Silakan Bertabarruk, Kami Menyediakan Dalilnya

Membaca Ulang Tabarruk dalam Tradisi Sunni dan Polemik Wahhabi

Pendahuluan: Ketika Barakah Dipersoalkan

Di tengah umat Islam, tidak semua perbedaan lahir dari persoalan prinsip. 
Sebagian justru tumbuh dari cara memahami praktik keagamaan yang telah hidup berabad-abad. 
Tabarruk, upaya mencari barakah, adalah salah satu contoh nyata. 
Amalan ini hidup subur dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, namun pada saat yang sama dituduh sebagai bid‘ah, bahkan syirik, oleh kalangan Wahhabi.

Buku Dialog Sunni vs Wahhabi karya KH Luthfi Bashori hadir sebagai jawaban ilmiah dan historis: 
Jika tabarruk dianggap menyimpang, lalu bagaimana dengan praktik para sahabat Nabi sendiri?


Apa Itu Tabarruk? Definisi yang Kerap Disalahpahami

Tabarruk adalah upaya sengaja untuk mencari keberkahan (barakah) dari sesuatu yang diyakini baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. 
Bentuknya beragam:

    • Mengusap atau mengambil sesuatu
    • Meminum sisa air wudhu orang saleh
    • Mencium tangan guru atau ulama
    • Meminta doa dengan media air
    • Melakukan khidmah tanpa imbalan demi barakah

Intinya bukan pada benda, melainkan keyakinan bahwa Allah-lah sumber barakah, sementara benda atau orang saleh hanyalah wasilah.

Dalam praktik sosial, tabarruk juga tampil dalam bentuk yang sangat manusiawi: 
Seseorang mengabdi kepada gurunya, mengelola usaha sang kiai tanpa bayaran, bukan karena dunia, tetapi karena berharap limpahan barakah ilmu dan doa.


Tabarruk: Jejak Para Sahabat Nabi

Kisah Khalid bin Walid dan Rambut Nabi

Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami meriwayatkan bahwa Khalid bin Walid RA menyimpan rambut Nabi SAW di dalam songkoknya. 
Rambut itu diambil saat Nabi bertahallul umrah. 
Khalid bersaksi:
Tidaklah aku memimpin peperangan dengan songkok ini kecuali Allah memberiku kemenangan.

Ini bukan kisah simbolik, tetapi pengakuan langsung seorang panglima perang Islam.
Kesaksian Musuh Islam

Imam Bukhari meriwayatkan kesaksian Urwah bin Mas‘ud, tokoh kafir Quraisy, yang tercengang melihat perilaku sahabat:

    • Ludah Nabi diperebutkan untuk diusap ke wajah
    • Air wudhu Nabi hampir membuat mereka bertengkar
    • Suara diturunkan, pandangan ditundukkan karena hormat

Ironisnya, apa yang diakui musuh Islam sebagai bukti kecintaan sahabat, hari ini justru dituduh sebagai kesesatan.


Rambut, Keringat, Darah: Dalil yang Tak Terbantahkan

Dalam Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, hingga riwayat Thabarani dan Ahmad bin Hanbal, disebutkan secara eksplisit:

    • Rambut Nabi dibagikan kepada umat
    • Keringat Nabi ditampung Ummu Sulaim untuk keberkahan anak-anaknya
    • Darah hijamah Nabi diminum Safinah RA, dan Nabi tertawa, tidak mengingkari
    • Bekas minum Nabi disimpan untuk tabarruk
    • Pakaian Nabi dicuci, airnya diminum untuk penyembuhan

Semua itu terjadi tanpa satu pun larangan dari Rasulullah SAW.


Mencium Tangan, Mimbar, dan Jejak Nabi

Tradisi mencium tangan sahabat Nabi yang pernah berbaiat kepada Rasulullah SAW juga dicatat oleh Imam Bukhari dan Thabarani. 
Bahkan Ibnu Taimiyyah, tokoh yang sering dijadikan rujukan Wahhabi, mengakui bahwa:

    • Ibnu Umar
    • Sa‘id bin Musayyib
    • Yahya bin Sa‘id
    • mengusap mimbar Nabi SAW untuk tabarruk.

Fakta ini menampar keras narasi yang mengklaim tabarruk sebagai “ajaran baru”.


Kasus Kontemporer: Ketika Dalil Dikalahkan Otoritas

Masalah besar hari ini bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pelarangan paksa. 
Di Saudi Arabia, aparat melarang jamaah:

    • Menyentuh tirai makam Nabi SAW
    • Bertabarruk di makam Hamzah RA
    • Mendekati situs-situs bersejarah Islam

Larangan ini kerap dilakukan tanpa dialog ilmiah, bahkan dengan pendekatan represif. 
Inilah ironi terbesar: 
Dalil sahih diabaikan, sementara tafsir sempit dijadikan standar tunggal.


Garis Tegas Ahlussunnah: Tabarruk Bukan Syirik

KH Luthfi Bashori menegaskan dengan jelas:

    • Tabarruk ≠ menyembah benda
    • Tabarruk ≠ meminta pada selain Allah
    • Tabarruk = berharap barakah dari Allah melalui wasilah yang dimuliakan-Nya

Yang diharamkan adalah:

    • Menyembah kuburan
    • Memberi sesajen
    • Pesugihan, santet, togel
    • Mengkultuskan tokoh kafir atau pluralis lintas agama

Ahlussunnah wal Jama’ah membedakan dengan tegas antara barakah syar‘i dan kesyirikan.


Penutup: Menjaga Aqidah, Merawat Tradisi

Tabarruk bukan sekadar ritual, tetapi jejak cinta umat kepada Nabi dan orang-orang saleh. 
Menolaknya tanpa ilmu berarti memutus mata rantai sejarah Islam itu sendiri.

Semoga aqidah Sunni Aswaja Syafi‘iyah, sebagai arus utama umat Islam Indonesia, senantiasa dijaga Allah dari penyimpangan, baik yang berbalut tradisi sesat maupun yang berbungkus puritanisme kering tanpa kasih.
Tentang Penulis


Oleh: KH Luthfi Bashori
KH Luthfi Bashori
Pengasuh Pesantren Ribath Al-Murtadla & Pesantren Ilmu Al-Qur’an
Singosari – Malang

Pesan Buku:
Huda Muyas
📞 +62 813-3686-7886



#Tabarruk #SunniVsWahhabi #Aswaja #DalilTabarruk #KH_LuthfiBashori #IslamRahmatan #TradisiIslam #FiqihSunni