Ketika Kita Terlalu Mudah Meremehkan Orang Lain

Fatahillah313, Depok - Memandang rendah orang lain sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: 
Tidak suka. 
Dari ketidaksukaan, lahir prasangka. 
Dari prasangka, setiap ucapan orang itu dianggap salah. 
Ketika berbicara dianggap sok tahu, ketika memberi pendapat dianggap sombong, dan ketika menyampaikan ilmu dianggap tidak punya kapasitas. 
Tanpa disadari, penilaian terhadap seseorang akhirnya bukan lagi berdasarkan apa yang ia sampaikan, melainkan berdasarkan rasa tidak suka kepada siapa yang menyampaikannya.

Ada satu penyakit hati yang kadang sulit disadari karena pelakunya merasa tidak sedang melakukan kesalahan.
Penyakit itu bernama meremehkan orang lain.
Bentuknya tidak selalu kasar. 
Tidak selalu berupa makian. 
Kadang justru muncul dalam obrolan santai bersama teman, percakapan di warung kopi, grup percakapan, atau pembicaraan kecil ketika orang yang menjadi bahan pembicaraan tidak berada di tempat.

“Gue tahu dia.”

“Ilmunya masih jauh.”

“Ah, dia mah sok tahu.”

“Enggak pantes ngomong begitu.”

“Memangnya dia siapa?”

“Enggak ada ilmunya.”

Kalimat seperti itu mungkin terasa biasa. 
Bahkan terkadang disampaikan sambil tertawa.

Namun ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: 
Apakah kita benar-benar sedang mengkritik seseorang, atau sebenarnya sedang merendahkan dirinya?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.


Tidak Suka Bisa Membuat Kita Kehilangan Keadilan

Manusia memang tidak mungkin menyukai semua orang.

Ada orang yang cocok dengan kita, ada yang tidak. 
Ada yang pemikirannya sejalan, ada yang berseberangan. 
Ada pula orang yang sejak awal memang memiliki persoalan pribadi dengan kita.

Itu manusiawi.
Yang menjadi masalah adalah ketika ketidaksukaan membuat kita kehilangan kemampuan untuk menilai secara adil.

Begitu seseorang sudah tidak kita sukai, apa pun yang keluar dari mulutnya terasa salah.

Ia berbicara tentang agama dianggap sok alim.

Ia membicarakan politik dianggap sok tahu.

Ia menyampaikan pengalaman dianggap pamer.

Ia memberikan kritik dianggap merasa paling benar.

Bahkan ketika suatu saat ia mengatakan sesuatu yang benar, kita tetap mencari alasan untuk menolaknya.

Padahal kebenaran tidak berubah menjadi kesalahan hanya karena disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Wahai orang-orang yang beriman!
 
Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. 
Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. 
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.

QS. Al-Ma’idah: 8


Ayat ini bukan hanya berbicara tentang hukum atau perselisihan besar. 
Pesannya juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jangan biarkan rasa tidak suka mengubah cara kita melihat seseorang.


Kritik Itu Boleh, Merendahkan Jangan

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk membenarkan semua pendapat.

Kalau seseorang salah, boleh dikoreksi.

Kalau argumentasinya lemah, boleh dibantah.

Kalau informasi yang disampaikannya keliru, boleh diluruskan.

Tetapi ada perbedaan besar antara membantah sebuah pendapat dengan menghina orang yang menyampaikan pendapat tersebut.

“Argumen itu belum kuat karena dalilnya belum cukup.”

Itu kritik.

“Lu enggak ada ilmunya.”

Itu sudah menyerang pribadi.

“Pendapatnya perlu dikaji lagi.”

Itu ruang dialog.

“Dia mah sok tahu.”

Itu pelabelan.

Perbedaan tersebut sering hilang ketika ego sudah ikut masuk.

Orang tidak lagi sibuk mencari apakah sebuah pernyataan benar atau salah. 
Yang dipersoalkan justru siapa yang mengucapkannya.

Akibatnya, diskusi berubah menjadi pertarungan harga diri.

Padahal ilmu seharusnya membawa manusia semakin dekat kepada kebenaran, bukan semakin sibuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.


Ketika Pembicaraan Dilakukan di Belakang

Persoalan menjadi lebih serius ketika penilaian tersebut tidak disampaikan kepada orang yang bersangkutan.

Di depannya kita tersenyum.

Di belakangnya kita membicarakannya.

Di depannya kita diam.

Begitu ia pergi, penilaiannya dimulai.

Di sinilah ghibah dapat terjadi.

Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

"Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai."

HR. Muslim

Kemudian ketika ditanyakan bagaimana jika apa yang dibicarakan itu memang benar, Rasulullah ﷺ menjelaskan:

إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Jika apa yang engkau katakan itu memang ada pada dirinya, berarti engkau telah menggunjingnya. Jika apa yang engkau katakan itu tidak ada padanya, berarti engkau telah membuat kebohongan tentangnya.” 
 
HR. Muslim

Hadis ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati.

Sebab sering kali orang merasa aman dengan alasan, “Tapi yang saya bilang memang benar.”

Justru di situlah pentingnya memahami ghibah.

Benar belum tentu boleh dibicarakan sembarangan di belakangnya.

Jika tidak benar, persoalannya menjadi lebih berat.


Kesombongan Tidak Selalu Terlihat dari Harta dan Jabatan

Kesombongan sering kita bayangkan sebagai orang yang suka memamerkan kekayaan, jabatan, kendaraan, atau kedudukan.

Padahal Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan yang jauh lebih luas.

Beliau bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

HR. Muslim


Kalimat ini sangat dalam.

Seseorang bisa saja sederhana dalam penampilan, tetapi menyimpan kesombongan di dalam hati.

Ia merasa paling pintar.

Paling tahu.

Paling pantas berbicara.

Paling berpengalaman.

Sementara orang lain dianggap tidak selevel dengannya.

Padahal ilmu yang kita miliki hanyalah sebagian kecil dari ilmu Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Maka, semakin seseorang merasa berilmu, semestinya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui.


Jangan Menilai Isi Hati Orang

Ada satu kebiasaan yang juga perlu diwaspadai: 
Merasa mengetahui isi hati orang lain.

Kita mengatakan seseorang sombong.

Padahal kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

Kita mengatakan seseorang ingin pamer.

Padahal mungkin ia hanya sedang berbagi pengalaman.

Kita mengatakan seseorang sok tahu.

Padahal bisa jadi memang ada pengetahuan yang ingin ia sampaikan.

Tentu saja manusia boleh membaca perilaku dan memberikan penilaian terhadap tindakan yang terlihat. 
Tetapi berbeda antara menilai perbuatan dengan memastikan niat seseorang.

Niat adalah wilayah yang sangat dalam.

Karena itu, jangan terlalu cepat menjadi hakim atas hati orang lain.


Boleh Berbeda, Tidak Harus Merendahkan

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan.

Tidak semua orang harus memiliki pandangan politik yang sama.

Tidak semua orang harus membaca buku yang sama.

Tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama.

Tidak semua orang memiliki tingkat pendidikan yang sama.

Bahkan dalam persoalan keilmuan, perbedaan pendapat dapat terjadi.

Yang diperlukan bukan memaksa semua orang menjadi sama, melainkan membangun kebiasaan berdialog dengan adab.

Jika pendapat seseorang keliru, jelaskan kekeliruannya.

Jika dalilnya lemah, tunjukkan kelemahannya.

Jika informasinya salah, berikan informasi yang lebih kuat.

Tetapi jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan martabat manusia.

Sebab boleh jadi orang yang hari ini kita anggap tidak tahu justru mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.

Dan boleh jadi orang yang kita remehkan hari ini memiliki kedudukan yang jauh lebih baik di hadapan Allah.

Allah SWT mengingatkan:

لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
QS. Al-Hujurat: 11


Sebelum Menilai Orang, Periksa Diri Sendiri

Pada akhirnya, persoalan ini kembali kepada hati.

Sebelum mengatakan, “Dia enggak ada ilmunya,” tanyakan kepada diri sendiri: 
Seberapa luas sebenarnya ilmu yang saya miliki?

Sebelum berkata, “Dia sok tahu,” tanyakan: 
Apakah saya sudah benar-benar memahami apa yang dia sampaikan?

Sebelum membicarakan kekurangannya kepada orang lain, tanyakan: 
Kalau dia berada di sini, apakah saya berani mengatakan hal yang sama di hadapannya?

Dan sebelum merasa lebih tinggi, ingatlah bahwa tidak ada manusia yang mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidupnya.

Merendahkan orang lain tidak membuat kita otomatis menjadi lebih tinggi.

Menghina orang lain tidak membuat ilmu kita bertambah.

Membicarakan kekurangan orang di belakangnya tidak membuat diri kita menjadi lebih mulia.

Justru sebaliknya, bisa jadi semua itu menjadi cermin bahwa ada sesuatu di dalam hati yang perlu diperbaiki.

Karena itu, jangan buru-buru menjadi hakim bagi orang lain ketika kita sendiri masih harus berjuang mengobati penyakit hati.

Kita boleh tidak setuju.

Kita boleh mengkritik.

Kita boleh membantah.

Kita boleh mengatakan bahwa sebuah pendapat keliru.

Tetapi tetaplah menjaga adab.

Sebab ukuran kedalaman ilmu bukan hanya seberapa banyak yang mampu kita katakan, melainkan juga seberapa mampu kita menahan diri ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

Di situlah ilmu bertemu akhlak.

Dan di situlah seseorang belajar bahwa menjadi benar tidak harus membuat orang lain merasa hina.


(as)
#Merendahkan #Ghibah #PenyakitHati #Kesombongan #Akhlak #Kritik #Islam #Nasihat