Mualem Perintah Semua Beko Angkat Kaki dari Hutan Aceh


Fatahillah313, Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, kembali menggemparkan ruang publik. 
Dalam sebuah pernyataan lantang seusai rapat paripurna bersama DPRA di Gedung Parlemen, Kamis (25/9/2025), ia menegaskan ultimatum keras terhadap aktivitas tambang emas ilegal yang kian menggila di kawasan hutan Aceh.
Semua alat berat, beko maupun ekskavator, harus keluar dari hutan Aceh! Pemerintah memberi waktu dua minggu. Kalau tidak dipatuhi, jangan salahkan kalau kami ambil tindakan tegas,” ujar Mualem, dengan suara meninggi.

Tambang Ilegal: Luka Lama yang Menganga

Tambang emas ilegal di Aceh bukan isu baru. Dari Pidie, Nagan Raya, Aceh Tengah, hingga pedalaman Gayo, aktivitas ini terus menggerogoti ekosistem hutan. 
Sungai-sungai keruh, habitat satwa liar hancur, dan konflik horizontal dengan masyarakat kerap meletup.

Mualem, yang dikenal dekat dengan denyut akar rumput, kali ini terlihat tidak ingin lagi memberi ruang kompromi. Ia tahu, di balik gemerlap emas, ada jaringan rente yang melibatkan cukong, operator, hingga “pemain besar” yang selama ini sulit disentuh hukum.


Tenggat Dua Minggu: Ancaman atau Peringatan Serius?

Pemerintah Aceh resmi memberi tenggat waktu 14 hari kepada pemilik maupun operator tambang ilegal untuk menarik keluar alat berat mereka. 
Ekskavator yang selama ini digunakan untuk mengupas perut bumi Aceh dianggap sebagai bukti nyata kejahatan lingkungan.
Kalau setelah dua minggu masih ada beko di sana, kami akan lakukan tindakan ekstrem. Jangan tanya bentuknya seperti apa. Yang jelas, tidak ada lagi toleransi,” kata Mualem menutup pernyataannya.


Ancaman ini menandai babak baru dalam penegakan aturan di Aceh. Selama ini, aparat sering dianggap setengah hati dalam menertibkan tambang ilegal. 
Pernyataan Mualem seolah menjadi sinyal bahwa permainan lama tidak lagi berlaku.


Aceh di Persimpangan

Langkah Mualem menuai beragam respons. Di satu sisi, masyarakat adat dan aktivis lingkungan menyambut baik. 
Mereka melihat keberanian Mualem sebagai harapan baru untuk menyelamatkan hutan, sumber air, dan ruang hidup satwa langka seperti gajah serta harimau Sumatra.

Namun di sisi lain, para pelaku tambang ilegal tentu tidak akan diam. Dengan jaringan ekonomi yang besar, mereka diperkirakan akan melakukan lobi, tekanan politik, bahkan kemungkinan perlawanan di lapangan.

Aceh kini berada di persimpangan: melanjutkan jalan keberanian dengan risiko konflik, atau kembali tunduk pada skenario kompromi yang selama ini merugikan rakyat dan lingkungan.


Pesan Simbolik

Pernyataan Mualem bukan sekadar instruksi teknis. Ia memuat simbol perlawanan terhadap kerakusan ekonomi yang mengorbankan generasi Aceh ke depan. 
Dalam bahasa sederhana, Mualem ingin mengingatkan:
Aceh bukan untuk dihancurkan, Aceh harus dijaga.

Sebuah kalimat yang, bagi rakyat Aceh, lebih dalam maknanya ketimbang sekadar perintah administratif.

(as)
#Mualem #Aceh #TambangEmasIlegal #SelamatkanHutan #AcehTanpaBeko #MuzakirManaf #DPRA #LingkunganAceh #TambangLiar