Gelombang Protes dan Wajah Aparat
Aksi unjuk rasa 25 Agustus 2025 lalu kembali memperlihatkan ketegangan antara rakyat yang menuntut keadilan dan aparat keamanan yang diturunkan untuk menghalau mereka. Mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat sipil turun ke jalan memperjuangkan hak, namun dihadapkan pada tindakan represif: mobil water cannon, gas air mata, hingga bentrokan yang menimbulkan luka.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah aparat masih berdiri di sisi rakyat, atau justru menjadi benteng penguasa? Padahal sejatinya polisi, tentara, jaksa, dan hakim lahir dari rahim rakyat, namun mengapa terkadang terasa lebih keras dari “ibu tiri”?
Sejumlah tokoh nasional pun menyoroti fenomena ini, terutama ketika isu sensitif seputar keaslian ijazah Presiden kembali mencuat.
Peringatan Rasulullah tentang Syurthah
Dalam khazanah Islam, profesi aparat atau penegak hukum sudah lama mendapat sorotan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Akan datang di akhir zaman aparat berseragam (polisi, tentara, jaksa, hakim) yang pada pagi harinya berada dalam kemurkaan Allah, dan sore harinya berada dalam kebencian Allah. Hati-hatilah kalian menjadi bagian dari mereka.”Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa istilah Syurthah merujuk pada aparat yang memiliki tanda pengenal seperti seragam, pangkat, atau atribut resmi. Hadits ini menjadi peringatan keras: jangan sampai aparatur negara berubah menjadi alat kedzaliman.
(HR. Ath-Thabarani, Al-Kabir, no. 7616)
Antara Alasan "Menjalankan Tugas" dan Beban Moral
Seringkali aparat berdalih: “Kami hanya menjalankan perintah.” Namun dalam tradisi keilmuan Islam, alasan ini tidak otomatis membebaskan dari tanggung jawab moral maupun hisab di akhirat.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh seorang sipir penjara yang bekerja pada penguasa dzalim. Sang sipir bertanya apakah ia termasuk “pembantu kedzaliman”. Imam Ahmad menjawab lugas:Bahkan orang yang sekadar melayani kebutuhan penguasa dzalim—dari memasak, menyiapkan pakaian, hingga menerima gaji dari hasil kedzaliman, ikut terhitung dalam lingkaran dosa.
Bukan hanya pembantu, melainkan pelaku kedzaliman itu sendiri.
Peringatan dari Al-Qur’an
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kelak para pengikut penguasa dzalim akan saling berlepas tangan. Mereka yang dulu taat buta pada perintah, pada akhirnya tidak bisa bersembunyi dari murka Allah.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kelak para pengikut penguasa dzalim akan saling berlepas tangan. Mereka yang dulu taat buta pada perintah, pada akhirnya tidak bisa bersembunyi dari murka Allah.
“Ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, serta terputuslah segala hubungan di antara mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 166)
“Dan orang-orang yang mengikuti berkata: Seandainya kami diberi kesempatan kembali, tentu kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.”
(QS. Al-Baqarah: 167)
Tugas Mulia yang Tergadai
Sejatinya, aparat keamanan dan penegak hukum adalah pelindung rakyat, pengayom masyarakat, serta penjamin keadilan. Namun ketika posisi ini tergadai oleh kepentingan rezim yang zalim, fungsi mulia tersebut tereduksi menjadi alat kekuasaan.
Konsekuensinya bukan hanya hilangnya kepercayaan rakyat, melainkan ancaman azab Allah yang amat berat.
Tulisan ini menjadi seruan moral:
Sejarah akan mencatat: pilihan aparat hanya dua, menjadi pelindung kebatilan yang terlaknat, atau pahlawan sejati yang syahid membela kebenaran
Penulis juga menyerukan agar Presiden mempertimbangkan kembali kepemimpinan Polri yang saat ini dipegang oleh non-Muslim, mengingat mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim, dan kemerdekaan bangsa ini banyak dipelopori oleh ulama, habaib, dan santri.
Semoga aparat penegak hukum kembali kepada fitrah amanahnya: menjaga keadilan, melindungi rakyat, dan menjadi jalan turunnya rahmat Allah atas negeri ini.
Oleh : Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd., M.Pd., Gr
Sejatinya, aparat keamanan dan penegak hukum adalah pelindung rakyat, pengayom masyarakat, serta penjamin keadilan. Namun ketika posisi ini tergadai oleh kepentingan rezim yang zalim, fungsi mulia tersebut tereduksi menjadi alat kekuasaan.
Konsekuensinya bukan hanya hilangnya kepercayaan rakyat, melainkan ancaman azab Allah yang amat berat.
Tulisan ini menjadi seruan moral:
- Berhentilah menjadi pelindung rezim zalim. Jadilah pelindung rakyat yang menuntut hak dan keadilan.
- Ingatlah amanah seragam. Pangkat dan jabatan bukan tameng dari hisab Allah.
- Nasihati keluarga. Jangan biarkan istri dan anak ikut menikmati hasil kedzaliman, sebab itu hanya akan menyeret seluruh keluarga ke dalam kehinaan.
- Berani menolak perintah zalim. Aparat sejati adalah yang menegakkan keadilan meski berhadapan dengan atasan atau penguasa.
Sejarah akan mencatat: pilihan aparat hanya dua, menjadi pelindung kebatilan yang terlaknat, atau pahlawan sejati yang syahid membela kebenaran
Penulis juga menyerukan agar Presiden mempertimbangkan kembali kepemimpinan Polri yang saat ini dipegang oleh non-Muslim, mengingat mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim, dan kemerdekaan bangsa ini banyak dipelopori oleh ulama, habaib, dan santri.
Semoga aparat penegak hukum kembali kepada fitrah amanahnya: menjaga keadilan, melindungi rakyat, dan menjadi jalan turunnya rahmat Allah atas negeri ini.
Oleh : Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd., M.Pd., Gr
#Syurthah #AkhirZaman #Aparat #Polisi #Tentara #Jaksa #Hakim #Keadilan #Rakyat #RezimZalim #Demonstrasi2025 #Islam #Hadis #ImamAhmad #PenegakHukum


