menuntut satu hal sederhana namun fundamental:
klarifikasi terbuka dan jujur.
Jokowi: Silaturahmi Tak Bisa Ditolak
Dalam keterangannya kepada awak media, Jokowi menyampaikan bahwa pertemuan dengan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis adalah murni silaturahmi.Niat baik, menurut Jokowi, tak elok untuk ditolak.Ia bahkan menegaskan bahwa soal ada atau tidaknya permintaan maaf bukanlah hal penting.
Menurut saya ada atau tidak itu tidak perlu diperdebatkan. Niat baik silaturahmi itu harus dihormati,
ujar Jokowi.
Lebih jauh, Jokowi menyebut bahwa hasil pertemuan itu dapat menjadi pertimbangan penyidik Polda Metro Jaya, termasuk kemungkinan penerapan restorative justice.
Namun Jokowi juga menekankan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan aparat penegak hukum.
Pernyataan ini terdengar normatif, bahkan menenangkan.
Pernyataan ini terdengar normatif, bahkan menenangkan.
Namun justru di sinilah keganjilan mulai terasa.
Pertanyaan yang Menggantung: Minta Maaf atau Tidak?
Pertanyaan yang Menggantung: Minta Maaf atau Tidak?
Kuasa hukum Jokowi, Yakub Hasibuan, menyebut bahwa permintaan maaf merupakan salah satu agenda pertemuan, dan Jokowi telah memaafkan.
Narasi ini diperkuat oleh relawan Jokowi yang mengaku menyaksikan langsung suasana pertemuan, lengkap dengan doa dan ungkapan penyesalan.
Namun, bantahan keras datang dari berbagai arah.
Roy Suryo, mengutip komunikasi langsung antara Eggi Sudjana dengan sejumlah pihak, menyatakan tidak ada permintaan maaf eksplisit dalam pertemuan tersebut.
Namun, bantahan keras datang dari berbagai arah.
Roy Suryo, mengutip komunikasi langsung antara Eggi Sudjana dengan sejumlah pihak, menyatakan tidak ada permintaan maaf eksplisit dalam pertemuan tersebut.
Bahkan, menurut Roy, Eggi Sudjana secara tegas membantah telah meminta maaf kepada Jokowi.
Kalau benar minta maaf, kenapa sampai hari ini tidak ada klarifikasi terbuka dari yang bersangkutan?
tegas Roy.
Pertanyaan Roy sederhana, tetapi memukul tepat ke jantung persoalan:
Pertanyaan Roy sederhana, tetapi memukul tepat ke jantung persoalan:
mengapa klarifikasi ditunda, ditarik-ulur, dan dibiarkan berkembang liar?
Dua Polisi Aktif dan Etika Penegakan Hukum
Isu yang membuat publik semakin terkejut adalah klaim bahwa dua anggota Polri aktif, termasuk penyidik, mendampingi Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis saat menemui Jokowi.
Bagi Roy Suryo, ini bukan masalah sepele.
Bagi Roy Suryo, ini bukan masalah sepele.
Kalau benar ada penyidik aktif yang mengantar tersangka ke rumah pelapor, ini soal etika dan profesionalisme. Ini harus dijelaskan ke publik,
kata Roy.
Klaim ini juga diperkuat oleh YouTuber Sentana TV, Michael Sinaga, yang mengaku menerima keterangan langsung dari Eggi Sudjana.
Klaim ini juga diperkuat oleh YouTuber Sentana TV, Michael Sinaga, yang mengaku menerima keterangan langsung dari Eggi Sudjana.
Jika benar, publik berhak tahu:
dalam kapasitas apa penyidik hadir?
Mediator?
Saksi?
Atau justru sesuatu yang lain?
Roy menegaskan, bila tujuannya restorative justice, maka mekanismenya semestinya dilakukan secara terbuka di Polda Metro Jaya, bukan lewat pertemuan tertutup yang menimbulkan spekulasi.
Foto AI dan “Bau Amis” Informasi
Foto AI dan “Bau Amis” Informasi
Roy Suryo juga menyoroti beredarnya foto pertemuan yang menurut analisanya mengandung indikasi manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sebagai pakar telematika, Roy menyebut kejanggalan visual yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Tak hanya itu, isu penandatanganan buku yang diklaim terjadi di Solo juga dipatahkan oleh fakta bahwa tanda tangan tersebut dibuat di rumah Eggi Sudjana pada awal Desember, bukan di kediaman Jokowi.
Tak hanya itu, isu penandatanganan buku yang diklaim terjadi di Solo juga dipatahkan oleh fakta bahwa tanda tangan tersebut dibuat di rumah Eggi Sudjana pada awal Desember, bukan di kediaman Jokowi.
Kalau dibiarkan, isu ini akan berkembang ke mana-mana. Dari isu foto, polisi, sampai gosip koper uang. Ini yang harus dihentikan dengan klarifikasi jujur,ujar Roy.
Pejuang atau Pecundang?
Di sinilah Roy Suryo melontarkan kritik paling keras, dan paling menusuk.
Bagi Roy, perjuangan mengungkap kebenaran bukan sekadar soal berani bersuara, tetapi juga konsisten hingga akhir, meskipun tekanan datang dari berbagai arah.
Ia menilai, langkah sebagian pihak yang memilih jalur “sunyi” justru melemahkan perjuangan bersama yang sejak awal mengusung tabayun, klarifikasi ilmiah dan terbuka.
Roy Suryo Melawan Balik
Kalau terlalu lama klarifikasi, publik akan bertanya: ini pejuang atau pecundang?
Bagi Roy, perjuangan mengungkap kebenaran bukan sekadar soal berani bersuara, tetapi juga konsisten hingga akhir, meskipun tekanan datang dari berbagai arah.
Ia menilai, langkah sebagian pihak yang memilih jalur “sunyi” justru melemahkan perjuangan bersama yang sejak awal mengusung tabayun, klarifikasi ilmiah dan terbuka.
Roy Suryo Melawan Balik
Di saat sebagian tokoh memilih jalan damai yang abu-abu, Roy Suryo justru mengambil langkah konfrontatif:
melaporkan tujuh pendukung Jokowi ke Polda Metro Jaya atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah.Roy menegaskan bahwa dirinya difitnah memiliki ijazah palsu dan dikaitkan dengan korupsi Hambalang, dua tuduhan yang ia sebut tidak berdasar.
Ijazah S1, S2, S3 saya jelas. Hambalang? Saya justru mundur dari partai untuk sekolah,
tegas Roy.
Langkah ini menandai bahwa Roy tidak sekadar bertahan, tetapi melawan secara hukum.
Isu Ijazah Menjadi Konflik Politik
Langkah ini menandai bahwa Roy tidak sekadar bertahan, tetapi melawan secara hukum.
Isu Ijazah Menjadi Konflik Politik
Polemik ijazah Jokowi kini tak lagi murni persoalan hukum.
Ia telah merembet ke ranah politik.
Partai Demokrat melayangkan somasi atas tudingan bahwa SBY dan Demokrat berada di balik isu ijazah palsu.
PSI dan tokohnya, seperti Ade Armando, justru menilai langkah Demokrat memperkuat dugaan adanya irisan kepentingan politik dengan Roy Suryo.
Namun Roy sendiri berkali-kali menegaskan:
Namun Roy sendiri berkali-kali menegaskan:
perjuangannya bukan agenda partai.
Ini soal kebenaran dan transparansi, bukan soal menjatuhkan siapa pun,
ujar Roy dalam berbagai kesempatan.
Menuju Pengadilan: Kebenaran atau Penghabisan?
Menuju Pengadilan: Kebenaran atau Penghabisan?
Dengan dilimpahkannya berkas Roy Suryo CS ke Kejaksaan, babak baru akan segera dimulai.
Pengadilan akan menjadi arena terakhir, apakah kebenaran ilmiah akan diuji secara adil, atau justru kritik akan dikubur atas nama stabilitas.
Di tengah semua itu, satu hal tak terbantahkan:
Roy Suryo berdiri konsisten.Ia mungkin kontroversial, keras, bahkan dianggap berisik.Namun dalam demokrasi, suara seperti itulah yang sering kali menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa koreksi.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa benar dan siapa salah, tetapi:
apakah negara cukup dewasa untuk membuka semuanya dengan transfaran?
(as)
#RoySuryo #KasusIjazahJokowi #EggiSudjana #RestorativeJustice #TransparansiHukum #Tabayun #DemokrasiIndonesia #KeadilanPublik

