Ngeri-Ngeri Sedap: Makin Banyak Orang Menyangsikan Ijazah Jokowi
Ada kalanya sebuah isu politik berubah wujud menjadi obrolan receh, tapi justru di situlah ia menjadi paling berbahaya.
Ia tak lagi hidup di ruang akademik atau forum hukum, melainkan menyusup ke percakapan ringan, candaan alumni, bahkan basa-basi orang yang baru kenal.
Isu ijazah Presiden Joko Widodo kini berada di fase itu:
Ngeri-ngeri sedap, menggelitik, tapi pelan-pelan menggerogoti legitimasi.
Monolog Okky Madasari berikut, yang ditujukan dengan nada roasting kepada Zainal Arifin Muchtar, bukan sekadar lelucon.
Ia adalah potret bagaimana isu ini telah merembes ke ruang sosial paling banal, sekaligus menjadi cermin kegamangan publik terhadap institusi, simbol, dan otoritas akademik.
Santai, santai.Kalimat pembuka ini terdengar ringan.
Saya UGM ya teman-teman.
Tidak defensif.
Bahkan nyaris santai.
Tapi justru di situlah jebakannya.
Identitas sebagai alumni UGM kini bukan lagi sekadar latar belakang pendidikan, ia telah berubah menjadi posisi sosial yang harus siap diuji.
Sekarang ini ada situasi,Isu ini tidak lokal. Ia lintas ruang.
kalau kita lagi di luar negeri atau dimanapun, di kota dimanapun.
Lintas kota.
Lintas negara.
Alumni UGM membawa “beban simbolik” itu ke mana pun mereka pergi.
Percakapan normal.
Oh mbak, lulusan UGM ya?
Iya. Mas juga UGM? Iya.
Percakapan normal.
Biasa. Basa-basi khas orang Indonesia yang menemukan kesamaan almamater.
Tapi jangan senang dulu.
Di sinilah klimaksnya.
Satu kalimat.
Lalu beberapa menit kemudian obrolannya langsung berubah.
Di sinilah klimaksnya.
Jadi ijazahnya asli atau enggak?
Satu kalimat.
Tapi efeknya brutal.
Pertanyaan ini tidak lagi ditujukan pada Jokowi semata, ia memantul ke seluruh alumni.
Atau itu?Keraguan bahkan tak perlu dirumuskan dengan lengkap.
Cukup isyarat.
Semua paham maksudnya.
Jadi pertanyaan tentang ijazah ituIronis. Yang menyatukan bukan prestasi, bukan kebanggaan akademik, tapi kecurigaan.
sudah menyatukan
seluruh alumni UGM
dimanapun kami berada sekarang.
Sebuah isu administratif berubah menjadi identitas kolektif.
Lalu muncul sosok yang disebut dengan nada setengah satir, setengah serius.
Lalu muncul sosok yang disebut dengan nada setengah satir, setengah serius.
Nah sekarang,Uceng, sapaan populer untuk Zainal Arifin Muchtar, diletakkan sebagai figur otoritas.
dengan keberadaan Uceng sebagai guru besar
kita bisa tanyakan saja
pada Uceng.
Guru besar.
Ahli hukum.
Penjaga rasionalitas.
Tapi justru di sinilah roasting itu bekerja.
Pertanyaannya sederhana, nyaris administratif.
Apakah
kertasnya itu betul?
Apakah fotonya yang bersangkutan itu
secara hukum sudah benar?
Pertanyaannya sederhana, nyaris administratif.
Tapi implikasinya menghantam langsung jantung kredibilitas institusi.
Pernyataan ini tajam.
Jadi UGM
dengan segala kontroversinya,
saya bisa mengatakan
UGM kampus paling kontroversial
di Indonesia hari ini.
Pernyataan ini tajam.
Tidak bertele-tele.
UGM, yang selama puluhan tahun menjadi simbol keunggulan akademik, kini dilabeli “paling kontroversial”.
Bukan karena riset.
Paling banyak dibicarakan hari ini.
Bukan karena riset.
Bukan karena inovasi.
Tapi karena ijazah.
Sindiran ini kejam sekaligus lucu.
Bahkan saking bangganya mungkin
pada UGM ketika ada wakil
gubernur Bangka Belitung jadi
tersangka kasus ijazah palsu.
Sindiran ini kejam sekaligus lucu.
Realitas absurd yang hanya mungkin terjadi ketika standar moral dan administratif sudah terbalik.
Sarkasme netizen menjadi penutup yang telak.
Tertawa?
Netizen pada bilang,
bu, makanya kuliahnya di UGM.
Sarkasme netizen menjadi penutup yang telak.
Aman,
nggak akan jadi tersangka.
Tertawa?
Bisa. Tapi ini tawa getir.
Karena di balik kelakar itu ada pertanyaan serius:
Bagaimana mungkin isu ijazah, dokumen paling dasar dalam sistem pendidikan, menjadi bahan guyon nasional tanpa pernah benar-benar diselesaikan secara tuntas dan meyakinkan?
Monolog ini bukan sekadar roasting personal kepada Zainal Arifin Muchtar.
Ia adalah kritik sosial terhadap cara negara, kampus, dan elite intelektual mengelola kepercayaan publik.
Ketika klarifikasi kalah cepat dari meme, dan institusi kalah nyaring dari candaan, yang tersisa hanyalah ngeri-ngeri sedap, enak ditertawakan, tapi pelan-pelan merusak fondasi.
(as)
(as)
#IjazahJokowi #UGM #OkkiMadasari #ZainalArifinMuchtar #RoastingIntelektual #KontroversiUGM #NgeriNgeriSedap #PolitikDokumen #KepercayaanPublik


