Kajian Kitab At-Tadzkirah: Taubat, Kematian, dan Bekal Menuju Allah




 Oleh: Ustadz Najwani Abu Albar, S.Th.I.M.M.


Pengajian Ahad Pagi (Jihad), 16 Agustus 2026
Masjid Rabiatul Adawiyah, Cileungsi

Mari kita awali kajian ini dengan membaca Sayyidul Istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT. Semoga dengan memperbanyak istighfar, Allah menjauhkan kita dari perbuatan maksiat, membersihkan hati, dan memberikan kekuatan untuk senantiasa kembali kepada-Nya.

Mensyukuri Kemerdekaan dengan Mendekat kepada Allah

Kemerdekaan adalah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Karena itu, sudah semestinya kemerdekaan kita syukuri bukan hanya dengan kegembiraan, tetapi juga dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah.

Hakikat kemerdekaan bagi seorang Muslim bukan sekadar terbebas dari penjajahan manusia. Kemerdekaan yang paling hakiki adalah merdeka dari ketergantungan kepada seluruh makhluk dan hanya bergantung kepada Allah SWT.

Karena itu, alangkah indahnya jika perayaan kemerdekaan diisi dengan kegiatan yang membawa keberkahan dan semakin mendekatkan kita kepada Allah. Jangan sampai kegembiraan justru diisi dengan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Misalnya, perlombaan yang membuat kaum laki-laki mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian perempuan. Memang mungkin mengundang tawa dan dianggap lucu, tetapi seorang Muslim perlu mempertimbangkan: apakah sesuatu yang kita lakukan hanya menghibur manusia, atau juga bernilai di hadapan Allah?

Demikian pula apabila ada perlombaan yang mengandung unsur perjudian atau taruhan. Hal tersebut tentu lebih jauh lagi dari nilai-nilai syariat Islam. Jangan sampai atas nama kemeriahan kemerdekaan, kita justru melakukan sesuatu yang dapat mengurangi keberkahan nikmat kemerdekaan itu sendiri.

Taubat dan Amalan Penebus Dosa

Baik, kita lanjutkan kajian Kitab At-Tadzkirah, khususnya mengenai taubat dan amalan-amalan yang menjadi jalan bagi seorang hamba untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.

Salah satu perkara yang harus selalu kita ingat adalah kematian. Kematian bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan berikutnya.

Dalam berbagai riwayat dan penjelasan para ulama, digambarkan bagaimana keadaan seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut. Ketika malaikat maut datang kepada seorang hamba yang beriman dan saleh, ia tidak datang dengan membawa ketakutan semata, tetapi dengan kabar dan penghormatan dari Allah SWT.

Allah berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai."

(QS. Al-Fajr: 27–28)

Betapa indah keadaan seorang mukmin ketika menghadapi akhir kehidupannya. Setelah menjalani kehidupan dengan iman, taubat, amal saleh, dan menjauhi maksiat, ia mendapatkan sambutan yang menenangkan dari para malaikat.

Dalam riwayat tentang perjalanan ruh, digambarkan bahwa kepada ruh seorang mukmin dikatakan:

“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah.”

Sebaliknya, bagi orang yang selama hidupnya memilih keburukan dan menolak jalan Allah, keadaan yang dihadapi akan berbeda. Ruh yang buruk mendapatkan perlakuan yang buruk dan menghadapi ancaman azab Allah.

Gambaran tentang kematian dan kehidupan setelahnya bukan untuk menakut-nakuti manusia semata, tetapi agar kita mempersiapkan diri sebelum kematian benar-benar datang.

Allah telah memberikan peringatan melalui wahyu dan Rasul-Nya agar kita tidak menjadi orang yang terkejut ketika ajal tiba. Kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak taubat, memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan.

Bekal yang Akan Kita Bawa

Pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah harta, jabatan, rumah, kendaraan, atau kemasyhuran. Yang kita bawa adalah iman dan amal saleh.

Makanan yang kita konsumsi hendaknya halal. Pakaian yang kita kenakan hendaknya baik dan halal. Harta yang kita kumpulkan hendaknya berasal dari jalan yang halal. Karena semua itu akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.

Setelah seseorang meninggal, perjalanan ruh berlanjut. Dalam berbagai riwayat dijelaskan tentang ruh yang dibawa oleh para malaikat dan diperlihatkan perjalanan menuju alam berikutnya.

Kemudian manusia memasuki alam kubur. Ruh dikembalikan kepada jasadnya dan datanglah dua malaikat, Munkar dan Nakir, untuk menguji dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar:

مَنْ رَبُّكَ؟

Siapa Tuhanmu?

مَا دِينُكَ؟

Apa agamamu?

مَنْ نَبِيُّكَ؟

Siapa nabimu?

Jawaban itu bukan sekadar hafalan. Jawaban tersebut merupakan cerminan dari bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia.

Rindu Bertemu Allah

Seorang mukmin sejati akan memiliki kerinduan kepada Allah. Ketika kehidupan dunia berakhir, ia berharap bertemu dengan Rabb yang selama hidupnya ia cintai dan sembah.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuannya. Sebaliknya, orang yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak menyukai pertemuannya.

Ada kisah yang masyhur tentang Nabi Ibrahim AS. Ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya, Nabi Ibrahim sempat merasa enggan meninggalkan kehidupan dunia. Kemudian disampaikan kepadanya makna yang menggugah hati:

"Wahai Ibrahim, apakah engkau tidak rindu bertemu dengan kekasihmu?"

Mendengar hal tersebut, kerinduan kepada Allah mengalahkan rasa berat meninggalkan dunia.

Inilah pelajaran yang sangat dalam bagi kita.

Orang yang mengenal Allah akan merindukan Allah. Orang yang mencintai Allah akan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah.

Maka mari kita manfaatkan sisa umur ini untuk memperbanyak istighfar, bertaubat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki ibadah, memperbanyak shalawat, bersedekah, berbuat baik kepada sesama, serta meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjauhkan kita dari Allah.

Semoga ketika malaikat maut datang, kita termasuk hamba yang dipanggil dengan penuh kelembutan:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

(he)

#KajianIslam #KitabAtTadzkirah #Taubat #Istighfar #SayyidulIstighfar #MengingatKematian #BekalAkhirat #AmalSholeh #MendekatKepadaAllah