JIHAD MALAM DI MASJID RABIATUL ADAWIYAH



Kajian Kitab Al-Adzkar Karya Imam An-Nawawi

Minggu, 23 Agustus 2026

Bersama Guru Kita, Ustadz Ahmad Muti, Lc., M.S.I.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu yang Allah berikan, semoga kita mampu beramal dengan baik dan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya. Semoga kelak kita mendapatkan syafaat beliau di Padang Mahsyar.

Pada kesempatan Jihad Petang kali ini, kita kembali melanjutkan kajian Kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi. Materi yang dibahas berkaitan dengan dzikir, doa, serta sikap seorang muslim dalam menghadapi kemaksiatan, kezaliman, dan berbagai penyimpangan dalam kehidupan.

Mendoakan Orang yang Dizalimi

Pada kajian sebelumnya telah dibahas mengenai doa terhadap orang-orang yang melakukan kezaliman, khususnya kezaliman yang dilakukan terhadap kaum muslimin.

Dalam sejarah, Rasulullah SAW pernah mendoakan kebinasaan dan memberikan doa terhadap kelompok yang melakukan kezaliman besar kepada kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim diperbolehkan memohon kepada Allah agar kezaliman dihentikan dan orang-orang yang melakukan kezaliman mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Dalam konteks kehidupan saat ini, pembahasan tersebut mengingatkan kita pada penderitaan yang dialami bangsa Palestina akibat konflik dan kezaliman yang terjadi. Sebagai umat Islam, kita dapat mendoakan saudara-saudara kita yang tertindas agar Allah memberikan pertolongan, perlindungan, keselamatan, dan kemenangan atas kezaliman.

Doa juga menjadi bagian penting dalam perjuangan umat Islam. Dalam sejarah bangsa Indonesia, para pejuang tidak hanya berjuang dengan kekuatan fisik dan senjata, tetapi juga dengan doa dan ketawakalan kepada Allah SWT.

Berlepas Diri dari Kemaksiatan dan Perbuatan Tercela

Materi berikutnya membahas pentingnya seorang muslim berlepas diri dari perbuatan maksiat, kemungkaran, dan berbagai perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Salah satu contoh yang dibahas adalah kebiasaan meratapi orang yang telah meninggal secara berlebihan. Dari kisah Abu Musa Al-Asy’ari, dijelaskan tentang sikap seorang muslim yang tidak membenarkan perbuatan tersebut.

Dalam Islam, seorang muslim hendaknya menghadapi kematian dengan kesabaran, menerima ketetapan Allah, dan mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Kesedihan adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi jangan sampai diwujudkan dalam bentuk perbuatan yang dilarang oleh agama.

Waspada terhadap Penyimpangan dalam Memahami Qadha dan Qadar

Kajian kemudian membahas tentang pentingnya memahami qadha dan qadar dengan benar.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan sikap berlepas diri dari kelompok-kelompok yang menyimpang dalam memahami persoalan takdir.

Di antara kelompok yang dibahas adalah:

1. Qadariyah

Kelompok ini dikaitkan dengan pandangan yang memberikan penekanan berlebihan terhadap kebebasan manusia dalam menentukan perbuatannya sehingga mengingkari atau mengurangi peran takdir Allah SWT.

2. Jabariyah

Kelompok ini dikaitkan dengan pandangan bahwa manusia seolah-olah tidak memiliki pilihan karena segala sesuatu dianggap telah dipaksakan oleh takdir Allah.

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah mengambil jalan tengah. Seorang muslim wajib meyakini adanya takdir Allah SWT, tetapi pada saat yang sama tetap diperintahkan untuk berikhtiar, berdoa, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Karena itu, tidak benar jika seseorang melakukan kezaliman kemudian mengatakan, “Ini sudah takdir Allah.” Allah telah memberikan manusia akal, kemampuan memilih, dan kesempatan untuk berusaha.

Menghindari wabah, menjaga kesehatan, mencari rezeki, menuntut ilmu, serta berusaha menghindari keburukan merupakan bentuk ikhtiar. Semua ikhtiar tersebut tetap berada dalam lingkup takdir Allah SWT.

Membersihkan Lisan dengan Istighfar

Pembahasan selanjutnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu tentang menjaga lisan.

Seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Kebiasaan mengucapkan kata-kata kotor, kasar, keji, dan menyakitkan orang lain merupakan kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan.

Rasulullah SAW memberikan salah satu solusi untuk membersihkan diri dari berbagai kesalahan, yaitu dengan memperbanyak istighfar.

Rasulullah SAW sendiri senantiasa memperbanyak istighfar dan dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau beristighfar seratus kali dalam sehari.

Karena itu, hendaknya kita membiasakan membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ

Astaghfirullah — “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Istighfar bukan hanya diucapkan ketika kita melakukan dosa besar. Istighfar seharusnya menjadi amalan harian seorang muslim.

Salah satu waktu yang baik untuk membiasakannya adalah setelah melaksanakan shalat wajib.

Istighfar Membuka Pintu Kebaikan

Istighfar memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Dengan memperbanyak istighfar, seorang hamba mengakui kelemahan dirinya dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Istighfar juga menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan dan keberkahan dari Allah.

Dalam Al-Qur’an, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya untuk memperbanyak istighfar. Di antara buah istighfar yang disebutkan adalah turunnya hujan, bertambahnya harta dan anak-anak, serta datangnya berbagai karunia Allah SWT.

Hasan Al-Bashri rahimahullah juga dikenal memberikan nasihat agar seseorang memperbanyak istighfar ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk ketika mengharapkan keturunan dan keluasan rezeki.

Karena itu, jangan pernah meremehkan istighfar.

Boleh jadi sebuah masalah belum selesai bukan karena Allah tidak mendengar doa kita, tetapi Allah sedang mengajarkan kepada kita untuk lebih dekat kepada-Nya, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, dan meningkatkan ketakwaan.

Penutup

Kajian Al-Adzkar mengajarkan kepada kita bahwa dzikir dan doa bukan sekadar ucapan di lisan. Keduanya harus menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim.

Kita belajar untuk mendoakan orang yang dizalimi, menjauhi kemaksiatan, berhati-hati dalam memahami qadha dan qadar, menjaga lisan, serta membiasakan diri memperbanyak istighfar.

Semoga ilmu yang kita peroleh pada kajian Jihad Petang di Masjid Rabiatul Adawiyah ini tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, mengampuni dosa-dosa kita, melindungi kita dari kemaksiatan, memberikan kekuatan untuk menghadapi kezaliman, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdzikir dan bersyukur.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(he)

#JihadPetang #MasjidRabiatulAdawiyah #KajianIslam #AlAdzkar #ImamNawawi #UstadzAhmadMuti #KajianKitab #DzikirDanDoa #Istighfar #PerbanyakIstighfar #TuntunanRasulullah #MajelisIlmu