🔴 Pertamina Terbakar Lagi: Omongan Menkeu Belum Kering, Kilang Dumai Meledak


Fatahillah313, Dumai - Belum kering kritik pedas Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa soal manajemen Pertamina yang disebut “malas” dalam membangun kilang minyak baru, publik kembali dikejutkan dengan tragedi kebakaran kilang minyak Pertamina Refinery Unit II Dumai, Riau.

Ironi tak bisa dielakkan. Saat pemerintah gembar-gembor soal ketahanan energi nasional, justru perusahaan raksasa migas pelat merah ini terus dirundung masalah klasik: ledakan, kebakaran, dan kegagalan investasi kilang baru.


Api di Dumai: Ancaman Nyata Energi Nasional


Kilang Pertamina Dumai, yang menjadi salah satu tulang punggung distribusi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Sumatra, dilalap api hebat. 
Ledakan terdengar hingga radius beberapa kilometer. Warga sekitar panik, ribuan orang dievakuasi, sementara Pertamina buru-buru mengeluarkan pernyataan “situasi terkendali”.

Pertanyaan besar pun muncul: berapa lama publik harus percaya pada retorika semacam ini? 
Fakta di lapangan berkali-kali menunjukkan bahwa “terkendali” sering berarti hanya pemadam kebakaran bekerja, sementara penyebab struktural tak pernah benar-benar ditangani.


Kritik Menkeu: Pertamina “Malas” Bangun Kilang

Pernyataan Menkeu Purbaya sebelumnya memang bikin gaduh. Ia menuding Pertamina tidak serius memperkuat infrastruktur energi. 
Proyek-proyek kilang baru yang digembar-gemborkan sejak era Presiden SBY hingga Jokowi, terbukti jalan di tempat.

Padahal, konsumsi energi nasional terus naik, sementara cadangan minyak dalam negeri makin menipis. 
Alih-alih mengurangi ketergantungan impor BBM, Pertamina justru berulang kali jadi headline karena kebakaran kilang: Balongan, Cilacap, Plumpang, dan kini Dumai.

Apakah kritik Purbaya hanya sekadar retorika? Ataukah memang ada “pembusukan sistemik” di tubuh Pertamina?


“MALAS” atau Korup?

Istilah “malas” yang dipakai Menkeu tentu menyakitkan, tapi jujur. Banyak pihak menduga, bukan sekadar malas, melainkan ada tata kelola yang amburadul, sarat kepentingan politik, hingga mafia migas yang menggerogoti Pertamina dari dalam.

Sejumlah proyek strategis, seperti kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan pengembangan kilang Balikpapan, penuh drama keterlambatan. 
Biaya membengkak, investor asing tarik diri, dan target operasional molor bertahun-tahun.

Di sisi lain, publik justru harus menanggung risiko: harga BBM tinggi, subsidi membengkak, dan bencana industri berulang.


Perspektif Syariah: أمانة yang Dikhianati

Dalam perspektif Islam, amanah kepemimpinan adalah hal yang sakral. Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ"
Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran." (HR. Bukhari)


Pertamina memegang amanah besar: mengelola energi yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak
Setiap kebakaran kilang adalah bukti nyata amanah yang tercederai.


Publik Bertanya: Siapa Bertanggung Jawab?

Ledakan demi ledakan ini bukan lagi sekadar “musibah teknis”. Ini soal akuntabilitas. Publik berhak menuntut kejelasan:
  • Siapa yang bertanggung jawab langsung atas kebakaran Dumai?
  • Apa langkah serius pemerintah dan DPR dalam mengaudit Pertamina?
  • Sampai kapan rakyat harus jadi korban kelalaian dan ketidakbecusan ini?


Saatnya Revolusi Migas Nasional

Kilang Dumai terbakar bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan simbol rapuhnya manajemen energi nasional. 
Kritik Menkeu Purbaya jangan berhenti di meja konferensi pers. Harus ada revolusi manajemen energi:
  • Bongkar mafia migas.
  • Audit menyeluruh kilang Pertamina.
  • Kembalikan orientasi perusahaan ke kepentingan rakyat, bukan elite.

Jika tidak, jangan salahkan rakyat bila kelak mereka menuding langsung: Pertamina adalah simbol pengkhianatan energi bangsa.


(as)
#Pertamina #KilangDumai #EnergiNasional #MafiaMigas #Purbaya #KrisisEnergi #BakarLagi #PertaminaMalas