Nama itu adalah Sugeng Sugiharto, tokoh yang kerap dikaitkan dengan PWI-LS serta jaringan yang oleh para peneliti nasab disebut sebagai sekte Imaduddin bin Sarmana bin Arsa.
Polanya tidak berubah.
Polanya tidak berubah.
Metodenya serupa.
Dan ujung ceritanya pun identik:
Klaim besar, tanpa data sahih.
Kasus Sugeng bukan sekadar persoalan personal, melainkan contoh nyata bagaimana narasi nasab diproduksi, dijual, dan dipertahankan di ruang publik, meski bertabrakan dengan disiplin ilmu nasab, sejarah, dan bahkan genetika modern.
Pengakuan yang Dijual ke Publik
Dalam berbagai forum diskusi, ceramah daring, hingga kanal media sosial, Sugeng Sugiharto digambarkan, dan sering kali menggambarkan dirinya, dalam tiga lapis klaim utama.
Pertama, ia mengaitkan dirinya dengan nasab Arab.
Pertama, ia mengaitkan dirinya dengan nasab Arab.
Klaim ini sejak awal memicu tanda tanya publik.
Secara fisik, Sugeng memiliki ciri wajah Asia Timur-Mongoloid, dengan kulit legam, bukan tipikal Arab patrilineal.
Namun klaim nasab tidak pernah ditentukan oleh rupa, melainkan oleh sanad.
Dan justru di sinilah persoalan muncul:
Sanad itu tidak pernah ada.
Kedua, Sugeng melompat lebih jauh dengan mengaku sebagai cucu Walisongo.
Dalam berbagai tayangan di kanalnya sendiri, klaim ini diulang berkali-kali, seolah sebuah fakta yang sudah mapan.
Padahal, Walisongo adalah entitas sejarah yang sangat kompleks, dengan garis nasab yang diteliti ketat oleh para sejarawan dan ahli nasab.
Klaim sebagai cucu Walisongo tanpa rujukan sanad tertulis adalah loncatan logika yang serius.
Ketiga, narasi tersebut kemudian ditarik ke arah yang lebih sensitif:
Ketiga, narasi tersebut kemudian ditarik ke arah yang lebih sensitif:
Keturunan Rasulullah SAW.
Meskipun Sugeng kerap menyampaikannya secara implisit, para pendukungnya dengan lantang menyuarakan klaim itu.
Alasannya merujuk pada doktrin Imad:
Jika Walisongo pasti keturunan Rasulullah SAW, maka siapa pun yang mengaku cucu Walisongo otomatis cucu Nabi Muhammad SAW.Di titik inilah klaim personal berubah menjadi fitnah sejarah.
Pengakuan Tanpa Legitimasi
Narasi-narasi tersebut dibungkus dengan cerita lisan, potongan sejarah populer, dan simbol-simbol religius yang kuat secara emosional.
Namun ketika diuji dengan standar keilmuan, tidak satu pun fondasi dasarnya terpenuhi.
Tidak ada:
Hasil DNA yang Beredar: Pola Sama, Hasil Sama
Tidak ada:
- pengakuan dari ahli nasab mu‘tabar,
- sanad nasab tertulis yang dapat diverifikasi,
- legitimasi dari Naqobah Asyraf mana pun di dunia.
Hasil DNA yang Beredar: Pola Sama, Hasil Sama
Di tengah polemik yang terus membesar, beredar luas hasil tes DNA Y-Chromosome Sugeng Sugiharto di kalangan peneliti independen dan pemerhati isu nasab.
Hasilnya konsisten dan tidak ambigu.
Sugeng Sugiharto tercatat memiliki haplogroup O-F2028.
Secara ilmiah, haplogroup ini:
Artinya:
Sugeng Sugiharto tercatat memiliki haplogroup O-F2028.
Secara ilmiah, haplogroup ini:
- dominan pada populasi Asia Timur dan Asia Tenggara,
- sangat umum di wilayah China dan Mongolia,
- tidak termasuk rumpun Arab patrilineal.
Artinya:
➡️ Bukan J1➡️ Bukan garis Arab➡️ Tidak memiliki korelasi genetik dengan Walisongo, apalagi Rasulullah SAW
Para ahli menegaskan:
DNA memang bukan satu-satunya penentu nasab, tetapi ketika klaim nasab dibuat sangat spesifik dan sakral, lalu DNA justru menunjukkan arah sebaliknya, maka klaim itu gugur secara akademik.
Tabrakan dengan Disiplin Nasab
Dalam disiplin ilmu nasab, terdapat kaidah yang tidak bisa ditawar:
- Nasab tidak ditetapkan dengan cerita.
- Nasab tidak disahkan oleh klaim pribadi.
- Nasab tidak pernah sah tanpa pengakuan naqobah dan ahli mu‘tabar.
❌ Tidak memiliki sanad nasab sahih❌ Tidak diakui oleh lembaga Naqobah Asyraf❌ Tidak ditopang data genetika yang relevan
Namun ironisnya, klaim tersebut tetap dipromosikan kepada publik awam, bukan dengan data, melainkan dengan emosi, simbol agama, dan glorifikasi sejarah.
Kesimpulan Part 5: Masalahnya Bukan DNA
Kasus Sugeng Sugiharto menegaskan satu pelajaran penting dalam polemik nasab yang kian marak:
Masalahnya bukan pada DNA. Masalahnya pada klaim tanpa legitimasi.
Haplogroup O (China-Mongolia) bukan aib.
Masalahnya bukan pada DNA. Masalahnya pada klaim tanpa legitimasi.
Haplogroup O (China-Mongolia) bukan aib.
Ia hanyalah fakta biologis yang netral.
Yang menjadi persoalan serius adalah ketika fakta itu ditolak, lalu digantikan dengan klaim sebagai cucu Walisongo dan Rasulullah SAW tanpa dasar nasab yang sah, kemudian dibungkus dengan retorika agama.
Tak heran jika para pengamat mulai menggunakan istilah yang kian keras, namun dianggap paling tepat menggambarkan fenomena ini:
(as)
Tak heran jika para pengamat mulai menggunakan istilah yang kian keras, namun dianggap paling tepat menggambarkan fenomena ini:
BEGAL NASAB KlAIM BESAR, BUKTI NIHIL.
(as)
#SugengSugiharto #PWILS #DNAOF2028 #PolemikNasab #Walisongo #NasabPalsu #NaqobahAsyraf #BegalNasab #FaktaSejarah


