Di Depan Prabowo, Kiai Pimpinan Gontor Hasan Sahal Singgung Soal Ijazah


Fatahillah313, PONOROGO - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan sambutan dengan gaya khas yang memadukan kelakar, refleksi keagamaan, kritik sosial, dan penegasan tentang nilai-nilai yang selama ini menjadi dasar pendidikan Gontor.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026. 
Momentum satu abad Gontor tersebut dihadiri Presiden Prabowo, tokoh pendidikan, perwakilan negara sahabat, duta besar, alumni, serta ribuan santri.

Salah satu bagian sambutan yang paling menarik perhatian adalah ketika K.H. Hasan Sahal menyinggung fenomena “cari muka”
Pernyataan tersebut bermula dari candaan mengenai kehadiran Presiden Prabowo dalam acara satu abad Gontor.
Ia mengungkapkan bahwa sejak sebelumnya Prabowo menyampaikan akan hadir pada September, pikirannya terus tertuju pada kedatangan Presiden.
Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang. 
Nah, ini muka saya saya taruh di mana? 
Akhirnya saya harus cari muka. 
Sekarang banyak orang yang cari muka,
ujar K.H. Hasan Sahal dalam sambutannya.

Dari kelakar tersebut, Kiai Hasan kemudian memperluas makna “cari muka” dengan menyebut berbagai hal yang menurutnya banyak dicari.
Orang gak punya ijazah cari ijazah. 
Orang gak punya nama cari nama. 
Orang gak punya uang cari uang. 
Orang gak punya jabatan cari jabatan. 
Orang gak punya muka cari muka,
katanya.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan dan respons para hadirin. 
Kiai Hasan bahkan sempat menanggapi tepuk tangan tersebut dengan gaya bercanda karena menurutnya tepuk tangan muncul pada waktu yang tidak tepat.


Dari Ijazah hingga Jabatan

Kalimat tentang orang yang “tidak punya ijazah mencari ijazah” menjadi salah satu bagian yang kemudian banyak diberitakan dari sambutan tersebut. 
Namun, dalam konteks keseluruhan pidatonya, K.H. Hasan Sahal tidak menyebut nama orang maupun menunjuk secara spesifik pihak tertentu.

Sejumlah pemberitaan mengenai acara tersebut juga mencatat bahwa pernyataan “cari muka” disampaikan dalam bentuk guyonan. 
K.H. Hasan Sahal tidak menyebut nama atau merujuk secara spesifik kepada pejabat maupun pihak tertentu dalam bagian tersebut.

Karena itu, pernyataan mengenai ijazah, nama, uang, jabatan, dan “muka” berada dalam rangkaian kelakar yang disampaikan Kiai Hasan ketika berbicara mengenai kehadiran Presiden Prabowo.


Gontor dan Nilai Iman, Islam, Ihsan

Setelah bagian tersebut, sambutan K.H. Hasan Sahal bergerak kepada penjelasan mengenai prinsip yang menurutnya menjadi pegangan Gontor.

Di hadapan Presiden Prabowo, ia menegaskan bahwa Gontor berusaha tidak keluar dari nilai iman, Islam, dan ihsan sebagaimana ijtihad para pendirinya.

Ia juga menggambarkan Gontor sebagai lembaga yang tidak diarahkan untuk menghapus latar belakang organisasi keagamaan para santri. 
Menurutnya, santri dari lingkungan Nahdlatul Ulama tetap dapat kembali kepada lingkungan NU, sementara anak-anak Muhammadiyah yang belajar di Gontor juga tetap dapat kembali ke lingkungan Muhammadiyah.
Kiai Hasan memberikan sejumlah contoh hubungan tersebut. 
Ia menyebut ada pimpinan Nahdlatul Ulama yang pernah menjadi santri Gontor, sementara putra pengurus besar Muhammadiyah K.H. Badawi juga pernah belajar di Gontor.
Ia kemudian menggambarkan hubungan keluarga lintas organisasi tersebut dengan mengatakan banyak anak Muhammadiyah mempunyai anak atau menantu dari kalangan NU, begitu pula sebaliknya.

Dalam konteks dirinya sendiri, Kiai Hasan bahkan kembali menggunakan humor. 
Ia mengatakan dirinya kerap dianggap memiliki kecenderungan tertentu, tetapi justru menyebut bahwa para menantunya berasal dari kalangan NU.

Dari situlah ia melontarkan sebutan jenaka untuk dirinya: 
“Hasan Abdullah Aswabi”, yang ia jelaskan sebagai permainan kata dari “Aswaja-Wahabi”.


Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian

Bagian lain dari sambutannya diarahkan kepada sejarah dan orientasi Gontor.
K.H. Hasan Sahal menyampaikan bahwa sejak awal, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda, pendidikan Gontor diarahkan untuk mendidik dan memerdekakan bangsa serta umat dari kesesatan dan kekufuran.
Ia juga menyebut cita-cita untuk membebaskan bangsa dari ketergantungan.

Pernyataan tersebut sejalan dengan gambaran resmi Sekretariat Negara mengenai peringatan satu abad Gontor yang tidak hanya menjadi perayaan perjalanan masa lalu, tetapi juga momentum untuk melanjutkan pengabdian di bidang agama, masyarakat, bangsa, dan dunia pada abad berikutnya.

K.H. Hasan Sahal juga menyampaikan rasa syukur karena menurutnya kekuatan yang dimiliki Gontor mendapatkan penerimaan dari para presiden Indonesia.

Ia kemudian mengaitkan perjalanan tersebut dengan keyakinan kepada kehendak Allah.


Ketika Allah Membuka Jalan

Dalam sambutannya, Kiai Hasan menyampaikan keyakinan bahwa ketika Allah telah membuka sesuatu, tidak ada pihak yang dapat menutupnya. 
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa kecintaan Allah kepada seseorang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada penilaian manusia.

Pesan tersebut memiliki landasan yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:
 إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ.

Artinya: “Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu Jibril mencintainya dan menyerukan kepada penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka penghuni langit pun mencintainya, kemudian diberikan penerimaan untuknya di bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam Al-Qur’an, Allah juga menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
(QS. Al-Baqarah: 195).
Kiai Hasan kemudian menegaskan bahwa ukuran kemuliaan pada akhirnya bukan semata-mata penilaian manusia, melainkan bagaimana seseorang berada dalam kecintaan dan keridaan Allah.


Pemimpin dan Kesederhanaan

Menjelang akhir sambutannya, K.H. Hasan Sahal menyampaikan bagian yang berkaitan langsung dengan kehidupan pimpinan pondok.

Ia mengatakan kepada Presiden Prabowo bahwa dirinya terbuka untuk disaksikan dan dikritik apabila kehidupan yang dijalaninya melebihi kehidupan para santri.

Ia menyebut makanan, pakaian, kendaraan, dan rumah sebagai contoh.
Kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apalagi melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh,
ujarnya.

Ia bahkan menambahkan bahwa kritik dan demonstrasi pun diperbolehkan apabila dirinya hidup lebih berlebihan dibandingkan santri.

Pernyataan tersebut kemudian ditegaskan kembali sebagai gambaran mengenai apa yang ia sebut sebagai “Gontor”
Bagian sambutan tersebut sebagai ajakan kepada santri untuk memprotes atau mengkritik apabila kehidupan pimpinan melebihi kehidupan santri.

Prinsip kesederhanaan dan tanggung jawab tersebut dapat dikaitkan dengan hadis Rasulullah ﷺ:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Barang siapa merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim).


Wakaf Para Pendiri dan Satu Abad Gontor

K.H. Hasan Sahal kemudian mengingatkan bahwa para pendiri Gontor telah mewakafkan lembaga tersebut dengan keikhlasan.

Dalam keterangan resmi Sekretariat Negara, ia menyampaikan bahwa para pendiri Gontor telah mewakafkan ide, nilai, sistem, lembaga, dan cinta kepada bangsa Indonesia.

Resepsi kesyukuran satu abad Gontor menjadi bagian puncak rangkaian peringatan 100 tahun yang berlangsung pada 18–20 September 2026.
Dalam acara tersebut, K.H. Hasan Sahal juga menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia dan Mushaf Gontor kepada Presiden Prabowo. 
Mushaf tersebut merupakan hasil karya lingkungan santri dan guru Gontor, dengan proses penulisan yang telah dimulai sejak 2023. 

Presiden Prabowo kemudian menandatangani prasasti peresmian renovasi Aula Balai Pertemuan Pondok Modern serta prasasti peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor.

Di penghujung sambutannya, K.H. Hasan Sahal menyampaikan harapan agar kehadiran Presiden Prabowo dalam momentum satu abad Gontor menjadi bagian dari hubungan yang dilandasi kecintaan dan kepercayaan.

Satu abad perjalanan Gontor pun tidak hanya ditempatkan sebagai catatan sejarah. 
Bagi pimpinan pondok, momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan, pengabdian, keikhlasan, kesederhanaan, serta nilai iman, Islam, dan ihsan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan Gontor memasuki abad keduanya.
“Aswabi”, Humor yang Menggambarkan Ruang Toleransi Gontor

Di tengah sambutannya, K.H. Hasan Abdullah Sahal melontarkan istilah yang cukup menggelitik: 
Hasan Abdullah Aswabi.
Ia menggunakan istilah tersebut sebagai permainan kata dari Aswaja dan Wahabi, setelah sebelumnya bercanda bahwa dirinya dianggap memiliki kecenderungan Muhammadiyah atau “agak Wahabi”, sementara para menantunya justru berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama.

Istilah “Aswabi” dalam konteks sambutan tersebut bukan nama organisasi, mazhab, ataupun identitas keagamaan baru. 
Ia merupakan ungkapan humor K.H. Hasan Sahal untuk menggambarkan posisi dirinya yang tidak ingin dipersempit oleh sekat-sekat identitas organisasi.

Di titik inilah pernyataan tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan cara Gontor memosisikan para santrinya. 
K.H. Hasan Sahal menegaskan bahwa santri dari lingkungan Nahdlatul Ulama dapat masuk Gontor dan setelah menyelesaikan pendidikan tetap kembali menjadi bagian dari NU. 
Demikian pula anak-anak Muhammadiyah dapat belajar di Gontor tanpa harus kehilangan identitas organisasinya.

Dengan demikian, perbedaan NU dan Muhammadiyah tidak ditempatkan sebagai alasan untuk saling meniadakan. 
Perbedaan tradisi organisasi, corak pemikiran, maupun sejumlah persoalan keagamaan tetap ada, tetapi hubungan pendidikan dan persaudaraan dapat berjalan di atas perbedaan tersebut.

K.H. Hasan Sahal bahkan menyebut contoh tokoh Muhammadiyah yang pernah menjadi bagian dari lingkungan pendidikan Gontor. 
Ia menyebut K.H. Ahmad Badawi, salah seorang tokoh dan pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang putranya pernah belajar di Gontor. 
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara Gontor dan Muhammadiyah tidak berhenti pada perbedaan identitas organisasi.

Begitu pula dengan NU. K.H. Hasan Sahal menyebut adanya pimpinan Nahdlatul Ulama yang pernah menjadi santri Gontor dan kemudian memimpin organisasi tersebut. 
Di lingkungan keluarga para alumni pun, menurutnya, hubungan lintas organisasi berlangsung secara alamiah: 
Anak-anak Muhammadiyah memiliki pasangan dari keluarga NU, dan sebaliknya.
Gambaran itu memperlihatkan satu hal penting: 
Berbeda organisasi tidak otomatis berarti berbeda persaudaraan.
Begitu pula perbedaan mazhab dalam Islam. 
Dalam konteks Indonesia yang memiliki tradisi keislaman yang beragam, perbedaan fikih dan cara memahami persoalan keagamaan merupakan kenyataan yang telah berlangsung lama. 
Perbedaan tersebut tidak harus berubah menjadi pertentangan apabila masing-masing pihak mampu menjaga adab, menghormati keyakinan dan amaliah pihak lain, serta menempatkan persaudaraan Islam di atas kepentingan kelompok.

Gontor, sebagaimana tergambar dalam sambutan K.H. Hasan Sahal, ingin menempatkan pendidikan sebagai ruang perjumpaan. 
Santri datang dengan latar belakang keluarga, organisasi, tradisi, dan lingkungan keislaman yang beragam. 
Mereka belajar dalam satu lingkungan, hidup bersama, menjalankan pendidikan yang sama, kemudian kembali ke tengah masyarakat dengan latar belakang masing-masing.

Karena itu, humor tentang “Aswabi” tidak semata-mata bagian ringan dari pidato. 
Di balik kelakar tersebut terdapat gambaran tentang sebuah lingkungan pendidikan yang berusaha tidak menjadikan perbedaan organisasi sebagai tembok pemisah.

NU tetap NU, Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. 
Perbedaan mazhab tetap dihormati. 
Namun, ketika berada dalam satu lingkungan pendidikan, semuanya bertemu sebagai umat Islam, sebagai anak bangsa, dan sebagai manusia yang sama-sama belajar.

Barangkali di situlah salah satu makna penting dari perjalanan Gontor selama satu abad: 
Mendidik manusia agar memiliki keyakinan yang kuat tanpa harus kehilangan sikap menghargai orang yang berbeda.


(as)
#Gontor100Tahun #HasanSahal #Prabowo #Ijazah #CariMuka #Pesantren #PendidikanIslam #GontorIndonesia