Fatahillah313, Jakarta - Sidang Citizen Lawsuit (CLS) terkait dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo kembali menyita perhatian publik.
Kali ini, sorotan menguat setelah mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol (Purn) Oegroseno, hadir sebagai saksi di Pengadilan Negeri Surakarta, Selasa (13/1/2026).
Kesaksian Oegroseno bukan sekadar formalitas.
Kesaksian Oegroseno bukan sekadar formalitas.
Ia datang membawa ingatan personal, pengalaman langsung, dan ketajaman pengamatan seorang perwira tinggi Polri yang terbiasa menilai detail.
Di hadapan majelis hakim dan awak media, Oegroseno mengungkapkan kejanggalan serius pada pas foto ijazah Jokowi yang beredar dan dijadikan objek gugatan.
“Beda Jauh, Bukan Sekadar Mirip atau Tidak”
“Beda Jauh, Bukan Sekadar Mirip atau Tidak”
Dalam keterangannya, Oegroseno secara tegas menyatakan bahwa wajah dalam pas foto ijazah berbeda jauh dengan sosok Jokowi yang pernah ia temui langsung.
Beda jauh. Saya ketika ketemu Pak Jokowi saya pernah berhadapan dekat. Ketika foto kok beda,
ujarnya.
Ia bahkan membandingkan pengalaman personalnya melihat foto-foto masa kecil dan remajanya sendiri.
Ia bahkan membandingkan pengalaman personalnya melihat foto-foto masa kecil dan remajanya sendiri.
Saya lihat foto waktu SD mirip saya ini. SMP mirip, SMA lebih mirip lagi. Nggak ada kemiripan sama sekali,
lanjutnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa menurut Oegroseno, perbedaan tersebut bukan perbedaan usia atau perubahan alami, melainkan ketidakcocokan yang kasat mata.
Bertemu Langsung Jokowi Saat Menjabat Presiden
Pernyataan ini menegaskan bahwa menurut Oegroseno, perbedaan tersebut bukan perbedaan usia atau perubahan alami, melainkan ketidakcocokan yang kasat mata.
Bertemu Langsung Jokowi Saat Menjabat Presiden
Kesaksian Oegroseno semakin menarik karena ia menegaskan bahwa perbandingan itu bukan sekadar asumsi visual dari foto lama.
Ia mengaku pernah bertemu langsung Jokowi pada Februari 2015, saat Jokowi masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Foto ini dengan yang asli pernah kita lihat kok berbeda. Itu yang sangat menonjol bagi kita di situ,
katanya.
Bagi Oegroseno, ingatan akan pertemuan langsung tersebut memperkuat keyakinannya bahwa foto pada ijazah yang dipersoalkan tidak mencerminkan wajah Jokowi sebagaimana ia kenal secara langsung.
Bagi Oegroseno, ingatan akan pertemuan langsung tersebut memperkuat keyakinannya bahwa foto pada ijazah yang dipersoalkan tidak mencerminkan wajah Jokowi sebagaimana ia kenal secara langsung.
Kacamata, Gigi, Telinga, dan Mata: Detail yang Terlihat Jelas
Salah satu poin paling menonjol dalam kesaksian Oegroseno adalah soal kacamata.
Menurutnya, Jokowi dalam pas foto ijazah tampak mengenakan kacamata, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat dikenakan Jokowi dalam pertemuan langsung maupun kegiatan resmi.
Saya nggak pernah lihat Pak Jokowi pakai kacamata,
tegasnya.
Tak berhenti di situ, Oegroseno juga menyoroti bentuk gigi, telinga, dan mata sebagai bagian yang menurutnya menunjukkan perbedaan signifikan.
Pernyataan ini mengandung pesan kuat:
Tak berhenti di situ, Oegroseno juga menyoroti bentuk gigi, telinga, dan mata sebagai bagian yang menurutnya menunjukkan perbedaan signifikan.
Beda jauh. Bukan beda tipis, beda jauh. Di gambar telinga, mata, banyak perbedaan. Panca indera bisa kita lihat.
Pernyataan ini mengandung pesan kuat:
penilaian tersebut bukan hasil analisis forensik digital, melainkan pengamatan langsung dengan logika dan indera manusia.
Soal Materai: Detail Administratif yang Menjadi Tanda Tanya
Selain persoalan foto, Oegroseno juga mengungkap kejanggalan lain yang bersifat administratif, yakni perbedaan nilai materai pada ijazah.
Dalam persidangan, ditampilkan ijazah almarhum Bambang Rudy Harto, alumni Fakultas Kehutanan UGM yang lulus pada tahun yang sama dengan Jokowi, yakni 1985.
Dalam persidangan, ditampilkan ijazah almarhum Bambang Rudy Harto, alumni Fakultas Kehutanan UGM yang lulus pada tahun yang sama dengan Jokowi, yakni 1985.
Ijazah Bambang dihadirkan oleh sang adik, Rudjito.
Fakta yang mencuat:
Fakta yang mencuat:
- Ijazah Jokowi menggunakan materai Rp100
- Ijazah Bambang menggunakan materai Rp500
Materainya beda juga. Tahun 1985 ada materai 500 ada materai 100. Yang benar yang mana. Penyidik harus jeli,
ujar Oegroseno.
Bagi seorang mantan petinggi Polri, perbedaan semacam ini bukan hal remeh.
Bagi seorang mantan petinggi Polri, perbedaan semacam ini bukan hal remeh.
Ia menilai ketelitian penyidik menjadi kunci untuk mengurai fakta yang sesungguhnya.
Menyoal Klaim “Identik” Versi Bareskrim
Menyoal Klaim “Identik” Versi Bareskrim
Oegroseno juga menanggapi pernyataan Bareskrim Polri yang sebelumnya menyebut ijazah Jokowi “identik” dengan ijazah pembanding lainnya.
Menurutnya, istilah tersebut kurang tepat secara konseptual.
Menurutnya, istilah tersebut kurang tepat secara konseptual.
Otentik itu kan sesuai dengan aslinya. Dokumen seperti ijazah, sertifikat, itu tidak ada yang identik. Identik itu tanda tangan,
jelasnya.
Pernyataan ini mempertegas perbedaan antara istilah “otentik” dan “identik”, yang dalam konteks hukum dan dokumen resmi memiliki implikasi serius.
CLS dan Hak Publik atas Kejelasan Sidang
Pernyataan ini mempertegas perbedaan antara istilah “otentik” dan “identik”, yang dalam konteks hukum dan dokumen resmi memiliki implikasi serius.
CLS dan Hak Publik atas Kejelasan Sidang
Citizen Lawsuit ini bukan sekadar soal individu atau figur politik.
Lebih dari itu, perkara ini menyentuh hak publik atas kejelasan, transparansi, dan kepercayaan terhadap institusi negara.
Kesaksian Oegroseno menambah bobot moral dan rasional dalam persidangan.
Kesaksian Oegroseno menambah bobot moral dan rasional dalam persidangan.
Ia tidak datang sebagai politisi, melainkan sebagai mantan penegak hukum yang terbiasa berpijak pada fakta, logika, dan kehati-hatian.
Apakah kesaksian ini akan menjadi titik balik?
Apakah kesaksian ini akan menjadi titik balik?
Ataukah hanya akan menjadi catatan di tengah polemik panjang?
Jawabannya kini berada di tangan majelis hakim dan proses hukum yang berjalan.
Yang jelas, satu pesan telah disampaikan dengan lugas:
Yang jelas, satu pesan telah disampaikan dengan lugas:
detail kecil bisa membuka kebenaran besar.
(as)
#SidangCLS #IjazahJokowi #Oegroseno #KeadilanPublik #TransparansiHukum #CitizenLawsuit #FaktaHukum #HakPublik


