Syahadat Koh Wiliyem Suardidjo: Memilih Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat, Dilanjutkan Akad Nikah

Fatahillah313, PONDOK RANGON, JAKARTA TIMUR - Suasana khidmat menyelimuti sebuah rumah di kawasan Pondok Rangon, Jakarta Timur, Jumat siang. 

Sekitar pukul 14.00 WIB, seorang pria berusia sekitar 71 tahun, Koh Wiliyem Suardidjo, kembali mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah prosesi yang berlangsung sederhana namun penuh makna.


Video Taftis Kesungguhan dan Kesiapan dilanjut  tausiyah sebelum proses Syahadat

Koh Wiliyem Suardidjo sebelumnya diketahui pernah memeluk agama Islam. 

Namun, dalam perjalanan hidupnya, ia sempat meninggalkan Islam dan kembali kepada agama sebelumnya, yakni Buddha. 
Oleh karena itu Ustadz Namruddin DF, mentaftis kembali kesungguhan dan kesiapan dari Koh Wiliyem Suardidjo untuk bersyahadat, yang alhamdulillah beliau menyatakan kesungguhan hatinya dan telah bulat tekad untuk bersyahadat.

Pada Jumat tersebut, ia kembali menyatakan keislamannya melalui prosesi syahadat yang dibimbing langsung oleh Ustadz Namruddin DF, Ketua Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ).

Prosesi berlangsung di rumah Ibu Hj. Endang Fatmawati, Pondok Rangon, Jakarta Timur. 
Hadir pula Ustadz Verry Kiswanto dan Ustadz Endang yang menjadi saksi dalam pengucapan syahadat tersebut.

Momen itu bukan sekadar pengucapan kalimat secara lisan. 
Bagi Koh Wiliyem, keputusan kembali kepada Islam disebut lahir dari sebuah pencarian batin yang berkaitan dengan kehidupan dunia sekaligus kehidupan setelah kematian.


Dari Buddha, Pernah Memeluk Islam, Kemudian Kembali Bersyahadat


Perjalanan keagamaan Koh Wiliyem Suardidjo memiliki latar yang tidak sederhana. 
Sebelumnya ia beragama Buddha dan pernah menjadi mualaf.

Namun, setelah beberapa waktu menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim, ia sempat meninggalkan Islam.
Kini, di usia sekitar 71 tahun, ia kembali mengambil keputusan untuk bersyahadat.
Keputusan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. 
Di usia yang tidak lagi muda, pertanyaan mengenai tujuan kehidupan, kematian, dan keselamatan akhirat disebut menjadi salah satu pertimbangan utama.

Motivasi yang disampaikan dalam prosesi tersebut sederhana, tetapi mendasar: 
Ingin memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Kalimat itu sekaligus menggambarkan bahwa keputusan memeluk kembali Islam tidak semata-mata diposisikan sebagai perubahan identitas keagamaan, melainkan sebagai pilihan yang diyakini memiliki konsekuensi terhadap kehidupan manusia secara keseluruhan.

Syahadat menjadi pintu masuk untuk kembali menyatakan keimanan kepada Allah SWT dan Rasulullah Muhammad ﷺ.


Dibimbing Ustadz Namruddin DF

Prosesi syahadat dipimpin oleh Ustadz Namruddin DF, yang dikenal sebagai Ketua Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ).

Dalam suasana yang tenang, Koh Wiliyem dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. 
Prosesi tersebut disaksikan oleh Ustadz Verry Kiswanto dan Ustadz Endang.

Tempat pelaksanaan yang merupakan kediaman Ibu Hj. Endang Fatmawati membuat acara berlangsung dalam suasana kekeluargaan. 
Tidak terlihat sebagai sebuah seremoni besar, tetapi justru menghadirkan suasana yang lebih personal.

Bagi seseorang yang kembali menyatakan keislamannya setelah melalui perjalanan panjang, pengucapan syahadat merupakan titik penting yang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup dan keyakinan yang dijalaninya.
Di hadapan para pembimbing dan saksi, Koh Wiliyem kembali menyatakan kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Prosesi tersebut kemudian berlanjut kepada tahap berikutnya yang juga tidak kalah penting: 
PERNIKAHAN.

Syahadat Berlanjut ke Akad Nikah



Setelah prosesi syahadat selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan akad nikah antara Koh Wiliyem Suardidjo dengan Ibu Hj. Endang Fatmawati.

Akad nikah dibimbing oleh Ustadz Verry Kiswanto. 
Sementara itu, Ustadz Namruddin DF dan Ustadz Endang bertindak sebagai saksi.

Dengan demikian, Jumat siang itu menjadi momentum penting dalam dua aspek sekaligus: 
Kembalinya Koh Wiliyem kepada Islam melalui syahadat dan dimulainya kehidupan rumah tangga bersama Ibu Hj. Endang Fatmawati melalui akad pernikahan.
Rangkaian tersebut berlangsung dalam satu tempat dan pada hari yang sama, sehingga menjadikan peristiwa tersebut memiliki makna khusus bagi pihak-pihak yang hadir.

Jika syahadat merupakan pernyataan keimanan, akad nikah merupakan ikrar untuk membangun kehidupan bersama dalam ikatan yang sah menurut ketentuan agama.

Keduanya memiliki konsekuensi yang panjang. 
Syahadat menegaskan hubungan seorang manusia dengan Allah SWT, sedangkan pernikahan membawa konsekuensi hubungan antarmanusia dalam kehidupan keluarga.


Usia Bukan Penghalang untuk Memulai Kembali

Usia sekitar 71 tahun membuat perjalanan Koh Wiliyem menjadi salah satu bagian menarik dari peristiwa tersebut.

Di tengah perjalanan kehidupan yang telah panjang, seseorang tetap dapat mengambil keputusan untuk memperbaiki arah hidupnya. 
Masa lalu menjadi bagian dari perjalanan, sementara pilihan hari ini menjadi penentu langkah berikutnya.

Dalam konteks itulah, keputusan Koh Wiliyem untuk kembali bersyahadat menjadi sebuah momentum personal.

Informasi yang disampaikan dalam prosesi tersebut menyebutkan bahwa keinginannya adalah memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. 
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada urusan duniawi.

Harta, jabatan, pengalaman, maupun perjalanan kehidupan pada akhirnya akan berhadapan dengan pertanyaan mengenai tujuan hidup dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Tuhan.

Karena itu, keputusan kembali kepada Islam pada usia lanjut dapat dilihat sebagai sebuah pilihan batin yang sangat personal.

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui seluruh pergulatan batin seseorang sebelum mengambil keputusan keagamaan. 
Yang terlihat di ruang publik hanyalah satu momentum: 
Ketika seseorang menyatakan keyakinannya melalui syahadat.


Dari Perjalanan Duniawi Menuju Pencarian Akhirat

Koh Wiliyem Suardidjo disebut pernah dikenal sebagai sosok yang memiliki perjalanan panjang di dunia usaha, termasuk pernah disebut sebagai salah satu pengusaha sukses di bidangnya.

Namun, dalam peristiwa Jumat tersebut, latar belakang kehidupan duniawi bukan menjadi pusat perhatian.

Yang menjadi sorotan justru keputusan untuk kembali menyatakan keislaman dan kemudian membangun rumah tangga bersama Ibu Hj. Endang Fatmawati.

Peristiwa itu sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kehidupan manusia tidak selalu berjalan lurus. 
Ada masa ketika seseorang berada dalam satu keyakinan, kemudian berpindah, menjalani pengalaman hidup, menghadapi berbagai persoalan, hingga akhirnya mengambil keputusan untuk kembali kepada keyakinan yang diyakininya.

Dalam perspektif Islam, pintu taubat dan kembali kepada Allah senantiasa menjadi bagian penting dari kehidupan seorang manusia.

Syahadat yang diucapkan kembali menjadi simbol bahwa perjalanan belum berakhir. 
Justru dari titik tersebut, kehidupan baru dimulai.


Dua Ikrar dalam Satu Hari

Jumat di Pondok Rangon itu akhirnya menjadi momentum dengan dua ikrar besar.

Pertama, Koh Wiliyem Suardidjo kembali menyatakan keislamannya melalui dua kalimat syahadat yang dibimbing Ustadz Namruddin DF dan disaksikan Ustadz Verry Kiswanto serta Ustadz Endang.

Kedua, setelah syahadat, Koh Wiliyem melangsungkan akad nikah dengan Ibu Hj. Endang Fatmawati. 
Akad tersebut dibimbing Ustadz Verry Kiswanto, dengan Ustadz Namruddin DF dan Ustadz Endang sebagai saksi.

Dari sisi kemanusiaan, rangkaian tersebut menggambarkan sebuah permulaan baru: 
Kembali kepada keyakinan sekaligus membangun keluarga.

Dari sisi spiritual, syahadat menjadi pernyataan tentang arah hubungan manusia dengan Sang Pencipta. 
Sementara akad nikah menjadi janji untuk menjalani kehidupan bersama dengan tanggung jawab.

Pada akhirnya, keputusan tersebut kembali kepada Koh Wiliyem sendiri. 
Perjalanan selanjutnya adalah bagaimana syahadat tidak berhenti sebagai ucapan, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keimanan, ibadah, akhlak, tanggung jawab, serta kehidupan rumah tangga yang dijalani bersama.

Jumat siang di Pondok Rangon pun menjadi saksi sebuah keputusan besar seorang lelaki yang telah melewati perjalanan panjang kehidupan: 
Kembali bersyahadat, memilih jalan yang diyakininya sebagai jalan keselamatan dunia dan akhirat, lalu melangkah menuju kehidupan baru bersama Ibu Hj. Endang Fatmawati.

Doa untuk Koh Wiliyem Suardidjo dan Keluarga

Dengan kembali besyahadatnya Koh Wiliyem Suardidjo, anak, menantu dan cucu mereka sangat bersyukur, mari kita do'akan mereka dengan do'a terbaik kita.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, kekuatan, dan keistiqamahan kepada Koh Wiliyem Suardidjo untuk terus menapaki jalan Islam secara istiqamah dan kaffah, hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khatimah.



Semoga Allah SWT menjadikan rumah tangga Koh Wiliyem Suardidjo bersama Ibu Hj. Endang Fatmawati sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dipenuhi iman, kasih sayang, keberkahan, dan ketenteraman.

Dan semoga putri beliau bersama Ibu Hj. Endang Fatmawati menjadi anak yang salehah, beriman, berakhlak mulia, berbakti kepada kedua orang tua, serta menjadi penyejuk hati dan penerus amal kebaikan keluarga.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.




(as)
#Syahadat #KohWiliyemSuardidjo #Mualaf #Islam #PondokRangon #JakartaTimur #GMJ #GerakanMasyarakatJakarta #UstadzNamruddinDF #UstadzVerryKiswanto #AkadNikah #EndangFatmawati #Hijrah #IslamRahmatanLilAlamin