Fatahillah313, Jakarta - Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa jika sebuah bangsa dipimpin oleh orang-orang yang rusak, itu karena rakyatnya juga demikian? Narasi ini sering diulang hingga terdengar seperti sebuah kebenaran universal yang bijak. Namun, di balik kemasan yang mulia itu, narasi ini sejatinya adalah propaganda usang yang sengaja dimainkan untuk menutupi kebobrokan para elite kekuasaan.
Faktanya, cerminan itu tidak bekerja dua arah. Justru sebaliknya: rakyatlah yang meniru pemimpinnya.
Membongkar Mitos: Logika Terbalik yang Sengaja Diciptakan
Rakyat tidak memiliki kuasa untuk membuat undang-undang, menegakkan hukum, atau memberikan contoh teladan dalam skala nasional. Yang mereka lihat setiap hari adalah bagaimana para pemimpin hidup, bagaimana mereka mengelola amanah, dan bagaimana figur-figur panutan bersikap di hadapan kekuasaan.
- Ketika pemimpin amanah, jujur, dan adil, masyarakat akan terdorong untuk mencontohnya.
- Sebaliknya, saat pemimpin rakus, curang, dan menganggap jabatan sebagai ladang untuk merampok, jangan salahkan rakyat jika perilaku serupa menular ke akar rumput.
Kerusakan tidak merangkak naik dari bawah, melainkan turun dari atas.
Hal ini dipertegas oleh sabda Rasulullah ﷺ:
صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلَحَا صَلَحَ النَّاسُ ، وَإِذَا فَسَدَا فَسَدَ النَّاسُ : الأُمَرَاءُ وَالْعُلَمَاءُ
"Dua golongan dari umatku, apabila keduanya baik maka manusia akan baik. Jika keduanya rusak maka manusia akan rusak: para pemimpin dan para ulama." (HR. al-Baihaqi)Hadis ini dengan gamblang menjelaskan bahwa kerusakan umat tidak dimulai dari rakyat kecil, melainkan dari para elite politik dan ulama yang menyimpang.
Bukti dari Al-Qur'an dan Ijma' Ulama
Al-Qur'an menguatkan pandangan ini. Dalam surah Al-Ahzab ayat 67-68, Allah ﷻ mengisahkan penyesalan rakyat di akhirat yang hanya menjadi pengikut setia para pemimpin mereka:
وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠ رَبَّنَآ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَيۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنًا كَبِيرًا
"Dan mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, sungguh kami telah menaati para pembesar dan pemimpin-pemimpin kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.'"Ayat ini secara eksplisit membedakan antara pemimpin politik (sadah) dan pemimpin spiritual (kubara’) sebagai pihak yang menyesatkan, sementara rakyat hanya menjadi pengekor. Tidak mengherankan jika di akhirat kelak, rakyat akan memohon agar para pemimpin zalim itu mendapatkan hukuman berlipat ganda.
Para ulama besar sepanjang sejarah juga menegaskan kebenaran ini:
- Imam al-Ghazali: "Kerusakan rakyat itu karena kerusakan para pemimpin, dan kerusakan para pemimpin itu karena kerusakan para ulama."
- Ibnu Taimiyah: "Sungguh dalam kebaikan para pemimpin terdapat kebaikan hamba dan negeri, dan dalam kerusakan mereka terdapat pula kerusakan bagi hamba dan negeri."
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: "Sungguh yang merusak atau memperbaikinya adalah para penguasa."
Jika Al-Qur'an, Hadis, dan para ulama sepakat bahwa kerusakan datang dari atas, maka propaganda "rakyat rusak menghasilkan pemimpin rusak" hanyalah dalih murahan yang disebarkan oleh para penjilat untuk menutupi kejahatan penguasa yang lalim.
Memilih Pemimpin: Kewajiban dan Ibadah yang Sangat Penting
وإنما يفسد الرعية ويصلحها الولاة
"Sesungguhnya yang merusak rakyat atau memperbaikinya adalah para penguasa." — Ibnu Qayyim al-JauziyyahJika kerusakan berawal dari atas, maka perbaikan juga harus dimulai dari sana. Oleh karena itu, memilih pemimpin bukanlah sekadar hak, melainkan kewajiban dan ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Hadis dari Abdullah bin Abbas r.a. memperingatkan kita dengan sangat tegas:
من حديث عبد الله بن عباس رض الله عنهما
ولفظ الطبراني : ( مَنْ تَوَلَّى مِنْ أُمَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ شَيْئًا فَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ فِيهِمْ مَنْ هُوَ أَوْلَى بِذَلِكَ وَأَعْلَمُ مِنْهُ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ، فَقَدْ خَانَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَجَمِيعَ الْمُؤْمِنِينَ ).
رواه الحاكم في مستدركه (4/ 104) ، والطبراني في " المعجم الكبير " (11/ 114)
"Barangsiapa yang mengangkat salah satu pemimpin umat Islam sebagai penguasa, padahal ia mengetahui bahwa di antara mereka ada yang lebih berhak, lebih mengetahui Kitab Allah ﷻ dan Sunnah Rasul-Nya, maka ia telah berkhianat kepada Allah ﷻ, Rasul-Nya, dan seluruh orang yang beriman."
Pelajaran penting dari hadis ini adalah:
Pilih yang Terbaik, Bukan yang Terpopuler: Islam memerintahkan kita memilih yang terbaik, bukan berdasarkan selera atau imbalan.
Haram Memilih Pemimpin yang Merusak: Dasar-dasar kepemimpinan dalam Islam sangat jelas: jangan pernah mengangkat pemimpin dari kalangan yang tidak beriman atau menjadikan agama sebagai bahan ejekan.
Memilih pemimpin yang berkualitas, amanah, dan berintegritas adalah langkah awal untuk memperbaiki sebuah bangsa. Pilihan kita akan menentukan masa depan negeri dan nasib kita di akhirat.
قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
"Katakanlah kebenaran meskipun itu pahit."
Semoga artikel ini mencerahkan dan mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam setiap pilihan, demi masa depan yang lebih baik.
Barakallahu fiikum.
Selamat beraktivitas!
OLEH: Ust. Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani
Semoga artikel ini mencerahkan dan mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam setiap pilihan, demi masa depan yang lebih baik.
Barakallahu fiikum.
Selamat beraktivitas!
OLEH: Ust. Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani
#PemimpinAmanah #CerminanRakyat #KepemimpinanIslam #Pemilu2024 (Jika relevan dengan konteks waktu) #PilihPemimpin #Korupsi #PolitikIndonesia #EtikaPemimpin #DakwahDigital #Ulama #Amanah #Hadist


