Fatahillah313, Jakarta - Ketika sebuah universitas besar meluncurkan sistem kecerdasan buatan sebagai simbol inovasi, publik tentu berharap kemajuan, transparansi, dan sebuah lompatan teknologi.
Namun apa jadinya bila AI itu sendiri, yang diklaim dilatih dengan data internal sebuah kampus ternama, justru menimbulkan badai kontroversi?
Itulah yang terjadi pada Lisa (Lyn Intelligent Service Assistant), AI buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mendadak dihentikan operasionalnya setelah viral menjawab pertanyaan publik mengenai status Presiden Joko Widodo sebagai alumni kampus tersebut.
Itulah yang terjadi pada Lisa (Lyn Intelligent Service Assistant), AI buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mendadak dihentikan operasionalnya setelah viral menjawab pertanyaan publik mengenai status Presiden Joko Widodo sebagai alumni kampus tersebut.
Jawaban Lisa, yang menyebut Jokowi bukan lulusan UGM, memicu polemik besar dan menjadi sorotan nasional.
Bukan hanya karena jawabannya, tetapi karena bagaimana reaksi institusi terhadap sistem yang mereka banggakan sendiri.
Peluncuran Meriah, Kejatuhan Cepat
“Bahkan Mesin Pun Dibungkam” — Kritik Publik Meninggi
Bukan hanya karena jawabannya, tetapi karena bagaimana reaksi institusi terhadap sistem yang mereka banggakan sendiri.
Peluncuran Meriah, Kejatuhan Cepat
Pada 25 Juni 2025, Rektor UGM Prof. Ova Emilia meresmikan Lisa sebagai terminal informasi cerdas yang diklaim mampu menjawab seluruh pertanyaan terkait UGM, berbasis data akademik internal kampus.
Lisa dipamerkan sebagai ikon inovasi, ditempatkan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, lengkap dengan antarmuka interaktif.
Namun hanya beberapa bulan kemudian, AI tersebut dihentikan. Hanya karena satu jawaban.
Pertanyaan publiknya sederhana:
Jawaban Lisa:
Jawaban yang kemudian memicu keputusan mendadak:
Lisa dipamerkan sebagai ikon inovasi, ditempatkan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, lengkap dengan antarmuka interaktif.
Namun hanya beberapa bulan kemudian, AI tersebut dihentikan. Hanya karena satu jawaban.
Pertanyaan publiknya sederhana:
Apakah Joko Widodo adalah lulusan UGM?
Jawaban Lisa:
Joko Widodo bukan lulusan UGM.
Jawaban yang kemudian memicu keputusan mendadak:
Lisa di-shutdown.
“Bahkan Mesin Pun Dibungkam” — Kritik Publik Meninggi
Dalam diskusi publik dan wawancara berbagai pakar, sejumlah narasumber mengungkapkan kekhawatiran serius.
Dr. Rismon, salah satu komentator teknologi, menilai penghentian AI tersebut justru menimbulkan kecurigaan baru:
Menurut Rismon, dari jenis respons Lisa, ia memprediksi sistem itu dibangun dari model LLM (Large Language Model) kecil, sekitar 2 - 3 miliar parameter, dan dilatih dengan data internal UGM (fine-tuned internal dataset).
Karena itu, katanya, jawaban Lisa logis berasal dari data kampus itu sendiri.
Data Internal Jadi Sumber Pertanyaan Baru
Dr. Rismon, salah satu komentator teknologi, menilai penghentian AI tersebut justru menimbulkan kecurigaan baru:
Bayangkan, ini cuma mesin. Program. Tidak punya kepentingan apa-apa. Tapi hanya karena mengatakan Jokowi bukan alumni, langsung dibungkam.
Menurut Rismon, dari jenis respons Lisa, ia memprediksi sistem itu dibangun dari model LLM (Large Language Model) kecil, sekitar 2 - 3 miliar parameter, dan dilatih dengan data internal UGM (fine-tuned internal dataset).
Karena itu, katanya, jawaban Lisa logis berasal dari data kampus itu sendiri.
Kalau benar datanya internal, maka data itulah yang berbicara. Bukan Lisa.
Data Internal Jadi Sumber Pertanyaan Baru
Narasumber lain dalam diskusi tersebut menambahkan bahwa jika benar Lisa dilatih menggunakan dataset internal UGM, yang berisi data akademik seperti:
…maka jawaban Lisa tentang status Jokowi seharusnya tidak bisa dilepaskan dari sumber datanya.
Lalu muncul pertanyaan besar:
“Kalau Salah, Jelaskan Secara Akademik, Jangan Matikan Mesinnya”
- arsip skripsi
- KRS dan KHS
- data yudisium
- data transkrip nilai
- database mahasiswa aktif dan alumni
…maka jawaban Lisa tentang status Jokowi seharusnya tidak bisa dilepaskan dari sumber datanya.
Lalu muncul pertanyaan besar:
Jika AI yang dilatih dengan data internal mengeluarkan jawaban X, mengapa institusinya justru menolak jawaban itu?
“Kalau Salah, Jelaskan Secara Akademik, Jangan Matikan Mesinnya”
Para pengkritik menyayangkan reaksi UGM yang memilih menghentikan Lisa, bukan membuka proses audit akademik terkait keluaran sistem tersebut.
UGM itu lembaga akademik. Tugasnya mencerdaskan publik, bukan membungkam perangkat yang mereka buat sendiri,
ujar seorang akademisi yang hadir dalam dialog tersebut.
Ada pula kekhawatiran bahwa memodifikasi jawaban Lisa, agar berubah menjadi jawaban yang berbeda dari keluaran aslinya, dapat menimbulkan persoalan etis maupun legal.
Beberapa ahli bahkan menyinggung UU ITE Pasal 32 dan 35, yang mengatur rekayasa data elektronik.
Apakah Ini Soal Teknologi, Transparansi, atau Politik Data?
Ada pula kekhawatiran bahwa memodifikasi jawaban Lisa, agar berubah menjadi jawaban yang berbeda dari keluaran aslinya, dapat menimbulkan persoalan etis maupun legal.
Beberapa ahli bahkan menyinggung UU ITE Pasal 32 dan 35, yang mengatur rekayasa data elektronik.
Apakah Ini Soal Teknologi, Transparansi, atau Politik Data?
Spekulasi publik berkembang pesat. Banyak yang mempertanyakan:
Publik menuntut kejelasan bukan hanya mengenai jawaban Lisa, tetapi juga:
Bagaimana AI kampus negeri dilatih?
- Apakah Lisa benar-benar salah?
- Atau apakah ada inkonsistensi data internal yang seharusnya diklarifikasi UGM?
- Mengapa sistem dihentikan segera setelah jawabannya viral?
- Mengapa tidak ada laporan resmi mengenai kapasitas model, developer bertanggung jawab, atau audit data?
Publik menuntut kejelasan bukan hanya mengenai jawaban Lisa, tetapi juga:
Bagaimana AI kampus negeri dilatih?
Siapa mengawasi integritas datanya?
Mengapa perangkat publik bisa dihentikan begitu saja tanpa laporan teknis?
Hingga kini, belum ada laporan audit data yang dirilis secara terbuka.
“AI Tidak Bisa Bohong, Tapi Bisa Dipaksa Salah”
“AI Tidak Bisa Bohong, Tapi Bisa Dipaksa Salah”
Sejumlah pakar dalam diskusi tersebut menilai bahwa AI pada dasarnya tidak memiliki motif, sehingga kesalahan (jika ada) justru menjadi kesempatan untuk mengevaluasi dataset dan sistem.
Kekhawatiran bertambah ketika narasumber membandingkan Lisa dengan ChatGPT:
Kesimpulan Majalah: Kasus Lisa Adalah Cermin Besar Kontroversi
Orang bisa disuruh bohong. Mesin tidak. Tapi mesin bisa diprogram ulang untuk menjawab tidak sesuai data.
Kekhawatiran bertambah ketika narasumber membandingkan Lisa dengan ChatGPT:
- Parameter ChatGPT jauh lebih besar (hingga triliunan).
- Tapi ChatGPT tidak memiliki akses ke data internal UGM.
- Karena itu, untuk informasi internal kampus, Lisa seharusnya lebih akurat, sekalipun “kecil”.
Ironisnya, AI “kecil namun akurat” itu kini justru dimatikan.
Kesimpulan Majalah: Kasus Lisa Adalah Cermin Besar Kontroversi
Lisa bukan sekadar polemik teknis. Ia membuka perdebatan yang jauh lebih luas:
- Tentang transparansi data akademik
- Tentang kebebasan informasi
- Tentang etika rekayasa jawaban AI
- Tentang akuntabilitas lembaga publik
- Tentang bagaimana teknologi dapat dijadikan senjata atau dikorbankan
Dan akhirnya, ada satu pertanyaan yang paling banyak beredar di publik:
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi UGM tentang alasan teknis penghentian Lisa dan analisis data yang menyertai keputusan tersebut.
(as)
#LisaAI #UGM #KontroversiAI #TransparansiData #AIShutdown #TeknologiUGM #KasusLisa #AIIndonesia #InovasiAtauMasalah #DataAkademik
Jika mesin saja harus dibungkam, apa sebenarnya yang sedang disembunyikan?
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi UGM tentang alasan teknis penghentian Lisa dan analisis data yang menyertai keputusan tersebut.
(as)
#LisaAI #UGM #KontroversiAI #TransparansiData #AIShutdown #TeknologiUGM #KasusLisa #AIIndonesia #InovasiAtauMasalah #DataAkademik

