Habib Rizieq Syihab: Stop Rasis & Fasis! Hapus Dikotomi Pribumi dan Pendatang

Menjaga Persatuan Umat, Menjaga Indonesia 
Fatahillah313, Jakarta - Isu pemecah-belah kembali berhembus di tengah umat. 
Kali ini, wajahnya adalah dikotomi “pribumi” dan “pendatang”, narasi lama yang dikemas ulang, disebarluaskan secara sistematis, dan diarahkan untuk merusak persaudaraan. 
Dalam momen Ziarah Kubra Palembang, Habib Rizieq Syihab (HRS) menyampaikan peringatan keras: 
Hentikan rasisme, hentikan fasisme, dan tolak propaganda adu domba.

Di hadapan ribuan jamaah, para ulama, habaib, umara, dan masyarakat lintas daerah bahkan lintas negara, HRS menegaskan bahwa Islam datang untuk menyatukan, bukan memisahkan. 
Pesan ini tidak sekadar seruan moral, melainkan peneguhan dalil Al-Qur’an, teladan Nabi, dan fakta sejarah Islam.


Ziarah Kubra Palembang: Ibadah, Budaya, dan Kebangsaan Menyatu 

Ziarah Kubra Palembang bukan sekadar agenda lokal. 
Ia telah tumbuh menjadi event nasional bahkan internasional, dihadiri jamaah dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, Hadramaut, dan Makkah.

Lebih dari itu, tahun ini menghadirkan pemandangan yang jarang terjadi: 
Ulama, habaib, umara, dan keluarga kesultanan Palembang bersatu padu. 
Gubernur, wali kota, aparat TNI-Polri, hingga tokoh adat turun bersama, memperlihatkan harmoni yang nyata.

Bagi HRS, ini adalah tanda awal titik terang, bahwa ulama dan umara bisa dan harus berjalan bersama demi persatuan umat dan keutuhan NKRI.


Standar Persaudaraan dalam Islam: Iman, Bukan Suku 

Dalam inti ceramahnya, HRS mengingatkan satu prinsip dasar yang sering dilupakan:
Innamal mu’minuuna ikhwatun.
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.

Islam menetapkan iman sebagai standar persaudaraan, bukan darah, nasab, suku, budaya, ras, atau asal wilayah. 
Siapa pun, Arab, Cina, India, Melayu, atau apa pun, selama beriman kepada Allah, ia adalah saudara.
Karena itu, Allah dengan tegas melarang satu golongan merendahkan golongan lain. 
Menghina, mencemooh, atau merasa lebih unggul karena identitas kelompok adalah pelanggaran serius dalam Islam.


Keberagaman Adalah Takdir Ilahi, Bukan Alasan Permusuhan 

Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan untuk saling membanggakan diri atau saling menghina, melainkan:
“Lita‘aarafu” – agar saling mengenal.

Setiap suku dan bangsa memiliki kelebihan yang harus disyukuri, dijaga, dan dipelajari. 
Standar kemuliaan bukan identitas, melainkan takwa, ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya.


Muhajirin dan Anshar: Teladan Abadi Menghapus Sekat Pribumi–Pendatang 

Untuk menjawab propaganda “pribumi vs pendatang”, HRS mengajak umat kembali pada sejarah Islam paling fundamental.

Di Madinah:
    • Anshar adalah pribumi, pemilik tanah dan harta.
    • Muhajirin adalah pendatang dari Makkah, meninggalkan segalanya.

Namun, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah memisahkan mereka. 
Sebaliknya, Nabi:
    • Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar satu per satu
    • Mengajarkan berbagi suka dan duka
    • Bahkan menetapkan hak waris di antara mereka

Tujuannya jelas:
    1. Pendidikan persaudaraan Islam
    2. Memperkokoh ukhuwah
    3. Mencegah rasa superioritas pribumi
    4. Menghapus eksklusivisme
    5. Menghilangkan asabiyah, rasisme, dan fasisme
    6. Menyatukan kekuatan melawan musuh bersama

Tidak ada “kami” dan “mereka”
Yang ada hanya umat Islam yang satu.


Propaganda Jahiliah: Pola Lama Orang Munafik 

Sejarah juga mencatat: 
Adu domba Muhajirin dan Anshar bukan hal baru. 
Di zaman Nabi, propaganda ini dilakukan oleh kaum munafik. 
Nabi menyebutnya dengan istilah keras:
“Da‘uha fa innaha muntinah” Tinggalkan! Itu propaganda busuk.

Allah sendiri membongkar kebohongan ini dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8, menegaskan bahwa kemuliaan hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, bukan milik suku atau golongan.


Kepemimpinan Islam: Pendatang Tanpa Tuduhan Penjajahan 

Fakta sejarah Islam sangat jelas:
    • Nabi memimpin Madinah, tak pernah disebut “penjajah”
    • Khulafaur Rasyidin seluruhnya dari Quraisy, tidak pernah ditolak Anshar
    • Bani Umayyah, Abbasiyah, hingga Turki Utsmani, diterima lintas bangsa
Tidak ada narasi “penjajahan pribumi oleh pendatang” dalam sejarah Islam. 
Yang ada adalah ketaatan, persatuan, dan keadilan.


Habaib di Nusantara: Dakwah, Bukan Penjajahan 

HRS dengan tegas mengecam tuduhan bahwa habaib adalah penjajah. Tuduhan ini dinilainya sebagai fitnah keji dan biadab.

Fakta sejarah menunjukkan:
    • Habaib datang berdakwah lewat akhlak, perdagangan, dan pernikahan
    • Mereka berbaur dengan masyarakat lokal
    • Menjadi mufti, panglima, penasihat sultan
    • Memimpin perlawanan melawan penjajah Barat
    • Melahirkan kesultanan dan ulama Nusantara
Mereka bukan penjajah, tetapi pewaris dakwah Rasulullah ﷺ.


Seruan Penutup: Bersatu di Bawah Kalimat Tauhid 

Di akhir ceramahnya, Habib Rizieq menyampaikan amanat yang lugas dan tegas:

Hapus dikotomi pribumi dan pendatang. 
Tolak rasisme dan fasisme. 
Lawan propaganda adu domba. 
Bersatu di bawah panji Lā ilāha illallāh Muhammadur Rasūlullāh.

Persatuan umat bukan sekadar pilihan, ia adalah kewajiban iman dan syarat tegaknya Indonesia yang bermartabat.



(as)
#StopRasisFasis #TolakDikotomi #UkhuwahIslamiyah #HabibRizieq #ZiarahKubraPalembang #PersatuanUmat #IslamRahmatanLilAlamin #NKRI