Fatahillah313, Jakarta - Gelombang Doa, Seruan Persatuan, dan Harapan bagi Negeri Jakarta kembali menjadi pusat perhatian pada 2 Desember 2025, ketika ribuan peserta dari berbagai daerah memadati Silang Monas dalam gelaran Reuni Akbar Mujahid–Mujahidah 212.
Sejak fajar, arus jamaah mengalir dari berbagai penjuru ibu kota, membentang dari kawasan Gambir hingga Jalan Merdeka, menandai kuatnya magnet acara yang identik dengan aksi damai pada tahun-tahun sebelumnya.
Acara dimulai dengan lantunan doa dan pembacaan ayat suci.Suasana berubah hening ketika pembawa acara mengajak seluruh peserta memanjatkan doa untuk saudara-saudara di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan wilayah lain yang sedang menghadapi berbagai musibah dalam beberapa waktu terakhir.
Untuk saudara-saudara kami yang wafat, kami mohon ampunan dan kasih sayang-Mu. Ya Allah, jadikan mereka syuhada di sisi-Mu,
disambut lirih oleh lautan manusia.
Bagi yang belum ditemukan, yang kekurangan makanan dan minuman, yang berada dalam kesulitan, kuatkan iman dan Islam mereka, ya Allah.
Harapan agar pihak-pihak yang “ikut andil menjadi penyebab musibah” dibukakan mata hatinya.
Ulama dan Umara Hadir Bersama Salah satu momen yang mendapat sorotan adalah kehadiran sejumlah tokoh agama dan pejabat publik.
Panitia menyebut hal ini sebagai simbol kolaborasi moral antara ulama dan umara demi kebaikan bangsa.
Dengan berkumpulnya para ulama dan hadirnya para umara, ini menjadi tanda kebesaran dan kemajuan NKRI,” ujar salah satu tokoh yang memberikan sambutan. “Ulama dan umara bersatu, indah tidak? Bagus tidak?
disambut gema takbir.
Momentum ini menghidupkan kembali ingatan pada aksi besar 2016, yang kala itu pertama kali mempertemukan massa dalam skala nasional.
Usulan tersebut, menurut panitia, dimaksudkan sebagai penanda persatuan, bukan sebagai agenda politik, melainkan momentum kebangsaan berbasis nilai moral dan silaturahmi.
Momentum ini menghidupkan kembali ingatan pada aksi besar 2016, yang kala itu pertama kali mempertemukan massa dalam skala nasional.
Seruan Hari Ukhuwah Islamiah Indonesia Di tengah rangkaian acara, disampaikan pula dukungan dari beberapa organisasi keagamaan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah, atas usulan agar tanggal 2 Desember ditetapkan sebagai “Hari Ukhuwah Islamiah Indonesia.”
Usulan tersebut, menurut panitia, dimaksudkan sebagai penanda persatuan, bukan sebagai agenda politik, melainkan momentum kebangsaan berbasis nilai moral dan silaturahmi.
Harapan untuk Negeri, lantunan doa kembali mengisi udara sore Jakarta.
Tak hanya doa untuk bangsa, tetapi juga untuk keluarga, kesehatan, kehidupan, dan keseharian para peserta.
Mudah-mudahan tidak ada yang pulang dari tempat ini kecuali hajatnya dikabulkan Allah,
Penyakit kita disembuhkan, kesulitan dimudahkan, rumah tangga diharmoniskan, dan negeri ini diberkahi.
Ucapan amin yang mengalun panjang menutup seluruh rangkaian Reuni Akbar 212 tahun ini.
Setelahnya, massa bergerak meninggalkan kawasan Monas secara tertib, menyisakan jejak harapan bahwa persatuan umat dan keharmonisan bangsa dapat senantiasa terjaga.
Reuni Akbar Mujahid-Mujahidah 212 di Jakarta bukan sekadar pertemuan tahunan, melainkan sebuah manifestasi spiritual dan sosial dari jutaan umat yang ingin menghadirkan kedamaian, doa, dan solidaritas bagi Indonesia.
Tahun ini, kembali, Monas menjadi saksi bagaimana doa-doa digantungkan ke langit dan bagaimana harapan dibentangkan untuk negeri.
(as)
#ReuniAkbar212 #Monas2025 #DoaUntukBangsa #UkhuwahIslamiah #Jakarta212 #AksiDamai212

