Tema ini bukan sekadar perdebatan teknis, melainkan menyentuh jantung pemahaman umat Islam tentang tauhid, tawassul, dan tradisi qashidah yang sudah berakar ratusan tahun di dunia Islam, khususnya di pesantren-pesantren di Nusantara.
Latar Belakang Polemik
Qashidah dan shalawat telah menjadi tradisi kuat dalam kultur keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah.
Lantunan pujian kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya dipandang sebagai bentuk cinta, tetapi juga media spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah.
Namun, di sisi lain, muncul kelompok yang menilai sebagian lafaz dalam qashidah tertentu berpotensi menyeret pada ghuluw (berlebihan) hingga mengarah pada syirik.
Namun, di sisi lain, muncul kelompok yang menilai sebagian lafaz dalam qashidah tertentu berpotensi menyeret pada ghuluw (berlebihan) hingga mengarah pada syirik.
Salah satu yang dipersoalkan adalah bait dalam qashidah “Liz-Ziyarah Qashidina”, khususnya pada kalimat “يا الله” yang dibaca dalam konteks tawassul.
Apakah seruan tersebut tetap murni kepada Allah, atau ada unsur “perantara” yang dianggap melanggar tauhid?
Inilah yang dikupas mendalam oleh KH. Luthfi Bashori dan Gus Wafi.
- KH. Luthfi Bashori: Jangan Cepat-Cepat Menuduh Syirik
KH. Luthfi Bashori menegaskan bahwa dalam ilmu aqidah, syirik adalah menuhankan selain Allah atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang diyakini sebagai Tuhan.
Namun, muncul tafsiran yang menilai penggunaan kata-kata tertentu, terutama “Ya Allah”, sebagai bentuk pengkultusan berlebihan hingga dianggap bisa menjerumuskan pada syirik.
KH. Luthfi Bashori dengan tegas meluruskan:
Apakah seruan tersebut tetap murni kepada Allah, atau ada unsur “perantara” yang dianggap melanggar tauhid?
Inilah yang dikupas mendalam oleh KH. Luthfi Bashori dan Gus Wafi.
- KH. Luthfi Bashori: Jangan Cepat-Cepat Menuduh Syirik
KH. Luthfi Bashori menegaskan bahwa dalam ilmu aqidah, syirik adalah menuhankan selain Allah atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang diyakini sebagai Tuhan.
Namun, muncul tafsiran yang menilai penggunaan kata-kata tertentu, terutama “Ya Allah”, sebagai bentuk pengkultusan berlebihan hingga dianggap bisa menjerumuskan pada syirik.
KH. Luthfi Bashori dengan tegas meluruskan:
‘Ya Allah’ itu bukan bagian dari rangkaian kalimat syair qashidah. Ia berdiri sendiri sebagai seruan doa langsung kepada Allah.
Kalimat ‘Ya Allah’, menjelaskan seruan itu ditujukan langsung kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Jadi menuduh syirik tanpa ilmu bisa berbahaya,” ujar KH. Luthfi.
Beliau menambahkan, tawassul merupakan tradisi yang memiliki landasan kuat dalam khazanah Islam klasik.
Banyak ulama mu’tabar, termasuk dalam kitab-kitab turats, yang membolehkan bahkan menganjurkan umat untuk bertawassul dengan para nabi, wali, atau amal saleh, selama tetap diyakini bahwa segala kekuatan dan manfaat hanya dari Allah.
- Gus Wafi: Konteks Adalah Kunci
Gus Wafi menambahkan dimensi lain. Menurutnya, dalam memahami teks qashidah, konteks bacaan sangat penting.
- Gus Wafi: Konteks Adalah Kunci
Gus Wafi menambahkan dimensi lain. Menurutnya, dalam memahami teks qashidah, konteks bacaan sangat penting.
Qashidah yang dilantunkan dalam majelis shalawat adalah ekspresi cinta, doa, sekaligus seni spiritual.
Kalau ada bait qashidah yang menyebut wali atau Rasulullah ﷺ, itu bukan berarti memohon langsung kepada mereka dalam makna ketuhanan. Itu adalah wasilah, sarana untuk menyampaikan doa agar Allah segera mengabulkan,” jelas Gus Wafi.Beliau juga mengingatkan, tradisi ini telah mengakar di dunia pesantren sejak berabad-abad.
Menyebutnya syirik tanpa kajian mendalam sama saja memutus rantai keilmuan para ulama terdahulu.
Titik Sensitif: Antara Tauhid dan Tradisi
Diskursus ini sebenarnya mencerminkan tarik-ulur antara dua kutub pemikiran:
Puritanisme yang sangat ketat menjaga “kemurnian” tauhid, hingga kadang menolak ekspresi tradisi yang tidak eksplisit ditemukan di zaman Nabi ﷺ.
Podcast ini menjadi pengingat penting bahwa mengkaji amaliah umat tidak boleh serampangan.
Titik Sensitif: Antara Tauhid dan Tradisi
Diskursus ini sebenarnya mencerminkan tarik-ulur antara dua kutub pemikiran:
Puritanisme yang sangat ketat menjaga “kemurnian” tauhid, hingga kadang menolak ekspresi tradisi yang tidak eksplisit ditemukan di zaman Nabi ﷺ.
Podcast ini menjadi pengingat penting bahwa mengkaji amaliah umat tidak boleh serampangan.
Menuduh syirik tanpa dasar hanya akan melahirkan fitnah dan perpecahan.
KH. Luthfi Bashori dan Gus Wafi sepakat, qashidah seperti Liz-Ziyarah Qashidina (Ya Allah) sejatinya adalah ekspresi cinta, bukan penyekutuan Tuhan.
Di tengah era digital, diskusi terbuka semacam ini sangat dibutuhkan agar umat tidak hanya terjebak pada slogan “bid’ah” atau “syirik”, melainkan memahami esensi tauhid dengan akal sehat dan warisan ulama yang kokoh.
(as)
#KHluthfiBashori #GusWafi #PodcastIslami #Qashidah #Tawassul #Aswaja #IslamNusantara #SyirikAtauTidak #CintaRasul #LizZiyarahQashidina
Di tengah era digital, diskusi terbuka semacam ini sangat dibutuhkan agar umat tidak hanya terjebak pada slogan “bid’ah” atau “syirik”, melainkan memahami esensi tauhid dengan akal sehat dan warisan ulama yang kokoh.
(as)
#KHluthfiBashori #GusWafi #PodcastIslami #Qashidah #Tawassul #Aswaja #IslamNusantara #SyirikAtauTidak #CintaRasul #LizZiyarahQashidina

