Fatahillah313, Jakarta - Persidangan yang berlangsung di Kota Solo kembali memanas.
Pada sesi keempat ini, perhatian publik tertuju pada sosok Dr. Tifa yang hadir memberikan keterangan terkait analisis ilmiah atas foto dan dokumen yang dipersoalkan.
Teknologi Analisis Wajah Jadi Pusat Perdebatan
(as)
Namun, bukan hanya substansi analisis yang menjadi bahan diskusi, melainkan juga latar belakang akademik, metode penelitian, hingga validitas pendekatan teknologi yang digunakannya.
Sidang berubah menjadi arena debat ilmiah yang tajam antara ahli dan tim kuasa hukum, mencerminkan kompleksitas perkara yang kini tidak hanya bersentuhan dengan aspek hukum, tetapi juga sains, teknologi, dan metodologi penelitian modern.
Latar Akademik Dipertanyakan, Dr. Tifa Tegaskan Kompetensi
Sidang berubah menjadi arena debat ilmiah yang tajam antara ahli dan tim kuasa hukum, mencerminkan kompleksitas perkara yang kini tidak hanya bersentuhan dengan aspek hukum, tetapi juga sains, teknologi, dan metodologi penelitian modern.
Latar Akademik Dipertanyakan, Dr. Tifa Tegaskan Kompetensi
Multidisipliner Di awal sesi, kuasa hukum menyoroti curriculum vitae dan posisi akademik Dr. Tifa.
Menanggapi hal tersebut, ia menjelaskan bahwa dirinya tengah menempuh dua program doktoral sekaligus:
Menurutnya, kombinasi dua disiplin ini melahirkan pendekatan baru yang ia sebut sebagai Neuropolitika, sebuah upaya memahami fenomena sosial-politik melalui perspektif ilmu otak dan perilaku.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh studi dan riset dilakukan dengan pendanaan pribadi sebagai bentuk dedikasi untuk membantu menjawab persoalan publik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Soal Publikasi: “Saya Sudah Melampaui Tahap Jurnal”
- Bidang Kedokteran (Neuroscience Behavior) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Bidang Ilmu Sosial dan Politik (Neuropolitika) di Universitas Padjadjaran
Menurutnya, kombinasi dua disiplin ini melahirkan pendekatan baru yang ia sebut sebagai Neuropolitika, sebuah upaya memahami fenomena sosial-politik melalui perspektif ilmu otak dan perilaku.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh studi dan riset dilakukan dengan pendanaan pribadi sebagai bentuk dedikasi untuk membantu menjawab persoalan publik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Soal Publikasi: “Saya Sudah Melampaui Tahap Jurnal”
Pertanyaan berikutnya menyinggung publikasi ilmiah dan indeks jurnal internasional seperti Scopus.
Menariknya, Dr. Tifa menyatakan bahwa dirinya tidak lagi berfokus pada publikasi jurnal.
Ia mengibaratkan posisinya sebagai “oracle” dalam dunia pengetahuan, mengacu pada tokoh-tokoh klasik seperti:
Menurutnya, kontribusi pengetahuan kini dituangkan dalam buku.
Ia mengibaratkan posisinya sebagai “oracle” dalam dunia pengetahuan, mengacu pada tokoh-tokoh klasik seperti:
- Socrates
- Plato
- Galileo Galilei
Menurutnya, kontribusi pengetahuan kini dituangkan dalam buku.
Ia mengklaim tengah menyiapkan sekitar 40 buku, dengan lima di antaranya sudah terbit.
Teknologi Analisis Wajah Jadi Pusat Perdebatan
Bagian paling teknis dalam sidang terjadi ketika kuasa hukum menguji metode analisis yang digunakan.
Dr. Tifa menjelaskan bahwa ia memanfaatkan teknologi Facial Action Coding System (FACS), sistem yang membaca pergerakan otot wajah berdasarkan kode aksi (Action Units).
Metode ini, kata dia, melibatkan:
Ia menegaskan perannya bukan sebagai pembuat teknologi, melainkan sebagai user yang menginterpretasikan hasilnya.
Untuk mempermudah pemahaman, ia menggunakan analogi sederhana:
Foto, Video, dan Tingkat Akurasi
Metode ini, kata dia, melibatkan:
- Analisis hingga 42 otot wajah
- Pemrosesan matematis
- Simulasi statistik menggunakan metode Monte Carlo
- Perbandingan hingga 50.000 sampel otomatis oleh sistem
Ia menegaskan perannya bukan sebagai pembuat teknologi, melainkan sebagai user yang menginterpretasikan hasilnya.
Untuk mempermudah pemahaman, ia menggunakan analogi sederhana:
Seperti memasak capcai, tidak perlu membuat saus tiram sendiri, cukup menggunakan produk yang sudah tersedia.
Foto, Video, dan Tingkat Akurasi
Dr. Tifa juga menjelaskan bahwa analisis tidak hanya dilakukan pada foto, tetapi juga pada 52 video yang kemudian di-capture menjadi frame gambar.
Ia menekankan bahwa secara matematis, video hanyalah kumpulan foto yang bergerak.
Hasil analisis yang dipaparkan menunjukkan tingkat perbedaan hingga sekitar 92,37%, yang menurutnya merupakan hasil berbasis perhitungan eksakta dan telah mengendalikan berbagai noise seperti:
Ia menegaskan bahwa ketika hasil sudah berbentuk angka matematis, maka perdebatan seharusnya bergeser dari opini menuju pembahasan ilmiah.
Sumber Data Ikut Disorot
Hasil analisis yang dipaparkan menunjukkan tingkat perbedaan hingga sekitar 92,37%, yang menurutnya merupakan hasil berbasis perhitungan eksakta dan telah mengendalikan berbagai noise seperti:
- Ekspresi berbeda
- Sudut pengambilan gambar
- Pergerakan wajah
Ia menegaskan bahwa ketika hasil sudah berbentuk angka matematis, maka perdebatan seharusnya bergeser dari opini menuju pembahasan ilmiah.
Sumber Data Ikut Disorot
Kuasa hukum kemudian mempertanyakan validitas sumber data, termasuk kemungkinan perubahan pada materi yang diunggah pihak lain.
Dr. Tifa menjawab bahwa ia menggunakan materi yang diunggah pada satu waktu tertentu dan menganggapnya sebagai gold standard berdasarkan pernyataan pemiliknya.
Di sisi lain, ia juga membedakan antara:
Ketegangan Ilmiah: Antara Bahasa Awam dan Bahasa Eksakta
Di sisi lain, ia juga membedakan antara:
- Fenomena visual (seperti watermark atau emboss pada dokumen)
- Uji ilmiah berbasis teknologi, yang menurutnya harus mengandalkan perhitungan, bukan pengamatan inderawi semata.
Ketegangan Ilmiah: Antara Bahasa Awam dan Bahasa Eksakta
Salah satu momen yang mencerminkan dinamika sidang terjadi ketika Dr. Tifa menyebut beberapa pertanyaan sebagai “presumption” yang bersifat awam.
Ia menekankan bahwa analisis wajah modern sudah mengendalikan berbagai variabel sehingga perbedaan kondisi foto tidak lagi menjadi masalah signifikan.
Bagi publik, sesi ini memperlihatkan benturan dua pendekatan:
Sidang yang Menunjukkan Kompleksitas Era Digital
Bagi publik, sesi ini memperlihatkan benturan dua pendekatan:
- Perspektif hukum yang menuntut kehati-hatian sumber dan prosedur
- Perspektif ilmiah yang menitikberatkan pada model matematis dan teknologi komputasi
Sidang yang Menunjukkan Kompleksitas Era Digital
Sidang ini memperlihatkan bahwa perkara yang dihadapi tidak lagi sederhana.
Teknologi analisis wajah, simulasi statistik, hingga interpretasi multidisipliner kini masuk ke ruang pengadilan.
Di tengah sorotan publik, satu hal menjadi jelas:
Di tengah sorotan publik, satu hal menjadi jelas:
Perdebatan tidak hanya soal benar atau salah, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, dan hukum bertemu, dan terkadang saling menguji batas masing-masing.
BACA JUGA:
PART 1 DR TIFA : FOTO IJAZAH 88% BEDA DENGAN PRESIDEN JOKOWI !
PART 2 ANALISA WAJAH DR TIFA BUKTIKAN JOKOWI BERBOHONG !
PART 3: KACAMATA DAN MORFOLOGI GIGI BUKTIKAN 92% : ADA 2 ORANG JOKO WIDODO ???
PART 5 :BONATUA SILALAHI : IJAZAH JOKOWI TAK PERNAH TERBUKTI OTENTIK
Part 6 BONATUA : SEMUA IJAZAH JOKOWI CUMA FOTOKOPI ! ASLINYA MANA ?
(as)
#SidangSolo #DrTifa #PolemikIjazah #FACS #ForensikDigital #Neuropolitika #TeknologiHukum #SidangMemanas #AnalisisIlmiah #IsuNasional

