Drama Silfester: Sakit Beneran atau Akal-akalan untuk Hindari Proses Hukum?

Fatahillah313, Jakarta — Nama Silfester Matutina kembali memenuhi pemberitaan, bukan karena klarifikasi hukum yang jelas, melainkan alasan sakit yang mendadak mencuat. Klaim kesehatan ini langsung mengundang tanda tanya besar: apakah Silfester benar-benar sakit, atau sekadar memainkan strategi klasik untuk mengulur waktu?

Alasan kesehatan memang kerap menjadi “jurus pamungkas” bagi tokoh yang terjerat kasus hukum di Indonesia. Silfester kini masuk dalam daftar panjang pihak yang tiba-tiba mendadak sakit tepat saat proses hukum menuntut kehadirannya. Bagi sebagian publik, pola ini bukanlah hal baru.

Kuasa hukumnya dengan tegas menyampaikan bahwa kondisi Silfester tidak memungkinkan mengikuti agenda hukum. Surat keterangan dokter pun ditunjukkan untuk memperkuat klaim. Mereka meminta semua pihak menghormati hak klien mereka untuk berobat dan beristirahat.

Namun, narasi ini justru memunculkan keraguan. Sejumlah saksi mata mengungkap bahwa di tengah alasan sakit, Silfester masih sempat terlihat beraktivitas secara terbatas dalam kegiatan non-formal. Fakta ini membuat publik semakin sangsi—apakah benar sakit itu menghalangi jalannya hukum, atau sekadar alasan untuk menunda?

Pengamat hukum menilai, alasan sakit memang sah secara hukum. Namun, jika digunakan berulang kali tanpa verifikasi independen, hal itu berpotensi merusak kredibilitas penegakan hukum. “Kalau sakit benar, harus ada pemeriksaan medis independen. Jangan sampai publik melihat ini hanya sebagai drama,” tegas seorang akademisi.

Kemarahan publik semakin terasa di ruang-ruang diskusi dan media sosial. Banyak yang menuding Silfester hanya sedang mencari celah agar proses hukum mereda seiring waktu. Tidak sedikit pula yang menuntut aparat lebih tegas, karena jika alasan sakit terus-menerus diterima tanpa verifikasi, bukan tidak mungkin kepercayaan terhadap lembaga hukum semakin runtuh.

Bagi masyarakat, kasus ini bukan lagi sekadar perkara seorang Silfester. Lebih dari itu, ini adalah ujian besar bagi aparat penegak hukum: apakah mereka mampu membedakan sakit yang benar-benar darurat medis dengan sakit yang hanya sekadar alasan?

Kini bola panas ada di tangan aparat penegak hukum. Publik menanti, apakah klaim sakit Silfester akan diperiksa secara objektif atau justru dibiarkan menjadi tameng baru untuk mengulur waktu. Pertanyaan besar pun menggantung di udara: Silfester sakit sungguhan, atau hanya sedang memainkan drama hukum untuk menyelamatkan diri?

(as)
#SilfesterMatutina #KasusHukum #DramaHukum #AlasanSakit #KursiRoda #KarikaturPolitik #BreakingNews #Pengadilan #PolemikHukum #PublikBertanya