Dari Seragam Menjadi Beragam: Ketika Orang Betawi Menemukan Jalan Masing-Masing


Fatahillah313, Depok - Dahulu, terutama pada masa Orde Baru, kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Betawi di sejumlah kawasan Jakarta terasa jauh lebih seragam. 
Identitas keislaman, tradisi keagamaan, pilihan politik, hingga lingkungan pergaulan seolah memiliki jalur yang hampir sama.

Dalam ingatan generasi lama, ungkapan bahwa orang Betawi adalah orang NU bukan sekadar identitas organisasi, melainkan gambaran kuat tentang corak keberagamaan masyarakat pada masa itu. 
Dalam politik, pilihan terhadap partai berlambang Ka'bah juga begitu dominan.

Dalam praktik keagamaan, mayoritas masyarakat Betawi dikenal menjalankan tradisi Islam yang berakar kuat pada mazhab Syafi'i dan corak Aswaja yang diwariskan para orang tua, guru, ulama, serta habaib.

Namun, masyarakat tidak pernah berhenti bergerak.

Perubahan zaman, pendidikan, teknologi informasi, perpindahan tempat tinggal, pergaulan, serta proses pencarian jati diri generasi muda perlahan mengubah peta tersebut. 
Apa yang dahulu tampak seragam, kini berkembang menjadi jauh lebih beragam.


Berawal Generasi 1990-an dan Pencarian Jati Diri

Perubahan itu semakin terasa ketika generasi 1990-an memasuki masa remaja dan dewasa. 
Mereka tumbuh dalam situasi sosial yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Anak-anak Betawi tidak lagi hanya berinteraksi dengan lingkungan kampungnya sendiri. 
Mereka masuk sekolah dan perguruan tinggi yang lebih beragam, bekerja di berbagai tempat, bertemu komunitas berbeda, membaca berbagai buku, mengikuti kajian dari banyak guru, serta memperoleh informasi dari media massa dan kemudian media sosial.

Fenomena tersebut juga berlaku pada anak-anak Kemang, khususnya kawasan Kampung Bangka.

Generasi muda Kampung Bangka mengalami proses pencarian identitas yang sama. 
Mereka tidak lagi selalu mengikuti pilihan orang tua secara otomatis. 
Sebagian mulai mencari jawaban sendiri tentang agama, politik, organisasi, pendidikan, bahkan cara memandang kehidupan.

Dalam politik, misalnya, pilihan masyarakat semakin melebar. 
Ada yang mendukung Gerindra, PAN, PKS dan berbagai kekuatan politik lainnya. 
Dalam organisasi kemasyarakatan pun terjadi perkembangan.

Sebagian bergabung dengan FBR, Forkabi, FPI, PA 212 dan berbagai organisasi atau gerakan lainnya.

Perkembangan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa identitas Betawi menghilang. 
Justru di dalam masyarakat yang bergerak, identitas dapat mengalami proses penafsiran ulang.

Betawi tetap menjadi akar budaya, sementara pilihan politik, organisasi, dan corak keberagamaan dapat berkembang mengikuti perjalanan hidup masing-masing individu.


Ketika Kampung Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Dunia

Salah satu faktor penting yang membuat keberagaman semakin melebar adalah perubahan tempat tinggal dan lingkungan sosial.

Dahulu, masyarakat relatif hidup dalam komunitas yang lebih homogen. 
Tetangga memiliki latar belakang budaya dan keagamaan yang relatif dekat.
Hubungan sosial berlangsung dalam ruang yang sama dan diwariskan lintas generasi.

Kini keadaan berbeda.

Masyarakat semakin menyebar. 
Sebagian berpindah rumah, bekerja di berbagai kawasan, menikah dengan orang dari latar belakang berbeda, serta membangun jaringan pertemanan yang jauh melampaui batas kampung.

Interaksi tersebut secara alamiah memperkenalkan perspektif baru.

Seseorang yang sejak kecil terbiasa dengan satu tradisi keagamaan dapat menemukan praktik berbeda ketika memasuki lingkungan baru. 
Ia mungkin bertemu orang yang tidak melakukan qunut Subuh, tidak membaca basmalah dengan suara jelas, memiliki cara berbeda dalam berdoa setelah shalat, atau mempunyai pandangan berbeda mengenai ziarah kubur.
Pada titik itulah proses pencarian jati diri berlangsung.

Ada yang kemudian memilih mendalami pemikiran salafi atau corak yang sejenis. 
Ada pula yang tetap bertahan dengan mazhab Syafi'i dan tradisi Aswaja yang sejak dahulu menjadi pegangan keluarga.

Keduanya merupakan bagian dari dinamika keberagamaan umat.


Qunut, Basmalah, Doa dan Ziarah: Jangan Semua Dijadikan Pertentangan

Perbedaan dalam persoalan khilafiyah dan furu'iyah bukanlah fenomena baru dalam sejarah Islam.

Ada yang melaksanakan qunut Subuh, ada yang tidak. 
Ada yang membaca basmalah dengan suara jelas, ada yang tidak. 
Ada yang setelah shalat membaca doa bersama, sementara yang lain memilih berdoa masing-masing.

Ada yang melakukan ziarah kubur, ada pula yang tidak lagi melakukannya.

Perbedaan-perbedaan seperti itu tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang keluar dari Islam atau menjadi musuh bagi saudaranya.

Justru kedewasaan beragama diuji ketika seseorang mampu membedakan antara persoalan prinsip dan persoalan cabang.
Jangan sampai persoalan furu'iyah berubah menjadi permusuhan.  
Jangan sampai perbedaan metode berubah menjadi tuduhan.  
Jangan sampai pilihan organisasi berubah menjadi alasan memutus silaturahmi.
Sebab umat Islam memiliki persoalan yang jauh lebih besar untuk diselesaikan bersama.


Bahaya Merasa Paling Benar

Persoalan menjadi lebih serius ketika seseorang tidak lagi sekadar meyakini pendapatnya benar, tetapi mulai menganggap dirinya sebagai pemilik kebenaran mutlak dan memandang kelompok lain selalu salah.

Al-Qur'an memberikan peringatan keras terhadap fenomena kemunafikan yang ditandai oleh klaim dan sikap yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Allah SWT berfirman:

يَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Artinya:
"Mereka mengatakan, 'Kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Baqarah: 8)

Ayat ini mengingatkan bahwa klaim tidak selalu identik dengan hakikat.

Dalam konteks kehidupan sosial umat, pelajarannya sangat penting: 
Jangan menjadikan pengakuan sebagai ukuran tunggal kebenaran diri sendiri. 
Seseorang dapat merasa paling benar, paling sunnah, paling Aswaja, paling nasionalis, paling Islami, atau paling memahami agama, tetapi perasaan tersebut tidak otomatis membuktikan dirinya berada pada posisi yang paling benar.

Al-Qur'an juga mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Artinya:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."
(QS. An-Najm: 32)

Pesannya jelas: 
Manusia boleh berusaha berada di jalan yang diyakininya benar, tetapi tidak seharusnya menjadikan keyakinan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan seluruh orang yang berbeda.


Rasulullah ﷺ Mengajarkan Persaudaraan

Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya:
"Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut memberikan gambaran yang sangat kuat tentang hubungan antarsesama Muslim.

Bangunan tidak hanya terdiri dari satu bagian. 
Ada fondasi, tiang, dinding, pintu, jendela dan bagian-bagian lainnya. 
Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi semuanya bekerja untuk satu bangunan.

Demikian pula umat.

Ada yang berjuang melalui pendidikan. 
Ada yang bergerak melalui dakwah. 
Ada yang berkiprah melalui politik. 
Ada yang membangun ekonomi. 
Ada yang bekerja dalam bidang sosial, kebudayaan, kesehatan, media, hukum dan berbagai bidang lainnya.

Tidak harus semuanya berada dalam satu bentuk.

Yang penting adalah orientasi akhirnya:
Menghadirkan kemaslahatan dan kebaikan.

 

Umat Seperti Tubuh yang Saling Melengkapi

Perbedaan fungsi bahkan dapat dilihat dari perumpamaan tubuh manusia.

Tubuh memiliki kepala, tangan, kaki, sistem saraf, sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem ekskresi dan berbagai organ lainnya.

Tidak ada organ yang bekerja sendirian.

Tangan tidak perlu menjadi kaki. 

Kaki tidak perlu menjadi mata. 

Sistem pernapasan tidak perlu mengambil alih fungsi sistem pencernaan.

Perbedaan fungsi justru membuat kehidupan berjalan.

Begitu pula dalam kehidupan umat.

Orang yang bergerak di bidang pendidikan memiliki kontribusi sendiri. 
Pendakwah memiliki peran sendiri. 
Politisi memiliki medan perjuangan sendiri. Pengusaha mempunyai ruang pengabdian sendiri. 
Aktivis sosial memiliki tugas sendiri.

Semua dapat saling melengkapi.

Karena itu, perbedaan mazhab, organisasi, metode dakwah, pilihan politik, maupun medan perjuangan tidak semestinya otomatis menjadi sumber permusuhan.


Perbedaan Menjadi Rahmat Jika Ego Dilepaskan

Perbedaan dapat menjadi rahmat ketika disikapi dengan kedewasaan.
Sebaliknya, perbedaan dapat berubah menjadi perang dingin apabila masing-masing pihak membawa idealisme tanpa mempertimbangkan tempat, keadaan, dan hubungan sosial.
Masalahnya bukan semata-mata pada perbedaan.
Masalahnya muncul ketika ego masuk ke dalam perbedaan.


Seseorang merasa kelompoknya paling benar. 
Kemudian mulai mencurigai kelompok lain. 
Dari kecurigaan muncul penilaian. 
Dari penilaian muncul pelabelan. 
Dari pelabelan lahir jarak. 
Dari jarak akhirnya muncul pertentangan.

Padahal bisa jadi persoalan awalnya hanyalah qunut.

Atau cara membaca basmalah.

Atau doa setelah shalat.

Atau persoalan ziarah kubur.

Persoalan yang secara keilmuan memiliki ruang pembahasan dan perbedaan pendapat akhirnya berubah menjadi pertengkaran antarsaudara.

Di sinilah kedewasaan diperlukan.


Tinggalkan Perdebatan Sekalipun Merasa Benar

Tidak semua kebenaran harus dimenangkan dalam setiap perdebatan.

Ada kalanya seseorang memilih diam bukan karena tidak mempunyai argumentasi, melainkan karena memahami bahwa menjaga persaudaraan lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya:
"Aku menjamin sebuah rumah di sekitar surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar."
(HR. Abu Dawud)
Hadits ini tidak berarti kebenaran harus ditinggalkan. 
Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa cara mempertahankan kebenaran juga harus mempertimbangkan akhlak.
Sebab agama bukan hanya soal siapa yang menang dalam perdebatan.
Agama juga berbicara tentang bagaimana manusia menjaga lisan, menghormati saudara, mempertahankan silaturahmi dan menghadirkan kemaslahatan.


Betawi Boleh Beragam, Persaudaraan Jangan Hilang

Masyarakat Betawi hari ini tidak harus sama seperti masyarakat Betawi pada masa lalu.

Generasi baru memiliki tantangan dan pengalaman berbeda. 
Pilihan politik dapat berubah. 
Organisasi dapat berbeda. 
Guru yang diikuti dapat berbeda. 
Corak kajian dapat berbeda. 
Bahkan praktik keagamaan dalam persoalan khilafiah dapat berbeda.

Semua itu merupakan bagian dari perjalanan sosial masyarakat.

Yang perlu dijaga adalah akar persaudaraan.

Orang Betawi boleh memilih partai yang berbeda. 
Boleh berada di organisasi yang berbeda. 
Boleh mengikuti mazhab atau guru yang berbeda dalam persoalan yang memang memiliki ruang perbedaan.

Namun, jangan sampai perbedaan itu menghapus adab sebagai sesama Muslim, sesama warga, sesama tetangga dan sesama anak bangsa.
Pencarian jati diri pada usia muda adalah sesuatu yang lumrah. 
Yang tidak lumrah adalah ketika pencarian tersebut berubah menjadi kesombongan intelektual dan merasa bahwa setelah menemukan satu jalan, seluruh jalan lain harus dianggap salah.

Kedewasaan bukan berarti kehilangan prinsip.

Kedewasaan berarti mampu memegang prinsip tanpa kehilangan persaudaraan.

Karena pada akhirnya, umat tidak akan menjadi kuat hanya karena semuanya memiliki pendapat yang sama. 
Umat menjadi kuat ketika perbedaan yang ada mampu dikelola menjadi energi untuk saling melengkapi.

Dahulu mungkin banyak orang Betawi berjalan dalam jalur yang hampir seragam.

Hari ini jalannya semakin beragam.

Tugas generasi sekarang bukan memaksa semuanya kembali seragam, melainkan memastikan keberagaman itu tidak berubah menjadi perpecahan.

Berbeda dalam khilafiyah boleh. 
Berbeda dalam organisasi boleh. 
Berbeda dalam pilihan politik boleh. 
Tetapi persaudaraan, akhlak dan ukhuwah jangan dikorbankan.
Sebab merasa paling benar dapat membesarkan ego, tetapi kedewasaanlah yang membesarkan umat.


(as)
#Betawi #NU #Aswaja #Syafii #Khilafiah #Ukhuwah #Toleransi #FPI #PA212 #FBR #Forkabi #Islam #Jakarta