Ketika Lawakan Kebablasan: Respons IB-HRS atas Komika Pandji Pragiwaksono "kritik boleh, menista agama jangan"


Fatahillah313, Jakarta - Beberapa hari terakhir, ruang publik Indonesia kembali riuh. 
Bukan semata karena kritik sosial, yang sejatinya sehat dan perlu, melainkan karena satu garis tipis yang dilangkahi: 
Agama dijadikan bahan olok-olok dalam panggung lawak. 
Nama komika Pandji Pragiwaksono mencuat, bukan karena kritiknya terhadap kekuasaan, melainkan karena potongan materi yang dianggap mengolok-olok shalat, salah satu syiar paling sakral dalam Islam.

Di sinilah Habib Rizieq Syihab (HRS) mengambil posisi yang tegas, tetapi, dan ini penting, proporsional. 
Dalam ceramahnya, HRS memulai dari titik yang sering diabaikan: 
Kritik boleh, bahkan perlu. 
Kritik terhadap pemerintah, pejabat, atau kebijakan publik adalah bagian dari amar makruf dalam ruang demokrasi. “Kritiknya bagus, lanjutkan, teruskan,” tegasnya. 
Ia bahkan menolak kriminalisasi atas kritik. 
Namun, ada batas suci yang tidak boleh dilintasi.


Kritik Boleh, Menghina Agama Jangan 

Masalah bermula ketika komedi menyentuh shalat. 
Dalam materi yang dipersoalkan, muncul candaan soal pemimpin yang “shalatnya borongan” dan sindiran yang berujung pada relativisasi fungsi shalat sebagai benteng dari kemungkaran. 
Penonton tertawa. 
Tetapi bagi umat beriman, tawa itu terasa pahit.

HRS mengurai persoalan ini dengan bahasa ceramah yang lugas: 
Shalat adalah syiar Allah. 
Ia bukan sekadar ritual individual, melainkan simbol ketaatan yang dimuliakan. 
Benar, realitas sosial menunjukkan ada orang shalat namun tetap korup, dan ada pula yang tak shalat tapi tampak berbuat baik. 
Namun menjadikan fakta sosial itu untuk menertawakan atau meremehkan shalat berarti menggeser posisi wahyu ke panggung humor. 
Di titik itulah masalahnya
Kalau orang Islam diwajibkan memilih pemimpin yang shalat, itu ajaran Islam. Haram menghina ajaran Islam,
ujar HRS. 

Pesannya jelas: 
Kritik boleh diarahkan ke perilaku manusia, bukan ke prinsip ibadahnya.


Memuliakan Syiar Allah: Batas Etik yang Tegas 

Dalam ceramah panjangnya, HRS mengajak jamaah kembali pada fondasi teologis: 
memuliakan syiar Allah.
Ia menjelaskan bahwa syiar mencakup segala hal yang dimuliakan Allah, waktu, tempat, ibadah, kitab suci, para nabi, hingga hukum-hukum agama. 
Shalat, puasa, zakat, haji, semuanya adalah syiar.

Al-Qur’an menegaskan larangan melanggar dan merendahkan syiar (QS. Al-Ma’idah: 2), sekaligus memerintahkan untuk mengagungkannya (QS. Al-Hajj: 32). 
Mengagungkan syiar adalah tanda ketakwaan hati. 
Sebaliknya, merendahkannya, apalagi dengan candaan, bukan perkara sepele.

HRS kemudian membawa jamaah pada ayat yang kerap menjadi rujukan utama dalam isu ini: 
QS. At-Taubah ayat 64–66. 
Ayat ini mengecam mereka yang menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya sebagai bahan olok-olok, meskipun dalihnya “cuma bercanda”. 
Pesan ayat itu keras: 
Tidak ada alasan bercanda dalam penghinaan agama.

يَحْذَرُ الْمُنٰفِقُوْنَ اَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُوْرَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلِ اسْتَهْزِءُوْاۚ اِنَّ اللّٰهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُوْنَ ۝٦٤

Orang-orang munafik khawatir jika diturunkan suatu surah yang mengungkapkan apa yang ada dalam hati mereka. 
Katakanlah (kepada mereka), “Olok-oloklah (Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman sesukamu). 
Sesungguhnya Allah pasti akan menampakkan apa yang kamu khawatirkan itu.”

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ ۝٦٥

Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, mereka pasti akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.
” Katakanlah, “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”


لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْۗ اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَࣖ ۝٦٦
Tidak perlu kamu membuat-buat alasan karena kamu telah kufur sesudah beriman. 
Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain), karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa.


Seruan yang Tegas, Bukan Amarah 

Penting dicatat, nada HRS bukan ajakan main hakim sendiri. 
Ia menolak penangkapan karena kritik. 
Ia juga menegaskan bahwa proses hukum, jika ada, harus melalui negara dan pengadilan. 
Namun secara moral dan keagamaan, ia menuntut satu hal: tanggung jawab etis.

Teruskan komedimu, teruskan kritikmu, saya dukung. 
Tapi jangan sekali-kali menistakan agama,
katanya. 
Ia meminta permohonan maaf, bukan pembungkaman. 
Ia mengingatkan agar materi yang menyinggung shalat, termasuk yang terekam di platform global, ditinjau ulang.

Ini bukan soal alergi terhadap humor. 
Ini soal adab. 
Agama bukan anti-tawa, tetapi menolak dijadikan bahan ejekan. 
Banyak bahan humor di dunia ini; mengapa harus shalat?


Menjaga Demokrasi, Merawat Kesucian 

Kasus ini membuka cermin besar bagi kita semua: demokrasi membutuhkan kritik, tetapi iman membutuhkan adab. 
Keduanya bisa berjalan seiring jika batasnya dijaga. 
Komedi yang cerdas mengkritik kekuasaan tanpa merendahkan keyakinan. 
Umat beriman yang dewasa menyampaikan keberatan tanpa kekerasan.

Di ujung ceramahnya, HRS mengingatkan agar setiap Muslim menjaga lisan dan perilaku. 
Bercanda boleh, tetapi jangan bercanda tentang Allah, Nabi, Al-Qur’an, dan kewajiban ibadah. 
Itu bukan sekadar etika sosial; itu perintah iman.

Perdebatan mungkin akan terus bergulir. 
Namun satu pelajaran penting patut kita rawat bersama: 
kebebasan berekspresi menemukan maknanya ketika ia berjalan seiring dengan tanggung jawab akhlak. 
Di situlah demokrasi bertemu adab, dan kritik bertemu iman.


(as)
#SyiarAllah #AdabDalamBerkritik #ShalatBukanCandaan #HabibRizieq #PandjiPragiwaksono #KritikTanpaMenista #DemokrasiBeradab