Menurut Mahfud, pola ini tercermin dalam langkah-langkah Presiden Prabowo Subianto. Rencana kenaikan PPN 12% yang tiba-tiba dibatalkan setelah kritik publik, serta kelangkaan gas elpiji 3 kg yang seolah dibiarkan mencuat sebelum diselesaikan cepat, disebutnya sebagai contoh nyata.
“Ini bukan sekadar respons darurat, melainkan strategi politik. Membiarkan publik resah, lalu datang sebagai penyelamat,” ujar Mahfud.
Namun, di balik strategi yang cerdik itu, Mahfud mengingatkan: masalah mendasar seperti korupsi dan lemahnya institusi hukum tidak cukup ditangani dengan pola ‘muncul di ujung’. “Integritas aparat penegak hukum jauh lebih penting daripada sekadar kebijakan populis,” tegasnya.
Politik Sabar dan Transformasi Citra
Pujian justru datang dari lingkaran dekat Prabowo. Dahnil Anzar Simanjuntak, mantan jubir yang lama mendampingi, menyebut gaya sang presiden sebagai politik sabar.
“Beliau selalu menunggu momentum yang tepat, tidak tergesa-gesa. Setiap keputusan dipikirkan agar rakyat terlindungi dan bahagia,” kata Dahnil.
Sementara itu, pengamat politik Adi Prayitno menilai Prabowo tengah melakukan transformasi citra. Dari figur militer yang kaku, keras, dan cenderung elitis, kini ia tampil lebih ramah, cair, bahkan aktif di media sosial.
“Ini strategi untuk menarik generasi muda, khususnya Gen Z, yang butuh kedekatan emosional dengan pemimpin,” ujar Adi.
Transformasi ini diperkuat pengamat Hasyibulloh Mulyawan. Menurutnya, komunikasi Prabowo kini lebih personal, bahkan jenaka. “Publik melihat seorang presiden yang bersahaja, bukan sekadar jenderal dengan wibawa kaku,” katanya.
Politik Merangkul: Dari Lawan Jadi Kawan
Gaya merangkul juga kerap ditonjolkan Prabowo. Ujang Komarudin, pengamat Universitas Al-Azhar Indonesia, menilai keberhasilan Prabowo merangkul Partai Solidaritas Indonesia (PSI) — yang sebelumnya kritis — menunjukkan jiwa besar seorang pemimpin pemersatu.
“Dalam politik, jarang ada tokoh yang bisa mengubah lawan jadi kawan tanpa dendam. Itu kekuatan Prabowo,” kata Ujang.
Hal ini senada dengan analisis Hendri Satrio, pendiri KedaiKOPI, yang menyebut gaya politik Prabowo semakin canggih. Ia menilai keputusan menggandeng Gibran Rakabuming sebagai cawapres adalah manuver brilian yang mengunci kemenangan.
“Canggihnya Prabowo adalah tahu kapan harus maju, kapan menahan diri. Itu insting politik yang tidak dimiliki semua orang,” ucap Hendri.
Patriot, Tapi Juga Dituding Otoriter
Bahkan mantan rivalnya, Anies Baswedan, menyebut Prabowo sebagai seorang patriot modern.
“Beliau paham bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan oposisi, dan ia menghargai itu,” ujar Anies.
Namun, di ruang publik, suara kritis tetap nyaring. Beberapa kalangan mengaitkan Prabowo dengan bayangan Orde Baru. Usulannya soal pemilihan kepala daerah secara tidak langsung disebut mirip pola lama yang sentralistik. Penempatan sejumlah perwira aktif TNI di posisi sipil juga memicu tudingan menghidupkan kembali dwifungsi ABRI.
Di forum-forum media sosial, komentar pedas berseliweran. “Ini gaya Orba banget,” tulis seorang pengguna Reddit menanggapi ide pilkada tidak langsung.
Politik Joko Tingkir: Efektif atau Manipulatif?
Dari semua pandangan itu, benang merahnya jelas: gaya politik Prabowo adalah perpaduan paradoks. Ia dipuji sebagai pemimpin yang sabar, komunikatif, dan pemersatu, tapi juga dicurigai menggunakan strategi manipulatif untuk tampil sebagai penyelamat, sementara akar masalah belum tersentuh.
Bagi pendukungnya, langkah-langkah itu menunjukkan kepemimpinan cerdas yang mampu menenangkan gejolak. Namun bagi pengkritiknya, strategi ala Joko Tingkir hanya menciptakan ilusi penyelesaian, tanpa reformasi struktural yang nyata.
Prabowo sendiri jarang merespons langsung tudingan ini. Ia lebih sering menampilkan senyum, candaan, atau gestur sederhana yang kontras dengan citra keras masa lalunya.
Apakah strategi “politik Joko Tingkir” akan memperkuat legitimasi kepemimpinannya atau justru menjadi bumerang di masa depan? Publik Indonesia, dengan memori panjang akan Orde Baru, tentu akan terus menimbang-nimbang.
Dari semua pandangan itu, benang merahnya jelas: gaya politik Prabowo adalah perpaduan paradoks. Ia dipuji sebagai pemimpin yang sabar, komunikatif, dan pemersatu, tapi juga dicurigai menggunakan strategi manipulatif untuk tampil sebagai penyelamat, sementara akar masalah belum tersentuh.
Bagi pendukungnya, langkah-langkah itu menunjukkan kepemimpinan cerdas yang mampu menenangkan gejolak. Namun bagi pengkritiknya, strategi ala Joko Tingkir hanya menciptakan ilusi penyelesaian, tanpa reformasi struktural yang nyata.
Prabowo sendiri jarang merespons langsung tudingan ini. Ia lebih sering menampilkan senyum, candaan, atau gestur sederhana yang kontras dengan citra keras masa lalunya.
Apakah strategi “politik Joko Tingkir” akan memperkuat legitimasi kepemimpinannya atau justru menjadi bumerang di masa depan? Publik Indonesia, dengan memori panjang akan Orde Baru, tentu akan terus menimbang-nimbang.
(as)


