Terlalu sibuk menilai siapa yang berbicara, sampai lupa mendengarkan apa yang sedang disampaikan.
Kalimat seperti, “Lu siapa?”, “Bukan bidang lu,”, “Lu nggak ngerti agama, nggak usah bahas agama,”, “Sok tahu lu,”, “Nggak pantas,” atau “Lu bukan ustaz,” sering kali terdengar sebagai bentuk kehati-hatian.
Tetapi dalam situasi tertentu, kalimat-kalimat itu justru dapat berubah menjadi tembok yang menghalangi masuknya pengetahuan.
Sebab ilmu tidak selalu datang dengan pakaian akademik.
Tidak selalu muncul dari ruang kuliah.
Tidak selalu disampaikan oleh orang yang memiliki gelar panjang di belakang namanya.
Dan yang paling penting:
- Kadang ilmu datang dari pengalaman hidup.
- Kadang muncul dari kegagalan.
- Kadang lahir dari pergaulan.
- Kadang tumbuh dari perjalanan panjang seseorang menghadapi manusia, konflik, kesalahan, kehilangan, perjuangan, dan perubahan.
Dan yang paling penting:
Kebenaran sebuah gagasan tidak otomatis menjadi salah hanya karena orang yang menyampaikannya bukan tokoh yang kita anggap berhak berbicara.
Ilmu Tidak Selalu Datang dari Ruang Kelas
Kita memang membutuhkan pendidikan formal.
Kita membutuhkan guru, dosen, ulama, ahli, peneliti, profesional, dan orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
Tetapi kehidupan manusia jauh lebih luas daripada ruang kelas.
Seseorang mungkin tidak memiliki gelar psikologi, tetapi pengalaman hidupnya membuat dia memahami karakter manusia dengan sangat tajam.
Seseorang mungkin bukan ahli ekonomi, tetapi bertahun-tahun mengelola usaha membuatnya memahami bagaimana keputusan ekonomi bekerja dalam kehidupan nyata.
Memang ada wilayah keagamaan yang membutuhkan otoritas, metodologi, ilmu tafsir, hadis, fikih, usul fikih, dan disiplin keilmuan lainnya.
Tetapi kehidupan manusia jauh lebih luas daripada ruang kelas.
Seseorang mungkin tidak memiliki gelar psikologi, tetapi pengalaman hidupnya membuat dia memahami karakter manusia dengan sangat tajam.
Seseorang mungkin bukan ahli ekonomi, tetapi bertahun-tahun mengelola usaha membuatnya memahami bagaimana keputusan ekonomi bekerja dalam kehidupan nyata.
Seseorang mungkin bukan sejarawan, tetapi perjalanan hidup, bacaan, diskusi, dan pergaulannya membuat dia memiliki perspektif sejarah yang menarik untuk didengar—meskipun tentu tetap perlu diverifikasi.Begitu pula dalam persoalan agama.
Memang ada wilayah keagamaan yang membutuhkan otoritas, metodologi, ilmu tafsir, hadis, fikih, usul fikih, dan disiplin keilmuan lainnya.
Dalam persoalan hukum agama yang spesifik, tentu kita harus menghormati orang yang memang memiliki kompetensi.
Namun, membatasi seluruh pembicaraan tentang agama hanya berdasarkan status formal pembicaranya juga bukan cara yang sehat dalam mencari ilmu.
Pertanyaannya bukan sekadar, “Siapa yang bicara?”
Pertanyaan berikutnya adalah:
Di situlah kedewasaan intelektual diuji.
Namun, membatasi seluruh pembicaraan tentang agama hanya berdasarkan status formal pembicaranya juga bukan cara yang sehat dalam mencari ilmu.
Pertanyaannya bukan sekadar, “Siapa yang bicara?”
Pertanyaan berikutnya adalah:
Apa yang dia sampaikan?
Apa dasar pemikirannya?
Apakah argumennya masuk akal?
Apakah ada sumber yang dapat diperiksa?
Apakah gagasan itu membawa kita kepada pemahaman yang lebih baik?
Di situlah kedewasaan intelektual diuji.
Jangan Bunuh Gagasan Hanya Karena Tidak Suka Pembicaranya
Salah satu jebakan dalam diskusi adalah argumentum ad hominem:
Menyerang pribadi pembicara alih-alih menguji argumentasinya.
Dia bukan ustadz.
Dia bukan akademisi.
Dia bukan orang pesantren.
Dia bukan orang dalam bidang itu.
Dia masih muda.
Dia cuma orang biasa.
Gue tau die.
Semua itu belum menjawab satu pertanyaan penting:
Apakah apa yang dia katakan benar atau salah?
- Kalau salah, bantahlah dengan argumentasi.
- Kalau keliru, tunjukkan kekeliruannya.
- Kalau sumbernya lemah, tunjukkan sumber yang lebih kuat.
- Kalau pemahamannya tidak tepat, luruskan dengan ilmu.
Sebab seseorang bisa salah dalam satu perkara dan benar dalam perkara lain.
Seseorang bisa tidak kompeten dalam satu bidang, tetapi memiliki pengalaman berharga dalam bidang lainnya.
Bahkan orang yang tidak kita sukai sekalipun mungkin sesekali menyampaikan sesuatu yang benar.
Dan di situlah kebesaran hati diperlukan.
Menerima kebenaran tidak harus berarti mengagungkan orang yang menyampaikannya.
Kita Tidak Pernah Tahu Seluruh Perjalanan Hidup Seseorang
Sering kali manusia menilai orang berdasarkan apa yang terlihat hari ini.
Kita melihat seseorang dalam satu video.
Mendengar satu ceramah.
Membaca satu tulisan.
Melihat satu komentar.
Lalu merasa sudah mengetahui siapa dirinya.
Padahal kita tidak tahu perjalanan hidupnya secara utuh.
Kita tidak tahu dengan siapa dia bergaul.
Kita tidak tahu buku apa yang pernah dia baca.
Kita tidak tahu guru-guru yang pernah membentuk pemikirannya.
Kita tidak tahu pengalaman pahit yang pernah mengubah cara pandangnya.
Kita tidak tahu berapa banyak orang yang pernah dia temui.
Kita tidak tahu berapa banyak diskusi yang pernah dia jalani.
Kita bahkan sering tidak tahu bahwa seseorang yang terlihat sederhana ternyata pernah bersilaturahmi dengan banyak kalangan:
Ulama, akademisi, pengusaha, aktivis, seniman, pekerja, masyarakat bawah, hingga orang-orang dengan pengalaman hidup yang sangat berbeda.
Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan kapasitas seseorang hanya dari penampilan atau profesinya adalah bentuk kesombongan intelektual.
Pergaulan Adalah Universitas Kehidupan
Ada ilmu yang diperoleh melalui buku.
Ada ilmu yang diperoleh melalui pendidikan.
Ada ilmu yang diperoleh melalui penelitian.
Tetapi ada pula ilmu yang hanya bisa ditemukan melalui pergaulan dan silaturahmi.
Bertemu manusia dari berbagai latar belakang memperluas perspektif.
Berbicara dengan orang yang berbeda usia mengajarkan cara melihat dunia dari generasi lain.
Berinteraksi dengan orang berbeda profesi memperlihatkan persoalan dari sudut yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Bahkan pergaulan dengan orang-orang yang berbeda pandangan dapat menjadi sumber pembelajaran yang luar biasa.
Syaratnya satu: mau mendengar.Silaturahmi bukan sekadar berjabat tangan atau bertukar kabar.
Dalam pengertian yang lebih luas, silaturahmi adalah perjumpaan manusia dengan manusia yang membuka kemungkinan pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan kebijaksanaan.
Karena itu, jangan menganggap remeh seseorang hanya karena latar belakang hidupnya berbeda dari kita.
Bisa jadi dia memiliki satu pengalaman yang belum pernah kita alami.
Dan satu pengalaman itu mungkin cukup untuk mengubah cara kita memahami sebuah persoalan.
Ada perbedaan antara berbicara tentang sesuatu dan mengklaim diri sebagai ahli dalam sesuatu.
Seseorang boleh mendiskusikan agama tanpa mengaku sebagai ulama.
Seseorang boleh membicarakan ekonomi tanpa mengaku sebagai ekonom.
Seseorang boleh membahas politik tanpa mengklaim dirinya sebagai ilmuwan politik.
Seseorang boleh bertanya tentang hukum tanpa mengaku sebagai ahli hukum.
Yang penting adalah kejujuran posisi.
Jangan mengaku ahli kalau memang bukan ahli.
Tetapi jangan pula menganggap seseorang tidak boleh menyampaikan pemikiran hanya karena dia bukan ahli.
Di sinilah budaya diskusi yang sehat seharusnya dibangun.
Pengalaman penting.
Karena itu, jangan menganggap remeh seseorang hanya karena latar belakang hidupnya berbeda dari kita.
Bisa jadi dia memiliki satu pengalaman yang belum pernah kita alami.
Dan satu pengalaman itu mungkin cukup untuk mengubah cara kita memahami sebuah persoalan.
“Bukan Bidang Lu” Bukan Berarti “Tidak Boleh Berpikir”
Ada perbedaan antara berbicara tentang sesuatu dan mengklaim diri sebagai ahli dalam sesuatu.
Seseorang boleh mendiskusikan agama tanpa mengaku sebagai ulama.
Seseorang boleh membicarakan ekonomi tanpa mengaku sebagai ekonom.
Seseorang boleh membahas politik tanpa mengklaim dirinya sebagai ilmuwan politik.
Seseorang boleh bertanya tentang hukum tanpa mengaku sebagai ahli hukum.
Yang penting adalah kejujuran posisi.
Jangan mengaku ahli kalau memang bukan ahli.
Tetapi jangan pula menganggap seseorang tidak boleh menyampaikan pemikiran hanya karena dia bukan ahli.
Di sinilah budaya diskusi yang sehat seharusnya dibangun.
Kompetensi penting.Tetapi argumentasi juga penting.
Otoritas penting. Tetapi kebenaran tetap harus diuji.
Pengalaman penting.
Tetapi pengalaman juga tidak boleh dianggap sebagai pengganti seluruh disiplin ilmu.
Keduanya harus ditempatkan secara proporsional.
Belajar Menjadi Pendengar yang Cerdas
Menjadi manusia berilmu bukan berarti selalu menjadi orang yang paling banyak bicara.
Kadang justru orang berilmu adalah orang yang mampu berkata:
Kemudian ia mendengar.
Ia memeriksa.
Ia bertanya.
Ia membandingkan.
Ia mencari sumber.
Ia mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya mungkin keliru.
Sikap semacam ini jauh lebih sehat daripada langsung menolak sebuah gagasan hanya karena pembicaranya tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Jangan jadikan identitas sebagai pengganti argumentasi.
Jangan jadikan gelar sebagai tameng dari kritik.
Jangan jadikan status sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Dan jangan menjadikan ketidaksukaan kepada seseorang sebagai alasan untuk menutup telinga terhadap sesuatu yang mungkin benar.
Pada Akhirnya, Ilmu Menuntut Kerendahan Hati
Ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.
Semakin banyak seseorang belajar, semestinya semakin dia sadar bahwa dunia pengetahuan begitu luas.
Ada banyak hal yang kita tahu.
Tetapi jauh lebih banyak hal yang belum kita tahu.
Dengarkan dahulu gagasannya.
Bandingkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
Sebab ilmu tidak akan pernah berkembang jika setiap pintu pengetahuan dijaga oleh pertanyaan:
Itulah semangat intelektual yang sehat.
Bukan berarti semua orang otomatis benar.
Bukan berarti semua pendapat harus diterima.
Bukan pula berarti keahlian dan otoritas tidak penting.
Justru sebaliknya:
Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya belajar dari mereka yang berdiri di podium.
Manusia juga belajar dari mereka yang ditemuinya dalam perjalanan.
Bahkan terkadang dari seseorang yang sejak awal tidak pernah kita sangka akan memberi pelajaran.
Jadi, jangan hanya melihat siapa yang berbicara.
Tangkap apa yang disampaikan.
Sebab bisa jadi, orangnya bukan siapa-siapa bagi kita—tetapi satu kalimat yang dia sampaikan justru menjadi ilmu yang mengubah cara kita melihat kehidupan.
Keduanya harus ditempatkan secara proporsional.
Belajar Menjadi Pendengar yang Cerdas
Menjadi manusia berilmu bukan berarti selalu menjadi orang yang paling banyak bicara.
Kadang justru orang berilmu adalah orang yang mampu berkata:
Saya belum tahu.
Kemudian ia mendengar.
Ia memeriksa.
Ia bertanya.
Ia membandingkan.
Ia mencari sumber.
Ia mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya mungkin keliru.
Sikap semacam ini jauh lebih sehat daripada langsung menolak sebuah gagasan hanya karena pembicaranya tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Jangan jadikan identitas sebagai pengganti argumentasi.
Jangan jadikan gelar sebagai tameng dari kritik.
Jangan jadikan status sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Dan jangan menjadikan ketidaksukaan kepada seseorang sebagai alasan untuk menutup telinga terhadap sesuatu yang mungkin benar.
Pada Akhirnya, Ilmu Menuntut Kerendahan Hati
Ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.
Semakin banyak seseorang belajar, semestinya semakin dia sadar bahwa dunia pengetahuan begitu luas.
Ada banyak hal yang kita tahu.
Tetapi jauh lebih banyak hal yang belum kita tahu.
Karena itu, ketika seseorang berbicara, jangan buru-buru melihat pakaiannya, gelarnya, pekerjaannya, kelompoknya, usia, masa lalunya, atau lingkungan pergaulannya.
Dengarkan dahulu gagasannya.
- Tangkap pesannya.
- Uji argumentasinya.
- Periksa sumbernya.
Bandingkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
- Jika benar, ambillah.
- Jika salah, luruskan.
- Jika belum jelas, pelajari.
Sebab ilmu tidak akan pernah berkembang jika setiap pintu pengetahuan dijaga oleh pertanyaan:
Siapa lu?Pertanyaan yang lebih dewasa adalah:
Apa yang bisa saya pelajari dari apa yang lu sampaikan?
Itulah semangat intelektual yang sehat.
Bukan berarti semua orang otomatis benar.
Bukan berarti semua pendapat harus diterima.
Bukan pula berarti keahlian dan otoritas tidak penting.
Justru sebaliknya:
Semakin serius kita mencari kebenaran, semakin penting kemampuan membedakan antara siapa yang berbicara, apa yang dikatakan, apa dasarnya, dan sejauh mana kebenarannya.
Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya belajar dari mereka yang berdiri di podium.
Manusia juga belajar dari mereka yang ditemuinya dalam perjalanan.
- Dari guru.
- Dari orang tua.
- Dari sahabat.
- Dari lawan.
- Dari kegagalan.
- Dari pergaulan.
- Dari silaturahmi.
Bahkan terkadang dari seseorang yang sejak awal tidak pernah kita sangka akan memberi pelajaran.
Jadi, jangan hanya melihat siapa yang berbicara.
Tangkap apa yang disampaikan.
Sebab bisa jadi, orangnya bukan siapa-siapa bagi kita—tetapi satu kalimat yang dia sampaikan justru menjadi ilmu yang mengubah cara kita melihat kehidupan.
(as)


