Gelar Adat untuk Jokowi Kembali Tuai Polemik, Sejumlah Organisasi dan TOKOH ADAT TOLAK GELAR RAJA JOKOWI!, Budaya Jangan Dipolitisasi

Fatahillah313, Jakarta - Pemberian gelar adat kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya polemik serupa muncul di Lampung, kini wacana penobatan Jokowi sebagai "Sesepuh Raja-Raja Timur" atau pemberian gelar adat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) memicu perdebatan yang tidak kalah sengit.

Di satu sisi, terdapat kelompok yang menilai pemberian gelar adat merupakan bentuk penghormatan kepada seorang tokoh nasional. 
Namun di sisi lain, sejumlah tokoh adat, organisasi kepemudaan, hingga keturunan kerajaan di Pulau Timor menyuarakan keberatan. 
Mereka bukan semata menolak sosok penerimanya, melainkan mempertanyakan mekanisme pemberian gelar yang dinilai belum memenuhi tata cara adat yang berlaku.

Perdebatan tersebut kemudian berkembang menjadi diskursus yang lebih luas mengenai batas antara penghormatan budaya dan kepentingan politik.


Adat Dinilai Memiliki Mekanisme yang Sakral

Dalam tradisi masyarakat adat di berbagai daerah Indonesia, pemberian gelar bukan sekadar seremoni.

Gelar adat merupakan simbol kehormatan yang melekat pada sejarah, nilai budaya, tanggung jawab moral, hingga pengakuan sosial yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, sejumlah tokoh adat berpendapat bahwa setiap proses pemberian gelar seharusnya melalui musyawarah para pemangku adat yang memiliki legitimasi.

Pandangan tersebut juga disampaikan oleh Aliansi Cipayung Plus Kota Kupang.
Melalui pernyataannya, organisasi tersebut meminta agar rencana pemberian gelar adat kepada Jokowi tidak dilakukan secara sepihak apabila belum memperoleh persetujuan para pemangku adat yang berwenang.

Koordinator Aliansi Cipayung Plus Kota Kupang, Ilham, menegaskan bahwa adat memiliki mekanisme yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, gelar adat tidak bisa disamakan dengan penghargaan biasa.
Gelar adat bukan sekadar penghormatan seremonial, tetapi mengandung makna filosofis, historis, dan tanggung jawab moral. Karena itu pemberiannya harus melalui mekanisme adat yang benar.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat perhatian luas di media sosial dan menjadi salah satu alasan mengapa polemik terus berkembang.


Keturunan Kerajaan Juga Menyampaikan Keberatan

Selain organisasi kepemudaan, penolakan juga datang dari sejumlah pihak yang mengaku sebagai keturunan kerajaan di Pulau Timor.

Mereka menilai gelar seperti "Raja Timur" memiliki nilai historis yang tinggi sehingga tidak dapat diberikan tanpa proses adat yang sah.

Menurut mereka, legitimasi adat tidak dapat dibangun melalui keputusan kelompok tertentu saja.
Dalam tradisi kerajaan di wilayah Timor, keputusan-keputusan penting biasanya melibatkan para tetua adat serta struktur adat yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Karena itu, mereka meminta agar proses penghormatan terhadap siapa pun tetap menghormati aturan adat yang berlaku.


Mengulang Polemik Lampung

Polemik serupa sebenarnya bukan kali pertama terjadi.

Beberapa waktu sebelumnya, ketika Jokowi menerima gelar adat di Lampung, muncul pula perdebatan mengenai representasi lembaga adat yang memberikan gelar tersebut.
Saat itu, sebagian tokoh adat Lampung menyatakan bahwa pemberian gelar tersebut tidak mewakili keseluruhan struktur adat di daerah tersebut.
Perbedaan pandangan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai siapa sebenarnya yang memiliki kewenangan memberikan gelar adat atas nama suatu komunitas budaya.

Kini, situasi yang hampir serupa kembali terjadi di NTT.

Hal ini membuat sebagian pengamat menilai bahwa polemik bukan lagi mengenai figur Jokowi semata, melainkan tentang prosedur dan legitimasi budaya.


Nuansa Politik Jadi Sorotan

Salah satu isu yang paling banyak dibahas adalah dugaan adanya nuansa politik dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan kunjungan Jokowi.

Beberapa pihak menyoroti munculnya atribut maupun simbol partai politik pada dokumentasi kegiatan yang beredar di media sosial.

Hal tersebut memunculkan persepsi di tengah masyarakat bahwa acara adat dan kegiatan politik berpotensi bercampur.

Namun demikian, hingga kini belum terdapat pernyataan resmi yang menyatakan bahwa pemberian gelar adat tersebut merupakan bagian dari agenda politik tertentu.

Meski begitu, persepsi publik telah berkembang luas.
Sejumlah kalangan menilai, apabila sebuah prosesi adat berlangsung bersamaan dengan simbol-simbol politik, maka akan sulit menghindari munculnya penafsiran bahwa budaya sedang dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis.


Adat Jangan Kehilangan Marwah

Para pemerhati budaya mengingatkan bahwa adat merupakan identitas bangsa yang harus dijaga independensinya.

Indonesia memiliki ribuan komunitas adat dengan tata cara masing-masing.

Karena itu, setiap bentuk penghormatan budaya idealnya lahir dari musyawarah para pemangku adat, bukan semata keputusan panitia atau kelompok tertentu.
Apabila mekanisme adat diabaikan, yang dipertaruhkan bukan hanya legitimasi sebuah gelar, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi adat itu sendiri.

Banyak kalangan berharap agar perbedaan pandangan ini menjadi momentum memperkuat kembali posisi lembaga adat sebagai penjaga nilai budaya, bukan sebagai instrumen politik.


Respons Publik Terbelah

Di media sosial, perdebatan berlangsung sangat dinamis.

Sebagian warganet mendukung pemberian gelar sebagai bentuk penghormatan kepada mantan kepala negara.

Mereka menilai Jokowi memiliki jasa dalam pembangunan nasional sehingga layak menerima penghargaan dari berbagai daerah.

Namun kelompok lainnya mempertanyakan proses pemberian gelar tersebut.

Bagi mereka, persoalan utama bukan siapa yang menerima, melainkan apakah seluruh tahapan adat telah dijalankan sesuai tradisi.

Perdebatan pun berkembang ke berbagai isu, mulai dari sejarah kerajaan di Pulau Timor, legitimasi pemangku adat, hingga pentingnya menjaga netralitas budaya dari kepentingan politik.


Budaya Perlu Dijaga dari Polarisasi Politik

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ruang budaya semakin sering bersinggungan dengan ruang politik.

Di satu sisi, tokoh nasional memang dapat menerima penghormatan adat sebagai bentuk apresiasi masyarakat.

Namun di sisi lain, proses tersebut harus mampu menjaga kepercayaan publik bahwa adat tetap berdiri di atas nilai-nilai budaya, bukan kepentingan politik.

Para pemerhati budaya menilai polemik ini menjadi pengingat penting bahwa simbol-simbol adat memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar seremoni.

Setiap gelar membawa sejarah, filosofi, identitas kolektif, serta tanggung jawab moral yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, mekanisme pemberiannya perlu dilakukan secara transparan, melibatkan seluruh unsur adat yang berwenang, dan bebas dari kesan kepentingan politik praktis.


Menunggu Kejelasan dari Para Pemangku Adat

Hingga polemik ini berkembang di ruang publik, perhatian masyarakat masih tertuju pada sikap para pemangku adat di wilayah Timor maupun pihak-pihak yang menggagas pemberian gelar tersebut.

Apakah proses adat akan dilanjutkan, dikaji ulang, atau justru dibatalkan, masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawaban.

Yang jelas, polemik ini kembali membuka diskusi nasional mengenai pentingnya menjaga marwah adat di tengah dinamika politik modern.

Bagi banyak pihak, penghormatan kepada tokoh nasional tetap dapat diberikan. 
Namun penghormatan tersebut akan memiliki makna yang lebih kuat apabila lahir melalui mekanisme budaya yang sah, memperoleh legitimasi para tetua adat, dan terbebas dari persepsi kepentingan politik.


(as)
#Jokowi #GelarAdat #RajaTimur #NTT #Kupang #TokohAdat #BudayaIndonesia #PolitikIndonesia #AdatIstiadat #BeritaNasional #MajalahOnline #Indonesia