Ilmu yang tinggi semestinya membuat seseorang semakin beradab, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.Sebab ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan.
Pengetahuan yang luas dapat berubah menjadi alat untuk merasa paling benar.
Bahkan perbedaan dalam persoalan yang sebenarnya berada dalam wilayah furuiyah dan khilafiyah dapat berubah menjadi permusuhan apabila tidak disertai kedewasaan.
Sejarah khazanah Islam justru memperlihatkan banyak teladan bahwa para ulama besar dapat berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Di situlah ilmu benar-benar menunjukkan kemuliaannya.
Sejarah khazanah Islam justru memperlihatkan banyak teladan bahwa para ulama besar dapat berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Di situlah ilmu benar-benar menunjukkan kemuliaannya.
Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah: Berbeda, Tetapi Tidak Bermusuhan
Salah satu kisah yang populer dalam tradisi keilmuan Islam adalah keteladanan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi'i ketika berada di Baghdad dan melaksanakan shalat Subuh di tempat yang dikenal sebagai masjid atau kawasan yang terkait dengan Imam Abu Hanifah.
Dalam kisah yang beredar di kalangan ulama, Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Subuh ketika berada di tempat tersebut.
Kisah itu sering dipahami sebagai gambaran penghormatan seorang imam besar terhadap pendapat imam besar lainnya.
Namun, kisah tersebut sebaiknya tidak dipakai untuk mengklaim bahwa Imam Syafi'i meninggalkan pendapat fikihnya secara permanen.
Yang hendak ditonjolkan adalah adab dalam menghadapi perbedaan.
Inilah pelajaran penting dari tradisi ulama:
Inilah pelajaran penting dari tradisi ulama:
Seseorang boleh mempunyai dalil dan pendirian, tetapi ia tidak harus menjadikan setiap perbedaan sebagai medan pertarungan.
Perbedaan fikih tidak otomatis berarti perbedaan iman.
Perbedaan metode istinbath tidak otomatis berarti permusuhan.
Dan perbedaan amaliyah tidak otomatis menghapus persaudaraan.
Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan: Dua Jalan Gerakan, Satu Persaudaraan
Teladan serupa dapat ditemukan dalam sejarah Indonesia melalui dua tokoh besar:
KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.Keduanya kemudian dikenal melalui organisasi yang memiliki corak pemikiran, tradisi dan metode dakwah yang tidak selalu sama.
Namun hubungan pribadi dan keilmuan keduanya justru memperlihatkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan.
Berbagai sumber mencatat keduanya pernah belajar kepada guru-guru yang sama, termasuk Kiai Sholeh Darat dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Mereka juga dikenal memiliki hubungan persahabatan sejak masa muda.
NU Online juga pernah mengutip penjelasan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bahwa Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari bersahabat serta sejak awal memiliki semangat keindonesiaan dan perjuangan yang sama.
Fakta ini menjadi penting karena dua organisasi yang kemudian berkembang dengan identitas masing-masing ternyata memiliki akar sejarah yang tidak selalu ditandai dengan pertentangan.
Mereka berbeda jalan perjuangan, tetapi tidak berarti harus saling meniadakan.
NU Online juga pernah mengutip penjelasan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bahwa Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari bersahabat serta sejak awal memiliki semangat keindonesiaan dan perjuangan yang sama.
Fakta ini menjadi penting karena dua organisasi yang kemudian berkembang dengan identitas masing-masing ternyata memiliki akar sejarah yang tidak selalu ditandai dengan pertentangan.
Mereka berbeda jalan perjuangan, tetapi tidak berarti harus saling meniadakan.
Inilah adab yang sering hilang ketika pengikut merasa lebih besar daripada tujuan perjuangan gurunya.
Ilmu Semestinya Melahirkan Tawadhu
Semakin luas ilmu seseorang, semakin luas pula kesadarannya bahwa persoalan agama memiliki banyak cabang pembahasan.
Ulama memahami bahwa tidak semua persoalan memiliki satu bentuk pelaksanaan yang tunggal.
Ada persoalan ushul yang menyangkut prinsip-prinsip pokok agama.
Ada pula persoalan furu' yang lahir dari perbedaan pemahaman terhadap dalil, metode istinbath, kondisi, atau tradisi keilmuan.
Karena itu, tidak setiap perbedaan layak dibawa menjadi pertengkaran.
Allah berfirman:
Ketika energi umat habis untuk saling menyerang, kekuatan yang seharusnya digunakan untuk membangun justru terkuras untuk konflik internal.
Karena itu, tidak setiap perbedaan layak dibawa menjadi pertengkaran.
Allah berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَAyat tersebut memberikan peringatan yang sangat kuat mengenai akibat pertikaian.
Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
QS. Al-Anfal: 46.
Ketika energi umat habis untuk saling menyerang, kekuatan yang seharusnya digunakan untuk membangun justru terkuras untuk konflik internal.
Perbedaan Islam Semakin Terlihat di Era Digital
Zaman berubah.
Dahulu seseorang mungkin hanya mengenal tradisi keislaman yang berkembang di lingkungan pesantren, masjid, kampung atau organisasinya.
Sekarang, hanya dengan sebuah telepon genggam, seseorang dapat menyaksikan ceramah ulama dari berbagai negara dalam hitungan detik.
Ia dapat membaca kitab dari mazhab berbeda.
Ia dapat melihat perbedaan pendapat para ustaz.
Ia dapat mengikuti organisasi yang berbeda.
Ia juga dapat menemukan tradisi Islam dari berbagai wilayah dunia.
Keterbukaan informasi sebenarnya dapat menjadi kekayaan intelektual.
Tetapi media sosial mempunyai sisi lain.
Potongan ceramah berdurasi satu menit dapat dilepaskan dari konteksnya.
Perbedaan fikih dapat dipotong menjadi judul provokatif.
Perdebatan antarpendukung tokoh dapat berubah menjadi permusuhan.
Komentar yang semula hanya berbeda pendapat dapat berkembang menjadi penghinaan.
Akibatnya, seseorang kadang mengenal agama bukan melalui keluasan ilmu, tetapi melalui algoritma yang terus menyodorkan materi yang sesuai dengan pandangan kelompoknya.Di sinilah kemampuan menahan diri menjadi semakin penting.
Jangan Mengubah Perbedaan Fikih Menjadi Perang Identitas
Dalam kehidupan umat Islam Indonesia, perbedaan dapat muncul dalam banyak bentuk.
Ada perbedaan mazhab.
Ada perbedaan organisasi.
Ada perbedaan metode dakwah.
Ada perbedaan tradisi masyarakat.
Ada perbedaan pilihan pendidikan.
Bahkan dalam kehidupan sosial dan politik, umat Islam memiliki pilihan yang beragam.
Namun perbedaan tersebut perlu ditempatkan sesuai porsinya.
Jika seseorang sama-sama bersyahadat, mengimani Allah dan Rasul-Nya, meyakini rukun iman, menjalankan rukun Islam dan menunaikan shalat lima waktu, maka janganlah perbedaan cabang yang masih berada dalam ruang ijtihad dijadikan alasan untuk menghapus persaudaraan.Tentu tidak berarti semua perbedaan harus dianggap benar.
Tidak pula berarti seseorang dilarang mengoreksi pendapat yang menurutnya keliru.
Yang diperlukan adalah cara menyampaikan koreksi.
Ada perbedaan antara mengatakan, “Menurut dalil yang saya pahami, pendapat ini kurang kuat,” dengan mengatakan, “Kamu sesat, kamu bodoh, kamu bukan bagian dari Islam.”
Yang pertama adalah diskusi ilmu.
Yang kedua dapat menjadi penghinaan.
Ilmu membutuhkan argumentasi.
Adab membutuhkan pengendalian diri.
Keduanya harus berjalan bersama.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kemuliaan Akhlak
Rasulullah ﷺ tidak hanya datang membawa hukum dan pengetahuan, tetapi juga menyempurnakan akhlak manusia.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِPesan ini menjadi sangat relevan ketika perdebatan agama berlangsung di ruang publik.
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad dan Al-Baihaqi.
Jika seseorang memenangkan perdebatan tetapi kehilangan akhlak, apa yang sebenarnya telah dimenangkannya?
Jika seseorang mampu mengutip puluhan dalil tetapi menghina sesama Muslim, apakah ilmu itu telah menghasilkan buah yang seharusnya?
Dan jika sebuah kelompok merasa paling benar sampai menganggap kelompok lain tidak layak dihormati, apakah semangat dakwah masih berada dalam jalur akhlak Rasulullah ﷺ?Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting untuk direnungkan.
Fanatisme Kelompok dan Bahaya “Merasa Paling Benar”
Fanatisme tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan.
Ia dapat tumbuh perlahan.
Dimulai dari kalimat sederhana:
Kelompok kami yang paling benar.
Kemudian berkembang menjadi:
Pendapat kelompok lain pasti salah.
Lalu meningkat menjadi:
Tokoh kami tidak boleh dikritik.
Pada akhirnya, ukuran kebenaran bukan lagi dalil, melainkan siapa yang mengucapkannya.
Inilah titik ketika ilmu mulai kehilangan fungsinya.
Seseorang tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran.
Padahal seorang penuntut ilmu seharusnya memiliki kerendahan hati untuk mengatakan:
Saya berpendapat demikian berdasarkan ilmu yang saya pahami, tetapi saya tetap mungkin keliru.
Sikap seperti ini bukan kelemahan.
Justru di situlah letak kedewasaan intelektual.
Dari Politik Pecah Belah ke Perpecahan yang Dipelihara Sendiri
Sejarah Indonesia memang mengenal politik divide et impera.
Pemerintah kolonial Belanda menggunakan strategi memecah kekuatan yang lebih besar menjadi kelompok-kelompok yang lebih mudah dikendalikan.
Kajian sejarah yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendokumentasikan divide et impera sebagai strategi politik, militer dan ekonomi kolonial.
Namun persoalan hari ini tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa semua perpecahan merupakan warisan Belanda.
Ada faktor lain yang juga harus diakui:
Namun persoalan hari ini tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa semua perpecahan merupakan warisan Belanda.
Ada faktor lain yang juga harus diakui:
Ego manusia, fanatisme kelompok, kepentingan organisasi, persaingan politik, ekonomi, media sosial, dan kecenderungan mencari informasi yang hanya menguatkan keyakinan sendiri.
Dengan kata lain, dahulu perpecahan dapat dimanfaatkan oleh kekuatan kolonial.
Hari ini, masyarakat bahkan dapat menciptakan perpecahannya sendiri.
Tidak diperlukan lagi penjajah untuk membuat dua kelompok saling membenci apabila masing-masing sudah kehilangan kemampuan menghormati perbedaan.
Inilah tantangan yang jauh lebih dalam.
Setan Tidak Perlu Menang dalam Perdebatan
Ketika dua Muslim bertengkar karena persoalan yang sebenarnya masih berada dalam ruang perbedaan pendapat, energi keduanya habis.
Persaudaraan rusak.
Silaturahmi terputus.
Masjid dapat terbelah.
Keluarga dapat ikut bermusuhan.
Kelompok masyarakat saling curiga.
Sementara persoalan besar umat justru tertinggal.
Karena itu, ungkapan bahwa “setan bergembira ketika umat Islam saling bermusuhan” dapat dipahami sebagai peringatan moral:
Jangan sampai perbedaan yang seharusnya menjadi ruang belajar berubah menjadi sumber kebencian.Allah mengingatkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواPersatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama.
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
QS. Ali 'Imran: 103.
Persatuan berarti perbedaan tidak menghancurkan tujuan bersama.
Ilmu Tinggi, Hati Rendah
Pada akhirnya, ukuran seorang alim bukan hanya berapa banyak kitab yang dibaca, berapa banyak dalil yang dikuasai, atau seberapa kuat argumentasinya dalam sebuah perdebatan.
Ada ukuran lain yang jauh lebih sulit:
Bagaimana ia bersikap kepada orang yang berbeda dengannya.Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah dikenang dalam tradisi keilmuan sebagai dua imam besar dengan khazanah fikih yang luas.
KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari meninggalkan warisan organisasi dan pendidikan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia.
Namun di balik keluasan ilmu tersebut terdapat pelajaran yang tidak kalah penting:
Manusia berilmu tetap harus mampu menghormati manusia berilmu lainnya.
Maka, semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin sedikit alasan untuk bersikap sombong.
Semakin kuat dalil yang kita yakini, semakin baik cara kita menyampaikannya.
Semakin berbeda pendapat dengan orang lain, semakin penting menjaga adab.
Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan ilmu yang tunduk kepada adab akan melahirkan hikmah.Dan mungkin di situlah salah satu pekerjaan terbesar umat Islam hari ini:
Bukan menghapus seluruh perbedaan, melainkan mengembalikan perbedaan kepada tempatnya dan mengembalikan persaudaraan kepada kedudukannya.Berbeda dalam furuiyah tidak harus bermusuhan.
Berbeda organisasi tidak harus saling meniadakan.
Berbeda tradisi tidak harus saling mencela.
Berbeda pandangan tidak harus memutus silaturahmi.
Karena sebelum seseorang menjadi bagian dari kelompok tertentu, ia terlebih dahulu adalah manusia yang harus menjaga adab.
Dan sebelum menjadi anggota organisasi apa pun, ia terlebih dahulu adalah seorang Muslim yang mempunyai saudara sesama Muslim.
Ilmu boleh tinggi.
Pendapat boleh kuat.
Dalil boleh banyak.
Tetapi ketika semua itu tidak melahirkan adab, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali:
Bukan hanya ilmu di kepala, tetapi juga keadaan hati.
(as)
#IlmuDanAdab #UkhuwahIslamiyah #Toleransi #Mazhab #NU #Muhammadiyah #Islam #Persaudaraan


