Fatahillah313, Davos, Swiss - Di ruang konferensi berkarpet tebal World Economic Forum (WEF) pada 27 Januari 2026, peta berwarna-warni dan visual futuristik berbasis AI dipresentasikan dengan penuh percaya diri.
Di hadapan para investor global dan elite politik dunia, Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat senior Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memperkenalkan sebuah visi besar: rekonstruksi Gaza menjadi pusat ekonomi dan pariwisata global.
Nama proyek itu terdengar manis:
Nama proyek itu terdengar manis:
The New Gaza.Namun bagi banyak pihak, ia terasa getir, bahkan menyakitkan.
Gaza sebagai “Lahan Kosong”: Awal dari Sebuah Kekeliruan
Moral Dalam paparan tersebut, Gaza digambarkan seolah-olah sebidang lahan kosong di tepi laut Mediterania, siap dibangun ulang menjadi kota modern dengan gedung pencakar langit, pusat teknologi, kawasan wisata pantai, taman olahraga, hingga bandara internasional baru.
Targetnya jelas:
Menjadikan Gaza “Dubai berikutnya” atau bahkan “Las Vegas Timur Tengah”.
Masalahnya, Gaza bukan tanah kosong. Ia adalah rumah. Ia adalah memori.
Ia adalah kuburan massal.
Ia adalah jerit anak-anak, doa ibu-ibu, dan sisa-sisa kehidupan yang hancur oleh bombardir bertahun-tahun Israel.
Menggambarkan Gaza sebagai kanvas kosong adalah bentuk penghapusan paling telanjang atas sejarah, penderitaan, dan hak hidup rakyat Palestina.
Siapa di Balik Proyek Ini?
Menggambarkan Gaza sebagai kanvas kosong adalah bentuk penghapusan paling telanjang atas sejarah, penderitaan, dan hak hidup rakyat Palestina.
Siapa di Balik Proyek Ini?
Rencana ini disebut digagas oleh Donald Trump bersama sebuah badan bernama Board of Peace.
Jared Kushner tampil sebagai wajah utama proyek, meneruskan jejak panjangnya dalam “rekayasa perdamaian” ala Trump, yang sebelumnya melahirkan Abraham Accords, kesepakatan yang menguntungkan Israel namun mengorbankan posisi politik Palestina.
Tak ada perwakilan Palestina dalam perencanaan.Tak ada suara warga Gaza dalam pengambilan keputusan.
Semuanya diputuskan dari jauh, di ruang steril Davos, oleh mereka yang tak pernah hidup di bawah blokade.
Kapan dan Di Mana? Davos Menentukan Nasib Gaza
Kapan dan Di Mana? Davos Menentukan Nasib Gaza
Dipaparkan pada 27 Januari 2026 di Davos, simbol kapitalisme global, rencana ini hendak diterapkan di Jalur Gaza, wilayah kecil yang selama puluhan tahun hidup di bawah pendudukan, blokade, dan serangan militer Israel.
Ironinya mencolok:
Ironinya mencolok:
Masa depan Gaza dibahas di tempat paling eksklusif di dunia, sementara rakyat Gaza sendiri bahkan kesulitan mendapatkan air bersih dan listrik.
Alasan Resmi: Rekonstruksi dan Investasi Alasan Tersembunyi: Normalisasi Penjajahan
Secara resmi, proyek ini diklaim bertujuan memulihkan Gaza pascaperang, mendatangkan investasi asing, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
Namun banyak pengamat melihat motif yang jauh lebih gelap:
Inilah wajah lama kolonialisme, dibungkus bahasa baru:
Namun banyak pengamat melihat motif yang jauh lebih gelap:
- Menormalkan kehancuran Gaza seolah-olah itu peluang bisnis.
- Menghapus konteks penjajahan Israel, menggantinya dengan narasi “pembangunan”.
- Mengalihkan isu ke ekonomi, agar dunia lupa bahwa akar masalah Gaza adalah pendudukan dan apartheid.
Inilah wajah lama kolonialisme, dibungkus bahasa baru:
Development, investment, tourism.
“Vegas-ification of Gaza”: Ketika Luka Dijadikan Atraksi
Seorang profesor arsitektur menyebut proyek ini sebagai “Vegas-ification of Gaza”, sebuah transformasi brutal yang mengubah wilayah penderitaan menjadi kota hiburan global, tanpa mempertahankan komunitas lokal, identitas budaya, dan sejarah perlawanan Palestina.
Bayangkan:
Bayangkan:
- Hotel mewah berdiri di atas reruntuhan rumah.
- Kasino dan pantai wisata menggantikan masjid dan sekolah yang hancur.
- Investor asing bersulang, sementara pemilik tanah asli terusir.
Apakah ini rekonstruksi?Atau gentrifikasi kolonial?
Trump, Israel, dan Bisnis di Atas Darah
Tak bisa dilepaskan, proyek ini berdiri di atas dukungan penuh Donald Trump terhadap Israel, dari pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel hingga pembiaran agresi militer brutal terhadap Gaza.
Ketika Israel menghancurkan, Trump dan kroninya datang menawarkan “solusi” berupa resort, gedung tinggi, dan zona wisata.
Hancurkan dulu, bangun kemudian. Itu bukan perdamaian. Itu bisnis.
Gaza Tidak Butuh Las Vegas. Gaza Butuh Keadilan.
Ketika Israel menghancurkan, Trump dan kroninya datang menawarkan “solusi” berupa resort, gedung tinggi, dan zona wisata.
Hancurkan dulu, bangun kemudian. Itu bukan perdamaian. Itu bisnis.
Gaza Tidak Butuh Las Vegas. Gaza Butuh Keadilan.
Tanpa penghentian pendudukan Israel, tanpa pengakuan hak-hak Palestina, tanpa kedaulatan sejati—tak ada proyek apa pun yang akan membawa perdamaian ke Gaza.
Pembangunan tanpa keadilan hanyalah ilusi. Investasi tanpa partisipasi rakyat adalah penindasan versi baru.
Pembangunan tanpa keadilan hanyalah ilusi. Investasi tanpa partisipasi rakyat adalah penindasan versi baru.
Gaza tidak membutuhkan Trump.Gaza tidak membutuhkan Israel.Gaza membutuhkan kemerdekaan.
Dari Davos ke Nurani Kita
Sementara para elit berdiskusi di Swiss, rakyat Gaza terus bertahan dengan apa yang tersisa. Mereka mengorbankan hidupnya untuk agama dan tanahnya.
Setiap rupiah yang dititipkan adalah amanah mulia.Ia menjadi saksi bahwa umat tidak meninggalkan keluarga para pejuang dakwah sendirian.
📌 Masyarakat GAZA mengorbankan hidupnya untuk agama ini.
Kini giliran kita menjaga keluarga yang mereka tinggalkan.
📌 Salurkan Donasi Terbaik Anda
Donasi untuk Proyek Kemanusiaan Gaza
🏦 BSI (Bank Syariah Indonesia)
🏦 BSI (Bank Syariah Indonesia)
📋 7900200913 a.n Persaudaraan Cinta Al-Aqsha
📞 Konfirmasi & info lebih lanjut:
📞 Konfirmasi & info lebih lanjut:
👉 wa.me/6281260602129
(as)
(as)
#GazaBukanLahanKosong #TolakVegasifikasiGaza #FreePalestine #AntiIsrael #AntiTrump #GazaUnderAttack #StopColonialCapitalism #SaveGaza


