Fatahillah313, Jakarta - Diskursus keilmuan dalam Islam selalu hidup dari tradisi dialog, kritik, dan jawaban yang berimbang.
Namun, ketika kritik dijawab dengan argumen yang lengkap lalu dibiarkan tanpa tanggapan, di situlah muncul satu sikap penting:
Menolak lupa.Inilah yang menjadi inti pernyataan Ustadz Faris Baswedan dalam merespons kritik terbaru Ustadz Ahmad Ubaidillah terkait riwayat Malik Ad-Dar, sebuah riwayat klasik yang kerap menjadi titik silang pendapat dalam perbincangan akidah dan fikih.
Bagi Ustadz Faris, persoalan ini bukan sekadar soal siapa benar dan siapa salah, melainkan soal konsistensi ilmiah, keberanian menjawab argumen, dan tanggung jawab intelektual di hadapan umat.
Video yang dimaksud:
Riwayat Malik Ad-Dar dan Polemik yang Tak Pernah Sepi
Namun, menurut Ustadz Faris Baswedan, kritik ilmiah semestinya berjalan dua arah.
Sikap “menolak lupa” ini bukanlah bentuk emosi, apalagi serangan personal.
Namun, budaya ini akan timpang jika kritik hanya disampaikan sepihak, sementara jawaban yang tidak sejalan justru diabaikan.
Konsistensi Ilmiah dan Tanggung Jawab kepada Umat
Diskursus, Bukan Duel
Di tengah riuhnya perdebatan keagamaan, sikap inilah yang justru langka dan berharga:
(as)
Riwayat Malik Ad-Dar dan Polemik yang Tak Pernah Sepi
Riwayat Malik Ad-Dar bukan isu baru.
Ia telah lama menjadi bahan kajian para ulama lintas mazhab, terutama ketika dikaitkan dengan praktik tawassul dan istighatsah.
Dalam kritik-kritik yang disampaikan Ustadz Ahmad Ubaidillah, sejumlah pendapat ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, ulama Hanabilah, hingga rujukan empat mazhab, dikemukakan untuk menilai posisi riwayat tersebut.
Namun, menurut Ustadz Faris Baswedan, kritik ilmiah semestinya berjalan dua arah.
Ketika kritik dijawab dengan argumentasi yang rinci dan berbasis literatur, maka adab keilmuan menuntut adanya tanggapan balik, bukan diam.
“Menolak Lupa”: Catatan atas Kritik yang Tak Dijawab
“Menolak Lupa”: Catatan atas Kritik yang Tak Dijawab
Dalam pernyataannya, Ustadz Faris menegaskan bahwa ia kembali merespons kritik terbaru, namun dengan satu penekanan penting:
Jawaban video yang sebelumnya disampaikan, yang secara khusus membahas pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, ulama Hanabilah, serta pandangan empat mazhab, tidak pernah dijawab sama sekali.
Sayang sekali,
demikian inti kegelisahan yang disampaikan,
diskursus yang dibangun dengan serius justru seolah dianggap angin lalu setelah argumen disampaikan.
Sikap “menolak lupa” ini bukanlah bentuk emosi, apalagi serangan personal.
Ia adalah pengingat etis bahwa kritik yang dilemparkan ke ruang publik membawa konsekuensi untuk berdialog hingga tuntas, bukan berhenti di tengah jalan.
Adab Ilmiah: Mengkritik dan Siap Dikritik
Adab Ilmiah: Mengkritik dan Siap Dikritik
Menariknya, Ustadz Faris tidak memosisikan diri sebagai pihak yang paling benar.
Dengan bahasa yang tenang dan beradab, ia justru menegaskan rasa hormat dan cinta kepada Ustadz Ahmad Ubaidillah.
Ini menunjukkan satu pesan penting: keras dalam argumen, lembut dalam akhlak.
Menurut Ustadz Faris, budaya kritik dan menerima kritik adalah tradisi emas dalam khazanah keilmuan Islam.
Para ulama terdahulu berdebat dengan tajam, tetapi tetap menjaga adab, konsistensi, dan keberanian menjawab dalil dengan dalil.
Namun, budaya ini akan timpang jika kritik hanya disampaikan sepihak, sementara jawaban yang tidak sejalan justru diabaikan.
Konsistensi Ilmiah dan Tanggung Jawab kepada Umat
Dalam konteks dakwah digital hari ini, di mana ceramah, potongan video, dan kritik cepat menyebar luas, sikap konsisten menjadi jauh lebih penting.
Umat bukan hanya membutuhkan suara lantang, tetapi juga keteladanan ilmiah.
Ustadz Faris Baswedan menempatkan persoalan ini sebagai tanggung jawab moral:
Ustadz Faris Baswedan menempatkan persoalan ini sebagai tanggung jawab moral:
Jika sebuah pendapat disampaikan ke publik dan dikritik, lalu kritik itu dijawab dengan argumen yang jelas, maka meninggalkan jawaban tersebut tanpa respon lanjutan justru berpotensi membingungkan umat.
Di sinilah letak urgensi tagihan jawaban itu, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyempurnakan diskursus.
Diskursus, Bukan Duel
Yang patut digarisbawahi, Ustadz Faris tidak mengajak pada polemik tak berujung.
Ia justru menginginkan diskusi yang jernih, terbuka, dan berkesinambungan.
Perbedaan pendapat adalah keniscayaan, tetapi lari dari kritik yang telah diajukan sendiri bukanlah tradisi ilmiah yang sehat.
Seruan ini sekaligus menjadi refleksi bagi para dai dan penuntut ilmu: bahwa kejujuran intelektual bukan hanya diukur dari keberanian mengkritik, tetapi juga dari kelapangan dada menjawab kritik balik.
Penutup: Uhibbukum Fillah
Seruan ini sekaligus menjadi refleksi bagi para dai dan penuntut ilmu: bahwa kejujuran intelektual bukan hanya diukur dari keberanian mengkritik, tetapi juga dari kelapangan dada menjawab kritik balik.
Penutup: Uhibbukum Fillah
Pernyataan Ustadz Faris Baswedan ditutup dengan kalimat yang sarat makna:
“Uhibbukum fillah.” Sebuah penegasan bahwa perbedaan pandangan tidak harus merusak ukhuwah, dan kritik tajam tidak harus menghapus rasa cinta karena Allah.
Di tengah riuhnya perdebatan keagamaan, sikap inilah yang justru langka dan berharga:
Kuat dalam prinsip, konsisten dalam argumen, dan lembut dalam adab.
(as)
#MenolakLupa #FarisBaswedan #DiskursusIlmiah #AdabIkhtilaf #MalikAdDar #EdukasiUmat #UhibbukumFillah

