Hati-Hati Menafsirkan Hadis 73 Golongan: Jangan Terjebak Ashabiyah Kelompok

Fatahillah313, Depok - Jangan menjadikan hadis tentang perpecahan umat sebagai senjata untuk merasa kelompok sendiri paling benar dan kelompok lain pasti sesat. 
Memahami hadis membutuhkan ilmu, kehati-hatian, dan ketakwaan.

Di tengah banyaknya kelompok, organisasi, mazhab, komunitas dakwah, dan ragam corak pemikiran Islam, hadis tentang terpecahnya umat menjadi 73 golongan kerap menjadi bahan perbincangan. 
Hadis tersebut bahkan tidak jarang dipakai untuk mengidentifikasi siapa yang dianggap berada di jalan keselamatan dan siapa yang ditempatkan sebagai kelompok yang tersesat.

Di sinilah kehati-hatian diperlukan.

Hadis tidak semestinya dibaca dengan semangat ashabiyah, yakni fanatisme yang membuat seseorang membela kelompok, golongan, etnis, organisasi atau identitas tertentu secara berlebihan. 
Apalagi jika fanatisme tersebut membuat seseorang merasa kelompoknya pasti benar, sementara kelompok lain dengan mudah dicap sesat, ahli neraka, atau tidak memiliki kebenaran sama sekali.

Hadis yang dijadikan dasar pembahasan ini diriwayatkan dari Sahabat ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: اَلْجَمَاعَةُ.

Artinya:

“Dari Sahabat ‘Auf bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
‘Umat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu golongan masuk surga dan 70 golongan masuk neraka. 
Umat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 golongan, 71 golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga. 
Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka.
’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ditanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka?’ 
Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’"
Hadis tersebut tercantum antara lain dalam Sunan Ibnu Majah nomor 3992, juga diriwayatkan melalui beberapa jalur lainnya. 
Sejumlah ulama hadis memberikan penilaian yang berbeda terhadap jalur dan redaksi riwayat-riwayat tentang perpecahan umat. 
Untuk riwayat ‘Auf bin Malik ini, terdapat ulama yang menilainya dapat diterima, sementara ada pula yang mempermasalahkan sebagian sanadnya. 
Karena itu, pernyataan bahwa hadis tersebut secara mutlak “pasti lemah” juga perlu dijelaskan berdasarkan riwayat dan sanad mana yang sedang dibahas, bukan sekadar berdasarkan klaim umum.


Jangan Jadikan Hadits tersebut sebagai Alat Menghakimi

Persoalan paling penting bukan hanya bagaimana menilai status hadis, tetapi juga bagaimana hadis tersebut dipahami.

Kalimat “al-jama’ah” tidak otomatis berarti nama organisasi tertentu, kelompok tertentu, komunitas tertentu, atau identitas tertentu yang muncul jauh setelah masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, seseorang tidak semestinya mengatakan, “Kami adalah al-jama’ah, maka kelompok kami pasti golongan yang selamat,” lalu menjadikan kelompok lain sebagai 72 golongan yang masuk neraka.

Cara berpikir seperti itu justru berpotensi mengubah peringatan Nabi menjadi alat pembenaran kelompok.

Padahal, Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas tentang persatuan umat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.
QS. Ali ‘Imran: 103.
Ayat tersebut tidak mengajarkan umat Islam untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan saling merendahkan. 
Sebaliknya, umat diperintahkan berpegang kepada tali Allah dan tidak terjebak dalam perpecahan.

Karena itu, pembahasan hadis tentang firqah tidak boleh dilepaskan dari keseluruhan prinsip Al-Qur’an mengenai persaudaraan, persatuan, keadilan, ilmu dan ketakwaan.


Ashabiyah Bisa Mengaburkan Kebenaran

Fanatisme kelompok menjadi persoalan ketika ukuran benar dan salah bukan lagi dalil, melainkan siapa yang mengucapkannya.

Jika pendapat datang dari kelompok sendiri, semuanya dianggap benar. 
Jika datang dari kelompok lain, semuanya dianggap salah.

Padahal kebenaran tidak berubah menjadi benar hanya karena diucapkan kelompok tertentu. 
Begitu pula kesalahan tidak otomatis menjadi benar hanya karena dilakukan orang yang kita kagumi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan peringatan keras mengenai fanatisme semacam itu.

Beliau bersabda:
مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَدْعُو عَصَبِيَّةً، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً، فَقِتْلَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ

Barang siapa berperang di bawah panji yang tidak jelas, menyeru kepada Ashobiyyah atau membela Ashobiyyah, lalu ia terbunuh, maka kematiannya adalah kematian jahiliah.
Riwayat dengan makna tersebut terdapat dalam Shahih Muslim, dan dinilai sahih.

Pesannya sangat penting: 
seseorang jangan membela sesuatu hanya karena itu milik kelompoknya, tanpa terlebih dahulu melihat apakah yang dibela merupakan kebenaran atau sekadar fanatisme.


Berbeda Tidak Selalu Berarti Bermusuhan

Islam memiliki sejarah panjang mengenai perbedaan pendapat. 
Para ulama dapat berbeda dalam memahami persoalan tertentu, tetapi perbedaan tidak selalu berarti permusuhan.

Karena itu, ketika seseorang membaca hadis tentang 73 golongan, pertanyaan pertama bukanlah, “Kelompok mana yang bisa saya masukkan ke dalam 72 golongan?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Apa yang dimaksud Nabi dengan al-jama’ah? 
Apa prinsip keselamatan yang dimaksud? 
Bagaimana hubungan hadis ini dengan Al-Qur’an dan Sunnah? 
Dan apakah seseorang berhak dengan mudah memastikan individu atau kelompok tertentu sebagai penghuni neraka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan ilmu, bukan emosi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengingatkan bahwa setelah beliau akan muncul banyak perbedaan. 
Dalam hadis dari al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan lurus. Peganglah erat-erat sunnah tersebut.
Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi; al-Tirmidzi menilainya sahih.

Dengan demikian, ketika terjadi perselisihan, ukuran utamanya bukan fanatisme kepada identitas kelompok, melainkan kembali kepada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan prinsip-prinsip agama.


Jangan Mengklaim Keselamatan untuk Kelompok Sendiri

Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Kami berusaha mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah,” dengan mengatakan, “Hanya kelompok kami yang benar dan semua yang berbeda pasti masuk neraka.

Kalimat pertama menunjukkan kerendahan hati. 
Kalimat kedua berpotensi berubah menjadi klaim keselamatan kelompok.

Padahal manusia tidak mengetahui seluruh isi hati manusia lainnya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
Ayat tersebut memberikan ukuran yang sangat penting: 
Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh nama kelompok, suku, keturunan, organisasi, atau identitas sosial, tetapi oleh ketakwaan.


“Al-Jama’ah” Bukan Alasan untuk Fanatik

Hadis ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu perlu dibaca sebagai peringatan terhadap perpecahan umat, bukan sebagai legitimasi untuk membangun tembok fanatisme.

Jika seseorang menggunakan hadis itu untuk mengingatkan dirinya agar tetap berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, menjaga persatuan, menjauhi penyimpangan dan memperbaiki akhlak, maka hadis tersebut menjadi nasihat yang mendidik.

Sebaliknya, apabila hadis digunakan untuk menyombongkan kelompok, merendahkan Muslim lain, mengkafirkan atau menyesatkan tanpa dasar yang sah, bahkan menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan, maka diperlukan kehati-hatian yang jauh lebih besar.

Al-Qur’an juga mengingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. Dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
QS. Al-Anfal: 46.
Pada akhirnya, hadis tentang 73 golongan bukanlah tiket bagi seseorang untuk menyatakan dirinya pasti selamat.

Ia adalah peringatan agar umat tidak kehilangan jalan ketika perbedaan semakin banyak.

Karena itu, jangan membaca hadis dengan kacamata ashobiyah. 
Jangan mengubah “al-jama’ah” menjadi sekadar nama kelompok. 
Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merasa paling suci.

Berpegang kepada kebenaran tetap penting. 
Mempertahankan prinsip juga penting. 
Namun semua itu harus disertai ilmu, keadilan, ketakwaan dan akhlak.

Sebab, ketika seseorang terlalu sibuk memastikan orang lain berada dalam golongan yang salah, ia bisa lupa melakukan pekerjaan yang jauh lebih penting:
Memastikan dirinya sendiri benar-benar berada di jalan yang diridhai Allah.


(as)
#Hadits #73Golongan #AlJamaah #Ashobiyah #Islam #AlQuran #Sunnah #PersatuanUmat #UkhuwahIslamiyah #Dakwah #KajianIslam #Aqidah #Akhlak