Mang Ihya, Hoaks, dan Polemik Manuskrip: Gus Rumail Bongkar Deretan Dusta Sekte Imad


Fatahillah313, Jakarta - Nama Mang Ihya kembali jadi sorotan setelah sederet pernyataannya yang dianggap penuh kontroversi dan sarat hoaks. 
Sosok yang dikenal sebagai tokoh pendukung kubu Sekte Imad ini dituding menyebarkan klaim tanpa dasar, mulai dari isu pembatalan nasab Bani Alawi oleh Mufti Yaman hingga tuduhan serius terkait pemalsuan manuskrip klasik.

Polemik ini makin panas ketika Gus Rumail Abbas (Gus Rumail) secara terbuka membongkar kebohongan demi kebohongan Mang Ihya, bahkan menantangnya untuk membuktikan tuduhan yang sudah terlanjur ia sebarkan ke publik.


Klaim Hoaks: Mufti Yaman dan Bani Alawi 

Mang Ihya pernah menyatakan bahwa Mufti Yaman membatalkan Bani Alawi, sebuah isu besar yang langsung mengguncang kalangan habaib dan para pengkaji nasab. 
Untuk menambah “kredibilitas”, Mang Ihya mengaku mendapatkan informasi itu langsung dari Yaman.

Namun, pernyataan itu terbukti bohong. Mufti Yaman justru menegaskan bahwa ia tidak pernah menyampaikan hal demikian. 
Sumber berita ternyata berasal dari situs tak jelas yang kemudian dipakai oleh kubu Sekte Imad untuk menyerang lawan-lawan mereka.

Pernyataan bombastis Mang Ihya, 
Jangan berani melawan gelombang samudera kebenaran, nanti kalian yang tergilas 
justru berbalik menjadi bumerang ketika fakta diungkap.


Tuduhan Palsu terhadap Almarhum Yusuf Jamalullail 

Bukan sekali, Mang Ihya juga menuding almarhum Yusuf Jamalullail membuat-buat kitab Abna’ al-Imam. 
Ia menyebut manuskrip itu tidak ada dan hanya karangan belaka. Tuduhan tersebut dilontarkan saat bulan Ramadan, momen yang seharusnya dijauhkan dari fitnah.

Fakta sejarah berbicara lain. Kitab Abna’ al-Imam sudah diterbitkan jauh sebelum Yusuf Jamalullail menulis ulang. Abdul Ghani dan Husain al-Sadah pernah mencetak kitab itu di Damaskus empat tahun sebelumnya. Bahkan di Palestina, kitab serupa sudah terbit 70 tahun sebelum Yusuf Jamalullail lahir.
Artinya, tuduhan Mang Ihya sama sekali tidak berdasar.


Fitnah terhadap Gus Rumail: Tuduhan Pemalsuan Manuskrip 

Tidak berhenti di situ, Mang Ihya juga menuding Gus Rumail Abbas sebagai pemalsu manuskrip yang ditampilkan di forum Bahtsul Masail Brebes. Ia menyebut manuskrip itu hanya “main-mainan” dan menuding Gus Rumail sebagai orang “berani dusta kepada Allah”.

Padahal, manuskrip yang dimaksud adalah salinan karya Habib Salim bin Jindan pada tahun 1349 H (1931 M). Sementara Gus Rumail baru lahir tiga dekade setelahnya. Secara logika sejarah, tuduhan itu mustahil.

Lebih jauh, Mang Ihya bahkan menuduh Habib Salim bin Jindan menulis manuskrip itu untuk mencari nasab leluhur bernama Ubaidillah. Ironisnya, pembatalan nasab Ubaidillah oleh kubu Imad baru dilakukan 91 tahun setelah manuskrip selesai ditulis. Sebuah kontradiksi nyata.


Gus Rumail: “Bagaimana Bisa Saya Disebut al-Kadzab?” 

Melihat fitnah demi fitnah, Gus Rumail balik bertanya:
Bagaimana mungkin orang yang pernah berdusta terang-terangan, tidak mencabut ucapannya, bahkan tidak meminta maaf, bisa melabeli saya dengan al-Kadzab?
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa fitnah Mang Ihya dan kelompoknya tidak hanya melukai pribadi, tapi juga mencederai integritas keilmuan dan marwah habaib.


Kritik Publik: Hoaks dan Pola Repetitif 

Fenomena Mang Ihya memperlihatkan pola yang berulang: klaim bombastis tanpa bukti, narasi emosional, hingga upaya membentuk opini dengan mengulang-ulang fitnah. Namun, pola ini kerap terbongkar ketika diuji oleh dokumen sejarah dan saksi otentik.

Banyak pihak mulai mempertanyakan:
  • Mengapa tuduhan tanpa dasar ini dibiarkan berulang?
  • Apakah ada agenda tertentu di balik propaganda Sekte Imad?
  • Dan mengapa tokoh yang jelas menyebarkan hoaks masih memiliki panggung untuk berbicara hampir setiap malam?


Seruan untuk Kebenaran Polemik ini menjadi cermin betapa rentannya masyarakat terhadap hoaks, apalagi jika dibungkus dengan klaim agama dan sejarah. Gus Rumail menyerukan agar publik tidak mudah terperdaya, melainkan selalu menguji informasi melalui sumber otentik.

Kasus Mang Ihya mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak bisa dilawan dengan dusta, dan sejarah tidak bisa dipalsukan hanya demi kepentingan kelompok tertentu.

(as)
#MangIhya #GusRumail #HoaksNasab #SekteImad #FitnahAgama #ManuskripIslam #BaniAlawi #SejarahIslam