Fatahillah313, Yogyakarta, Agustus 2025 – Polemik peluncuran buku “Jokowi’s White Paper” karya Roy Suryo, Rismon Hasiholan, dan dr. Tifa semakin menyeret nama Universitas Gadjah Mada (UGM) ke sorotan publik. Apa yang seharusnya menjadi acara akademik penuh kebanggaan justru berubah menjadi drama penuh ketegangan: pembatalan mendadak, tudingan politis, hingga insiden listrik padam yang disebut sebagai “sabotase.”
Kronologi Awal: Dari Pemesanan Ruang ke Penolakan Kampus
- Proses pemesanan ruang UC Hotel UGM diklaim sudah dilakukan secara sah oleh panitia. Namun, dua hari sebelum acara, pihak kampus menolak dengan alasan “tidak sesuai prosedur”.
- UGM mengembalikan uang sewa dan menegaskan bahwa acara tersebut bukan bagian dari kegiatan resmi universitas.
- Dalam surat internal, UGM menekankan bahwa acara ini dianggap politis dan sensitif, sehingga tidak bisa difasilitasi oleh institusi akademik.
Beberapa sumber internal UGM menyebutkan bahwa pembatalan ini dipicu oleh tekanan eksternal, baik dari kalangan pejabat pemerintah maupun jaringan alumni yang pro-pemerintah. Seorang staf kampus yang tidak ingin disebutkan namanya menyebut: “Pihak rektorat tidak mau menanggung risiko reputasi bila acara ini dikaitkan dengan politik anti-Jokowi.”
Perpindahan Lokasi & Insiden Listrik Padam
Karena tidak bisa memakai ruang Nusantara UC Hotel, panitia memindahkan acara ke coffee shop di area yang sama.
Namun, saat acara baru dimulai, insiden terjadi: lampu dan AC tiba-tiba padam ketika doa berlangsung.
Tim teknis UC Hotel menyebut bahwa pemadaman listrik bersifat lokal dan bukan karena gangguan PLN. Namun, mereka enggan memberi penjelasan lebih detail. Hal ini memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut bukan kebetulan, melainkan disengaja.
Konten Buku: Tuduhan Palsu pada Ijazah Jokowi
Buku setebal hampir 700 halaman ini menjadi pemicu kontroversi karena menuding bahwa ijazah Jokowi tidak asli.
Isi buku dibagi ke dalam tiga bagian utama:
Roy Suryo: Analisis digital forensik, menyebut “skripsi Jokowi 99,9% palsu.”
Rismon Hasiholan: Penelitian teknis tentang watermark, format RGB vs CMYK, dan pola grafis.
dr. Tifa: Analisis perilaku, mengaitkan gaya komunikasi Jokowi dengan latar akademiknya.
Buku ini diklaim sebagai bentuk “pembersihan nama baik UGM”, karena Jokowi tercatat sebagai alumnus yang kerap diragukan keabsahan dokumennya.
Pernyataan-pernyataan dalam buku ini bisa berdampak hukum besar, terutama tuduhan pemalsuan dokumen. Namun hingga kini, pihak Jokowi belum memberi respon resmi.
Analisis: Siapa yang Paling Diuntungkan?
Karena tidak bisa memakai ruang Nusantara UC Hotel, panitia memindahkan acara ke coffee shop di area yang sama.
Namun, saat acara baru dimulai, insiden terjadi: lampu dan AC tiba-tiba padam ketika doa berlangsung.
- Roy Suryo langsung menuding adanya “tangan-tangan jahil” yang sengaja ingin mengacaukan jalannya acara.
- Beberapa saksi menyebut bahwa gangguan listrik hanya terjadi di ruangan tempat acara, sementara area lain tetap menyala.
Tim teknis UC Hotel menyebut bahwa pemadaman listrik bersifat lokal dan bukan karena gangguan PLN. Namun, mereka enggan memberi penjelasan lebih detail. Hal ini memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut bukan kebetulan, melainkan disengaja.
Konten Buku: Tuduhan Palsu pada Ijazah Jokowi
Buku setebal hampir 700 halaman ini menjadi pemicu kontroversi karena menuding bahwa ijazah Jokowi tidak asli.
Isi buku dibagi ke dalam tiga bagian utama:
Roy Suryo: Analisis digital forensik, menyebut “skripsi Jokowi 99,9% palsu.”
Rismon Hasiholan: Penelitian teknis tentang watermark, format RGB vs CMYK, dan pola grafis.
dr. Tifa: Analisis perilaku, mengaitkan gaya komunikasi Jokowi dengan latar akademiknya.
Buku ini diklaim sebagai bentuk “pembersihan nama baik UGM”, karena Jokowi tercatat sebagai alumnus yang kerap diragukan keabsahan dokumennya.
Pernyataan-pernyataan dalam buku ini bisa berdampak hukum besar, terutama tuduhan pemalsuan dokumen. Namun hingga kini, pihak Jokowi belum memberi respon resmi.
Analisis: Siapa yang Paling Diuntungkan?
Jika dicermati, ada beberapa pihak yang “berkepentingan” dalam kasus ini:
Peluncuran “Jokowi’s White Paper” lebih dari sekadar acara buku. Ia adalah benturan kepentingan antara politik, akademik, dan reputasi kampus.
Pertanyaan yang tersisa:
Apakah insiden listrik padam hanya kebetulan teknis—atau sinyal bahwa ada kekuatan besar yang benar-benar tidak menginginkan kebenaran ini terbuka?
- Roy Suryo & tim: Mendapat panggung publik dan legitimasi sebagai “pembongkar kebenaran.”
- UGM: Berusaha menjaga jarak agar tidak dicap sebagai kampus anti-pemerintah.
- Pemerintah/istana: Punya kepentingan untuk meredam isu ijazah agar tidak membesar.
Peluncuran “Jokowi’s White Paper” lebih dari sekadar acara buku. Ia adalah benturan kepentingan antara politik, akademik, dan reputasi kampus.
Pertanyaan yang tersisa:
Apakah insiden listrik padam hanya kebetulan teknis—atau sinyal bahwa ada kekuatan besar yang benar-benar tidak menginginkan kebenaran ini terbuka?
(as)

