Fatahillah313, Jaakarta - Dalam lintasan sejarah penyimpangan keagamaan di Indonesia, ada satu pola yang nyaris selalu berulang.
Wajahnya bisa berganti.
Tokohnya berbeda.
Jargon dan istilahnya dimodifikasi agar tampak segar.
Namun kerangka berpikirnya nyaris identik.
Kasus Lia Eden dengan Komunitas Eden/Salamullah di masa lalu, dan fenomena Imad bin Sarman beserta kelompok PWI-LS hari ini, memperlihatkan kesamaan yang mencolok, baik dalam klaim kebenaran, sikap terhadap otoritas ulama, hingga penolakan terhadap ijma’ dan konsensus keilmuan Islam dunia.
Perbedaannya hanya satu:
Kasus Lia Eden dengan Komunitas Eden/Salamullah di masa lalu, dan fenomena Imad bin Sarman beserta kelompok PWI-LS hari ini, memperlihatkan kesamaan yang mencolok, baik dalam klaim kebenaran, sikap terhadap otoritas ulama, hingga penolakan terhadap ijma’ dan konsensus keilmuan Islam dunia.
Perbedaannya hanya satu:
Lia Eden telah wafat pada 9 April 2021, dan penyimpangan berhenti bersama kematiannya.Sementara Imad dan kelompoknya masih berjalan.
Pertanyaannya kemudian menjadi sah dan mendesak:
Akan berhenti kapan?
1. Merasa Paling Benar Sendiri: Akar Setiap Penyimpangan
Ciri paling fundamental dari setiap aliran sesat bukanlah semata-mata ajaran baru, melainkan apa yang oleh para ulama disebut sebagai kesombongan epistemik:
Merasa paling benar, paling lurus, paling jujur, sambil menafikan seluruh pihak lain.
Lia Eden secara terbuka menyatakan:
Yang benar adalah agama Salamullah, bukan Islam dan lainnya.
Dengan satu kalimat itu, ia sekaligus menolak:
- Seluruh ulama sedunia
- Seluruh mazhab Islam
- Seluruh lembaga keagamaan resmi
Saya haqqul yakin.Pola serupa muncul dalam klaim Imad bin Sarman dan PWI-LS, meski wilayahnya berbeda, yakni soal nasab:
Yang cucu Nabi Muhammad SAW adalah Sayyid Syarif Abbas Buntet, Sayyid Zulfikar, dan kelompok kami, bukan Ba‘alawi.
Padahal fakta ilmiah menunjukkan:
- Naqobah Asyraf sedunia mengakui nasab Ba‘alawi
- Ulama nasab lintas mazhab dan negara menetapkannya
- Kitab-kitab nasab klasik mencatatnya secara berlapis
Namun kesimpulan akhirnya sama:
Saya haqqul yakin.
Kesamaan mutlak di antara keduanya:
Klaim kebenaran tunggal berbasis keyakinan personal, bukan metodologi ilmiah.
2. Menolak Otoritas Keilmuan: Ketika Ilmu Menjadi Musuh
Setiap aliran sesat selalu memiliki satu musuh bersama:
Otoritas keilmuan.
Mengapa?
Karena otoritas ilmiah membatasi klaim liar.
Lia Eden menolak:
- Majelis Ulama Indonesia
- Ulama internasional
- Tradisi keilmuan Islam selama 14 abad
Sementara Imad PWI-LS menolak:
- Ahli nasab lintas negara
- Naqobah Asyraf dunia
- Ijma’ ulama nasab
- Metodologi ilmu nasab klasik
Ironisnya, penolakan itu bukan karena mereka memiliki metodologi yang lebih kuat, melainkan karena metodologi ilmiah justru membantah klaim mereka.
Ketika ilmu tidak tunduk pada klaim, maka:
yang diserang bukan argumennya, melainkan ilmunya.
3. Ijma’ Ulama Dianggap Tidak Berlaku
Dalam Islam, ijma’ bukan sekadar pendapat mayoritas, ia adalah hujjah.
Menolaknya berarti merobohkan fondasi keilmuan Islam itu sendiri.
Padahal kaidah ushul fikih telah lama menegaskan:
Namun bagi dua fenomena ini, logikanya dibalik:
- Lia Eden menolak ijma’ tentang Islam sebagai agama terakhir.
- Imad PWI-LS menolak ijma’ tentang validitas nasab Ba‘alawi.
Padahal kaidah ushul fikih telah lama menegaskan:
Pendapat pribadi gugur ketika bertentangan dengan ijma’.
Namun bagi dua fenomena ini, logikanya dibalik:
- Ijma’ dianggap salah
- Pendapat pribadi dianggap mutlak benar
- Inilah logika khas aliran sesat yang selalu berulang dalam sejarah.
4. Klaim Absolut Tanpa Mekanisme
Koreksi Ilmu pengetahuan hidup dari:
- Sanad
- Metode verifikasi
- Koreksi sejawat
- Konsensus keilmuan
Sebaliknya, Lia Eden dan Imad PWI-LS menunjukkan pola yang sama:
- Tidak mau dikoreksi
- Tidak tunduk pada forum ilmiah
- Tidak siap diuji secara terbuka
- Menyebut kritik sebagai “kedengkian”, “rekayasa”, atau “konspirasi”
Ia adalah fanatisme yang dibungkus jargon intelektual.
5. Sejarah Berbicara: Lia Eden Baru Berhenti
Saat Wafat Sejarah mencatat fakta pahit yang tak terbantahkan:
Lia Eden tidak pernah bertobat.Ia baru berhenti ketika wafat pada 9 April 2021.
Semua nasihat dari:
- Ulama
- Akademisi
- Aparat
- Tokoh masyarakat
Maka pertanyaan yang wajar dan sah diajukan hari ini adalah:
Apakah Imad akan mengikuti jejak yang sama?
Belajar dari Sejarah, Bukan Mengulanginya
Artikel ini bukan seruan kebencian, melainkan peringatan intelektual dan keagamaan.
Sejarah menunjukkan pola yang konsisten:
Islam tidak dibangun di atas kalimat “saya yakin”, melainkan di atas ilmu, sanad, ijma’, dan amanah keilmuan.
(as)
Sejarah menunjukkan pola yang konsisten:
- Setiap aliran sesat selalu bermula dari klaim “kami paling benar”
- Selalu menolak ulama
- Selalu menolak ijma’
- Dan selalu berakhir pada kehancuran moral serta intelektual
Islam tidak dibangun di atas kalimat “saya yakin”, melainkan di atas ilmu, sanad, ijma’, dan amanah keilmuan.
Jika seluruh ulama sedunia dianggap salah dan hanya satu kelompok yang benar, maka yang patut dipertanyakan bukanlah ulama sedunia, tetapi kelompok itu sendiri.
(as)
#LiaEden #ImadPWI_LS #AliranSesat #IjmaUlama #KritikKeilmuan #NasabBaalawi #SejarahBerulang #IslamDanIlmu


