Pengajian Hari Ahad (JIHAD): Bertafakur, Muhasabah, dan Menjemput Husnul Khatimah


Fatahillah313, Cileungsi – Suasana penuh khidmat menyelimuti Pengajian Hari Ahad (JIHAD) yang diselenggarakan di Masjid Rabiatul Adawiyah, Cileungsi, pada Ahad, 26 Juli 2026.

Kajian yang diasuh oleh Ustadz Ahmad Faisol bin Yunus Jamalulail ini mengupas Kitab Risalatul Mu'awanah, yang berisi tuntunan agar seorang muslim senantiasa istiqamah dalam beribadah hingga meraih akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Mengawali kajiannya, Ustadz Ahmad Faisol mengingatkan tujuan utama penciptaan manusia sebagaimana firman Allah SWT:
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Beliau mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak tafakur dan muhasabah, merenungkan betapa sedikitnya amal ibadah yang telah dilakukan dibandingkan dengan begitu banyak dosa dan kelalaian yang masih menyertai kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surat Al-Mu'minun ayat 115, bahwa manusia tidak diciptakan dengan sia-sia. 
Setiap amal dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. 
Tidak ada satu pun amal, sekecil apa pun, yang luput dari catatan dua malaikat, Raqib dan Atid.
Beliau menegaskan sebuah kaidah penting:
Balasan yang akan diterima seseorang bergantung pada amal yang telah dikerjakannya.

Ustadz Ahmad Faisol kemudian mengajak jamaah untuk merenungkan berbagai bentuk kelalaian yang sering terjadi dalam kehidupan. 
Mengapa Al-Qur'an mulai jarang dibaca? Mengapa pendidikan agama terhadap anak sering diabaikan? 
Mengapa aurat masih tidak dijaga? 
Semua itu, menurut beliau, merupakan bentuk tipu daya yang membuat manusia lalai dari tujuan hidupnya.
Beliau mengutip perkataan Imam Junaid, yang ketika ditanya mengapa seseorang berani bermaksiat, menjawab bahwa salah satu sebabnya adalah karena Allah SWT begitu lembut dalam menutupi aib hamba-hamba-Nya. 
Seandainya setiap dosa langsung tampak di hadapan manusia, niscaya tidak ada yang berani berbuat maksiat.
Beliau menjelaskan bahwa pada umat para nabi terdahulu, seperti pada masa Nabi Musa AS, terdapat riwayat yang menggambarkan betapa beratnya konsekuensi kemaksiatan. 
Sementara umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan kasih sayang yang begitu besar karena Allah SWT masih menutupi banyak dosa hamba-hamba-Nya dan senantiasa membuka pintu taubat selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Dalam kajian tersebut, beliau juga menjelaskan keutamaan bersiwak, yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Siwak merupakan amalan yang dicintai Allah SWT dan dibenci oleh setan. 
Bahkan Rasulullah SAW sangat menganjurkannya, karena termasuk sunnah yang membawa keberkahan dan menjadi salah satu sebab dimudahkannya seorang hamba ketika menghadapi sakaratul maut.
Mengenai akhir kehidupan, beliau menyampaikan pesan yang sangat menyentuh:

Orang yang selalu khawatir terhadap akhir hidupnya dan takut tidak mendapatkan husnul khatimah, insya Allah itu merupakan tanda kebaikan. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya pasti husnul khatimah justru perlu waspada agar tidak terjerumus dalam rasa aman yang berlebihan.

Beliau juga mengingatkan bahwa semakin bertambah usia seseorang, khususnya ketika telah memasuki usia lanjut, hendaknya semakin memperbanyak husnuzan kepada Allah SWT, disertai rasa takut kepada-Nya yang mendorong lahirnya semangat beribadah.
Ustadz Ahmad Faisol menekankan pentingnya memilih lingkungan dan teman yang baik. 
Menurut beliau, salah satu faktor terbesar yang memengaruhi keimanan seseorang adalah pergaulan.
Carilah teman yang mengajak kita menuju surga, mengajak ke majelis ilmu, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Beliau juga mengingatkan agar kaum muslimin tidak sampai disibukkan oleh urusan dunia hingga meninggalkan Al-Qur'an, shalat, sedekah, dan berbagai amal saleh lainnya.
Mengutip doa yang sering dipanjatkan kaum muslimin:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.

Beliau menjelaskan bahwa doa tersebut harus dibuktikan dengan amal nyata. 
Jika menginginkan kebaikan di akhirat, maka harus dibuktikan dengan menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, memperbanyak sedekah, dan istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Di penghujung kajian, Ustadz Ahmad Faisol mengingatkan bahwa umur manusia sangat terbatas. Jatah hidup dan jatah kubur telah ditetapkan Allah SWT. 
Karena itu, setiap hari hendaknya menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.

Jangan biarkan hari Ahad ini sama dengan Ahad yang telah berlalu. Hari-hari yang kita lewati akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT atas seluruh amal yang kita kerjakan.

Beliau menutup kajiannya dengan mengajak seluruh jamaah untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, menjaga istiqamah dalam ibadah, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita umur yang penuh keberkahan, hati yang istiqamah dalam ketaatan, serta mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah. 
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.


Jurnalis: Hapzon Effendi
Fatahillah313