Ketika Metodologi Bicara: Keteguhan Mohamad Sobary di Tengah Debat Panas Rakyat Bersuara


Perdebatan soal keaslian ijazah Presiden kembali memanas dalam program Rakyat Bersuara yang dipandu oleh jurnalis senior Aiman Witjaksono.

Fatahillah313, Jakarta - Dalam episode yang berlangsung sengit, budayawan dan peneliti senior Mohamad Sobary tampil tenang namun tegas menghadapi serangkaian pertanyaan kritis dari pengacara Razman Arif Nasution.

Alih-alih terpancing emosi, Sobary justru mengarahkan diskusi ke satu hal mendasar: 

Metodologi ilmiah.
Di sinilah posisi Sobary terlihat jelas, bukan membela pihak tertentu, melainkan membela kebebasan akademik dan rasionalitas ilmu pengetahuan.

Segmen debat Sobary vs Razman dalam Rakyat Bersuara


Tenang, Rasional, dan Tak Mudah Terprovokasi 


Sejak awal, Sobary menegaskan bahwa dirinya tidak berada dalam posisi yang mudah dipengaruhi.
Orang umur 65 sulit terprovokasi. 
Apalagi saya sudah 73.
Saya penulis.
Saya tidak pernah bermaksud menghasut.

Baginya, pengaruh dalam dunia pemikiran adalah hal wajar, namun pengaruh itu bekerja melalui rasionalitas, bukan emosi.

Sebagai peneliti sepanjang kariernya, Sobary menempatkan diri dalam kerangka logika kebudayaan, bukan opini politik atau kepentingan praktis.


Dari Netral ke Berbicara: Karena Ilmu, Bukan Tekanan 

Host Aiman mempertajam pertanyaan: 
Mengapa Sobary yang semula tidak mengambil posisi, kini tampak membela pendekatan para peneliti?

Jawabannya sederhana namun penting:
Yang berubah pada saya adalah kesadaran bahwa saya memiliki ilmu yang bisa menjelaskan persoalan.

Sobary menekankan bahwa:
    • Ia tidak berbicara dalam ranah hukum
    • Ia tidak menentukan benar atau salah secara yuridis
    • Ia menilai proses ilmiah, bukan kesimpulan politik


Dalam dunia akademik, yang dinilai pertama adalah cara kerja penelitian.


Apa yang Dimaksud “Sahih” dalam Penelitian? 

Menurut Sobary, penelitian yang dilakukan oleh para pengkaji telah memenuhi dua standar utama:
    • Reliability: dapat dipercaya
    • Validity: sahih secara metodologis

Ia menggambarkan proses yang dilakukan mencakup:
    • Wawancara berlapis
    • Observasi
    • Studi dokumen dan arsip
    • Penelusuran historis

Ilmu itu bukan ideologi. 
Yang kita nilai adalah prosesnya. 
Kalau prosesnya benar, kesimpulannya menjadi meyakinkan.
Pernyataan ini menjadi titik penting: 
Sobary membela metodologi, bukan narasi politik.


Adu Argumen dengan Razman: Apakah Objek Harus Diwawancarai? 

Perdebatan memuncak ketika Razman mempertanyakan satu hal krusial: 
Apakah penelitian sah jika tidak mewawancarai pemilik ijazah?

Jawaban Sobary tegas:
Tidak wajib. dan itu pilihan.

Menurutnya:
    • Objek penelitian bisa berupa dokumen, jejak historis, atau sistem
    • Wawancara dengan pemilik adalah pilihan etik, bukan kewajiban metodologis
    • Peneliti tidak memiliki kewajiban hukum untuk memanggil narasumber

 

Yang diteliti ijazahnya, bukan manusianya.

Ia juga menambahkan bahwa pemanggilan individu adalah ranah penegak hukum, bukan peneliti independen.


Saksi Membebaskan, Bukan Meringankan 

Sobary bahkan menyebut posisinya sebagai “saksi membebaskan”, bukan sekadar meringankan.
Maknanya:
    • Penelitian adalah aktivitas akademik yang sah
    • Tidak ada kesalahan dalam melakukan kajian ilmiah
    • Tradisi intelektual harus dilindungi

Ia menegaskan:
Apa dosanya melakukan tindakan akademis? 
Apa dosanya membangun tradisi intelektual?


Dalam perspektifnya, jika ada yang ingin membantah, maka bantahlah:
    • Metodologinya
    • Pendekatannya
    • Analisisnya
    • Bukan dengan kriminalisasi.


Ilmu Bukan Kebenaran Mutlak 

Sobary juga memberi penekanan filosofis:
    • Ilmuwan tidak membawa kebenaran absolut
    • Ilmu bersifat relatif dan terbuka untuk diuji
    • Kritik harus dilakukan dalam wilayah akademik

 

Kalau tidak setuju, hantam metodologinya—bukan orangnya.

Di sinilah sikap ilmiah yang ia bela: 
Dialog rasional, bukan tekanan hukum atau politik.


Aiman: Debat Diperjelas, Substansi Dipertajam 

Sebagai host, Aiman memainkan peran penting dalam menjaga ritme diskusi. Ia terus menggali:
    • Konsistensi posisi Sobary
    • Batas antara metodologi dan kesimpulan
    • Perbedaan antara keyakinan dan validitas ilmiah

Hasilnya, perdebatan yang panas tetap berada di jalur substansi, membuka ruang bagi publik untuk memahami bagaimana ilmu bekerja, bukan sekadar siapa yang benar.

Makna Lebih Besar: 
Kebebasan Akademik di Ruang Publik Dari keseluruhan debat, pesan utama Sobary jelas:
    1. Penelitian adalah ruang bebas yang dijamin konstitusi
    2. Metodologi adalah standar utama, bukan opini
    3. Kritik harus dilakukan secara ilmiah
    4. Tradisi intelektual tidak boleh ditakuti

Dalam suasana publik yang mudah terpolarisasi, sikap tenang dan rasional Sobary menunjukkan satu hal penting: 
Ilmu pengetahuan membutuhkan keberanian untuk tetap objektif di tengah tekanan.


(as)
#RakyatBersuara #MohamadSobary #DebatNasional #MetodologiIlmiah #KebebasanAkademik #AimanWitjaksono #DiskursusPublik #IlmuDanDemokrasi #DebatIjazah #TradisiIntelektual