Mengagungkan dan Membesarkan Nama Allah dengan Asma-Nya: Ya Dzul Jalāli wal Ikrām


Fatahillah313, Cileungsi, 2 Agustus 2026 – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Kajian JIHAD (Kajian Islam Hari Ahad) Pagi di Masjid Rabiatul Adawiyah, yang disampaikan oleh Ustadz Wukir Saputro, Lc.M.Pd.


Kajian kali ini mengajak jamaah meluruskan berbagai keyakinan yang keliru di tengah masyarakat, sekaligus menumbuhkan rasa pengagungan kepada Allah melalui pemahaman terhadap salah satu nama-Nya yang agung, Ya Dzul Jalali wal Ikram.

Ustadz Wukir membuka kajian dengan mengingatkan bahwa umat Islam kini memasuki bulan Safar. 
Beliau menegaskan bahwa Islam tidak mengenal bulan sial. 
Rasulullah ﷺ telah menghapus berbagai bentuk tahayul yang berkembang di masyarakat, seperti menganggap bulan Safar membawa kesialan, merasa sial karena burung tertentu hinggap di rumah, atau meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah.

Dalam Islam, segala sesuatu terjadi atas izin Allah. 
Penyakit memang dapat menular, namun bukan karena memiliki kekuatan sendiri, melainkan karena Allah menetapkan sebab dan akibat. 
Demikian pula, jika seseorang mengalami musibah pada bulan Safar, penyebabnya bukanlah karena bulannya, tetapi bisa jadi merupakan akibat dari dosa yang pernah dilakukan sehingga menjadi bahan muhasabah dan taubat kepada Allah.

Beliau kemudian menjelaskan pentingnya tafakkur, yaitu merenungkan setiap peristiwa yang Allah hadirkan dalam kehidupan. 
Sebagai contoh, Imam Abu Hanifah pernah dipenjara karena persoalan muamalah. 
Saat itu beliau tidak sibuk menyalahkan keadaan, tetapi justru mengoreksi dirinya. 
Dalam renungannya, beliau teringat bahwa puluhan tahun sebelumnya pernah melontarkan candaan yang menyakiti orang lain. 
Dari sinilah beliau mengambil pelajaran bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan kembali kepada pelakunya.

Sebaliknya, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas juga akan kembali kepada pelakunya. Ustadz mencontohkan kisah seorang marbot masjid yang memperoleh kesempatan berhaji sebagai tamu kehormatan Kerajaan Arab Saudi. Kehormatan tersebut tidak datang secara tiba-tiba, tetapi merupakan buah dari keikhlasan dan pengabdian yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Kajian juga mengangkat kisah Wail bin Hujr, seorang bangsawan dari Yaman yang akhirnya memeluk Islam setelah melihat kemenangan Rasulullah ﷺ dalam menegakkan agama Allah. 
Rasulullah ﷺ memberikan penghormatan kepadanya, bahkan menghadiahkan sebidang tanah. Saat itu, Muawiyah yang masih muda diminta menemani Wail bin Hujr. 
Namun dalam perjalanan, Wail enggan mempersilakan Muawiyah menaiki untanya ataupun memakai sandalnya.

Puluhan tahun kemudian keadaan berbalik. Muawiyah telah menjadi khalifah, sedangkan Wail datang untuk berbaiat. Dengan penuh penyesalan, Wail berkata, "Seandainya waktu dapat diputar kembali, niscaya aku akan menggendongmu." 
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan tidak pernah membawa kemuliaan, karena waktu terus berputar dan Allah-lah yang meninggikan atau merendahkan derajat seseorang.

Pada bagian inti kajian, Ustadz Wukir menjelaskan makna salah satu Asmaul Husna yang sangat agung, yaitu Ya Dzul Jalali wal Ikram, yang berarti "Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan." Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak diagungkan dan dimuliakan.

Beliau juga menjelaskan beberapa sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti Dzul 'Arsy (Pemilik Arsy), Dzul Quwwah (Pemilik Kekuatan), dan Dzul Matin (Pemilik Kekuatan yang sangat kokoh). Dalam Surah Ar-Rahman, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Dzul Jalali wal Ikram, yaitu Dzat Yang Maha Agung sekaligus Maha Mulia.

Mengutip penjelasan Imam Al-Qurthubi, nama tersebut menunjukkan keluasan rahmat, kemuliaan, dan keagungan Allah. 
Karena itu, seorang hamba hendaknya memperbanyak doa dengan menyebut, "Ya Dzul Jalali wal Ikram."

Ustadz Wukir juga mengingatkan bahwa setiap amal kebaikan sesungguhnya akan kembali kepada diri sendiri. Allah tidak membutuhkan ibadah, sedekah, ataupun syukur kita. 
Sebaliknya, kitalah yang memperoleh manfaatnya. 
Sebagaimana firman Allah, siapa yang berbuat baik maka manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri.

Beliau mengutip sabda Rasulullah ﷺ bahwa 
Sedekah tidak akan mengurangi harta, memaafkan tidak akan mengurangi kemuliaan, dan orang yang tawadhu karena Allah justru akan diangkat derajatnya oleh Allah. 
Maka, jangan pernah merasa rendah karena bersikap rendah hati, dan jangan pelit memaafkan karena itulah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa amal sebesar apa pun tidak akan bernilai apabila dikerjakan karena riya atau ingin dipuji manusia. 
Membangun masjid bernilai miliaran rupiah sekalipun tidak memiliki nilai di sisi Allah apabila tidak dilandasi keikhlasan.

Kajian ditutup dengan pesan agar umat Islam senantiasa memuliakan Allah melalui ibadah yang ikhlas, menghormati orang tua, memuliakan para ulama, serta menghormati pemimpin yang adil tanpa melakukan pemberontakan kepada penguasa.

Sebagai penutup, Ustadz Wukir mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak doa dengan menyebut "Ya Dzul Jalali wal Ikram", memohon agar Allah menganugerahkan kemuliaan, keikhlasan, serta menjauhkan kita dari godaan setan yang dahulu menjadi sebab terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga.

Barang siapa mencintai dan mengagungkan karena Allah, maka kelak Allah akan memuliakannya dengan mimbar-mimbar cahaya di hari kiamat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengagungkan-Nya dengan penuh keikhlasan. 
Aamiiiin.


(HE)
#AsmaulHusna #YaDzulJalaliWalIkram #MengagungkanAllah #KeagunganAllah #KajianIslam #JihadPagi #MasjidRabiatulAdawiyah #TadabburAlQuran #DzikirHarian #MenjemputRidhaAllah