Tabayun, Khilafiah, dan Jalan Perjuangan Umat yang Saling Melengkapi
Fatahillah313, Depok - Ada manusia yang masa lalunya terus ditempelkan kepadanya, bahkan ketika dirinya sudah berubah.
Pernah bergabung dengan organisasi pergerakan, pernah berada dalam lingkungan dakwah tertentu, pernah mengambil sikap keagamaan tertentu, atau pernah mempunyai pandangan yang berbeda, lalu seluruh perjalanan hidupnya seolah-olah diringkas hanya dalam satu label.
Lebih jauh lagi, seseorang kadang dinilai bukan berdasarkan siapa dirinya hari ini, melainkan berdasarkan versi terburuk dirinya di masa lalu.
Persoalannya, apakah adil menilai manusia dengan cara demikian?
Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menerima informasi, apalagi ketika informasi itu digunakan untuk menilai, mencela, atau menjatuhkan kehormatan seseorang.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
QS. Al-Hujurat: 6
Ayat ini bukan sekadar perintah memeriksa berita.
Ia juga mengajarkan bahwa kesimpulan yang dibangun tanpa verifikasi dapat melahirkan ketidakadilan.
Masa Lalu Bukan Seluruh Identitas Seseorang
Manusia mengalami proses.
Ada masa ketika seseorang sedang mencari ilmu.
Ada masa ketika ia mencari lingkungan pergaulan.
Ada masa ketika ia tertarik pada gerakan sosial, dakwah, politik, pendidikan, ekonomi, atau organisasi tertentu.
Pada usia muda, pencarian identitas merupakan bagian dari perjalanan kehidupan.
Seseorang bisa berpindah lingkungan, memperluas wawasan, memperbaiki pemahaman, bahkan mengoreksi pendiriannya sendiri.
Karena itu, seseorang yang dahulu aktif dalam sebuah organisasi pergerakan tidak otomatis harus dinilai dengan seluruh label organisasi tersebut untuk selama-lamanya.
Begitu pula seseorang yang pernah mempunyai pandangan tertentu tidak semestinya dianggap tidak boleh berkembang.
Perubahan pemikiran tidak selalu berarti inkonsistensi. Dalam banyak keadaan, perubahan justru menunjukkan adanya proses belajar.
Yang menjadi persoalan adalah ketika masa lalu seseorang dijadikan hukuman permanen, sementara perkembangan dirinya tidak pernah diperhitungkan.
Islam sendiri membuka ruang yang sangat besar bagi perubahan manusia melalui taubat dan perbaikan diri.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra’d: 11
Ayat tersebut mengandung pesan penting:
Manusia mempunyai kemungkinan untuk berubah.
Karena itu, menilai seseorang secara terus-menerus berdasarkan keadaan dirinya bertahun-tahun sebelumnya dapat mengabaikan kenyataan bahwa manusia sedang menjalani proses kehidupan.
Jangan Mengubah Perbedaan Menjadi Permusuhan
Dalam kehidupan umat Islam, perbedaan pandangan bukan sesuatu yang asing.
Perbedaan mazhab, metode dakwah, pilihan organisasi, pendekatan pendidikan, strategi sosial, hingga persoalan fiqh yang bersifat khilafiah dan furuiyah telah menjadi bagian dari dinamika sejarah umat.
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan melalui perdebatan.
Ada persoalan yang memang membutuhkan argumentasi ilmiah.
Namun ada pula persoalan yang cukup disikapi dengan saling menghormati karena memang terdapat ruang perbedaan pendapat yang diakui dalam tradisi keilmuan Islam.
Perbedaan sudut pandang tidak otomatis berarti seseorang berada di luar kebenaran.
Demikian pula perbedaan organisasi tidak otomatis menjadikan satu pihak lebih mulia daripada pihak lainnya.
Yang harus dijaga adalah batas antara perbedaan pendapat dengan permusuhan, antara kritik ilmiah dengan penghinaan, dan antara nasihat dengan vonis.
Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya menjaga hubungan sesama Muslim:
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
HR. Bukhari dan Muslim
Pesan ini sangat relevan ketika perbedaan mazhab, organisasi, atau metode perjuangan mulai mengalahkan tujuan yang lebih besar:
Membangun umat.
Tabayun Sebelum Menilai
Salah satu masalah terbesar dalam hubungan sosial adalah munculnya kesimpulan berdasarkan cerita dari orang lain.
“Saya dengar dia begini.”
“Katanya dulu dia begitu.”
“Orang-orang bilang dia seperti itu.”
“Dulu dia pernah bergabung dengan kelompok tersebut.”
Kalimat-kalimat semacam itu sering kali kemudian berubah menjadi kesimpulan final.
Padahal, antara fakta, cerita, tafsir, asumsi, persepsi, dan tuduhan terdapat jarak yang sangat jauh.
Seseorang bisa mengetahui satu potongan cerita, tetapi tidak mengetahui konteks lengkapnya.
Ia mungkin mengetahui organisasi yang pernah diikuti seseorang, tetapi tidak mengetahui alasan orang tersebut bergabung.
Ia mungkin mengetahui pendapat yang pernah disampaikan seseorang, tetapi tidak mengetahui proses pemikiran yang melatarbelakanginya.
Ia mungkin mendengar tuduhan, tetapi tidak pernah mendengar klarifikasi dari orang yang dituduh.
Karena itu, tabayun bukan formalitas.
Tabayun adalah mekanisme moral untuk mencegah ketidakadilan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
QS. Al-Isra’: 36
Ayat tersebut menempatkan pengetahuan sebagai dasar sebelum seseorang mengikuti atau menyimpulkan sesuatu.
Maka, vonis yang lahir hanya dari cerita sana-sini dan asumsi merupakan sesuatu yang patut dihindari.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tidak Harus Seragam
Dalam sejarah umat, perjuangan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar dapat mengambil berbagai bentuk.
Ada orang yang berjuang melalui pendidikan.
Ada yang mengabdikan hidupnya melalui dakwah.
Ada yang memilih jalur politik.
Ada yang membangun kekuatan ekonomi.
Ada yang bergerak melalui sosial kemasyarakatan.
Ada yang menulis, meneliti, membangun media, mendidik generasi, mendirikan lembaga, membantu masyarakat miskin, membangun pesantren, atau melakukan berbagai bentuk pelayanan sosial.
Apakah semuanya harus berada dalam satu organisasi?
Tidak harus.
Apakah semua harus menggunakan metode yang sama?
Tidak pula.
Yang perlu dilihat adalah tujuan, cara, nilai, serta manfaat perjuangannya.
Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. Ali ‘Imran: 104
Ayat tersebut menegaskan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, tetapi tidak berarti seluruh umat harus mengambil bentuk perjuangan yang identik.
Umat Seperti Tubuh yang Saling Melengkapi
Perbedaan peran dapat dipahami melalui gambaran sederhana tubuh manusia.
Tubuh memiliki kepala, tangan, kaki, mata, telinga, sistem saraf, sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem pencernaan, dan berbagai organ lainnya.
Fungsinya berbeda.
Tetapi perbedaan fungsi tidak berarti salah satu boleh menganggap dirinya paling penting dan yang lain tidak berguna.
Kaki tidak dapat menggantikan fungsi otak. Otak tidak dapat menggantikan fungsi jantung. Tangan tidak menggantikan paru-paru.
Sistem saraf tidak menggantikan sistem pencernaan.
Justru karena berbeda fungsi, semuanya menjadi satu kesatuan.
Demikian pula umat.
Pendidikan membutuhkan dakwah.
Dakwah membutuhkan kekuatan sosial.
Masyarakat membutuhkan ekonomi yang sehat. Kehidupan sosial membutuhkan kebijakan publik.
Politik membutuhkan moral. Ekonomi membutuhkan etika.
Ilmu membutuhkan penerapan.
Semua dapat saling memperkuat.
Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan orang-orang beriman dengan perumpamaan yang sangat kuat:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.”
HR. Bukhari dan Muslim
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa
Kekuatan umat bukan terletak pada keseragaman, tetapi pada keterhubungan dan saling melengkapi.
Organisasi Boleh Berbeda, Tujuan Kebaikan Tetap Bisa Bersama
Perbedaan organisasi adalah kenyataan sosial.
Seseorang mungkin menemukan jalan perjuangannya dalam organisasi A, sementara orang lain merasa cocok dengan organisasi B.
Ada yang nyaman dengan pendekatan pesantren, ada yang melalui kampus, ada yang melalui gerakan sosial, ada yang melalui politik, dan ada yang melalui dunia profesional.
Selama perbedaan tersebut berada dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak semestinya setiap perbedaan diperlakukan sebagai ancaman.
Demikian pula mazhab.
Perbedaan dalam persoalan fiqh yang bersifat khilafiah dan furuiyah tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Yang dibutuhkan adalah ilmu, adab, dan keluasan pandangan.
Sebab umat yang terlalu sibuk memperdebatkan perbedaan cabang dapat kehilangan energi untuk mengurus persoalan yang jauh lebih besar.
Menilai Manusia Secara Utuh
Pada akhirnya, seseorang tidak semestinya dikunci oleh satu episode dalam hidupnya.
Lihat perjalanan hidupnya.
Lihat perubahan sikapnya.
Lihat perkataan dan perbuatannya hari ini.
Lihat kontribusinya.
Dan apabila ada informasi serius mengenai dirinya, lakukan tabayun sebelum membuat kesimpulan.
Tidak berarti setiap orang harus dibenarkan.
Tidak pula berarti kritik harus dilarang.
Kesalahan tetap dapat dikritik, penyimpangan tetap dapat diluruskan, dan tindakan yang merugikan tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Namun kritik yang adil harus berdiri di atas fakta, bukan prasangka.
Perbedaan harus ditempatkan secara proporsional.
Masa lalu harus ditempatkan sebagai bagian dari sejarah seseorang, bukan otomatis sebagai keseluruhan identitasnya.
Dan perbedaan mazhab, organisasi, metode dakwah, maupun jalan perjuangan hendaknya tidak menghilangkan kesadaran bahwa umat memiliki tujuan-tujuan kebaikan yang jauh lebih luas.
Jangan menjadikan masa lalu sebagai penjara bagi seseorang yang sedang berusaha memperbaiki dirinya.
Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling meniadakan.
Dan jangan menjadikan cerita orang lain sebagai dasar untuk menjatuhkan vonis sebelum tabayun.
Sebab dalam kehidupan umat, bisa jadi kita memang berbeda jalan, berbeda organisasi, berbeda metode, bahkan berbeda pandangan dalam sebagian persoalan.
Tetapi perbedaan itu tidak harus membuat kita berhenti menjadi sesama manusia dan sesama Muslim yang saling menghormati.
Yang diperlukan bukan keseragaman mutlak, melainkan ilmu dalam berbeda, adab dalam berdialog, tabayun sebelum menilai, dan persaudaraan dalam perjuangan.
(as)
#Tabayun #Toleransi #Khilafiah #Mazhab #Persaudaraan #Islam #Dakwah #AmarMaruf #UmatIslam #Adab


