Fatahillah313, Jakarta - 17 September 2025 tercatat sebagai titik paling panas dalam hubungan Presiden Prabowo dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Tanpa aba-aba, Sigit tiba-tiba membentuk Tim Reformasi Polri berisi 52 jenderal dan kombes, sebagaimana tertuang dalam Sprin/2749/IX/2025.
Masalahnya, di hari yang sama Presiden justru baru menunjuk Komjen (Purn) Ahmad Dofiri sebagai Penasehat Khusus Reformasi Polri, sekaligus menegaskan rencana pembentukan tim resmi di bawah kendali istana. Artinya, langkah Sigit mendahului Presiden.
Publik bertanya-tanya: ini sekadar miskomunikasi, atau bentuk pembangkangan terhadap Presiden?
Skenario Solo dan Bayang Jokowi
Ekonom Said Didu menilai langkah Sigit tidak wajar. Menurutnya, tim bentukan Kapolri tidak terkait sama sekali dengan tim presiden. Bahkan, ia menduga ada “aba-aba dari Solo” yang mengarahkan langkah Sigit. Sebuah sindiran keras pada bayang-bayang Jokowi yang dinilai masih ingin mengendalikan Polri meski sudah lengser.
Jika benar, maka ini bukan sekadar tarik-menarik agenda reformasi. Ini pertarungan pengaruh antara Jokowi dan Prabowo di tubuh kepolisian.
Jika benar, maka ini bukan sekadar tarik-menarik agenda reformasi. Ini pertarungan pengaruh antara Jokowi dan Prabowo di tubuh kepolisian.
Jejak Hitam di Era Sigit
Rekam jejak kepemimpinan Sigit memperkuat kecurigaan publik. Sejak dilantik 2021, Polri kerap dituding lebih loyal kepada Jokowi ketimbang konstitusi. Dari tragedi Sambo, skandal judi online, narkoba, hingga jual-beli jabatan, semua meninggalkan noda hitam.
Ditambah kekerasan aparat terhadap demonstran, kriminalisasi ulama dan aktivis, hingga peran polisi sebagai “centeng” pengusaha. Catatan hitam yang membuat rakyat berharap besar pada janji reformasi Polri ala Prabowo.
Namun, manuver Sigit justru menunjukkan adanya resistensi keras dari internal Polri terhadap kontrol sipil.
Ditambah kekerasan aparat terhadap demonstran, kriminalisasi ulama dan aktivis, hingga peran polisi sebagai “centeng” pengusaha. Catatan hitam yang membuat rakyat berharap besar pada janji reformasi Polri ala Prabowo.
Namun, manuver Sigit justru menunjukkan adanya resistensi keras dari internal Polri terhadap kontrol sipil.
Taruhan Legitimasi Presiden
Bahaya besar mengintai bila pembangkangan ini dibiarkan:
Posisi Presiden Prabowo kini krusial. Jika Kapolri bisa mendahului Presiden dalam hal sepenting reformasi, itu bukan sekadar salah prosedur, melainkan tantangan langsung terhadap otoritas kepala negara.
Solusi hanya satu: ketegasan politik. Bila Kapolri lebih memilih aba-aba Solo daripada garis Merdeka Utara, maka opsi pencopotan tak bisa ditawar.
- Legitimasi Polri runtuh di mata rakyat.
- Faksi internal makin terbuka, mengancam soliditas Bhayangkara.
- Agenda reformasi bisa mandek total.
Posisi Presiden Prabowo kini krusial. Jika Kapolri bisa mendahului Presiden dalam hal sepenting reformasi, itu bukan sekadar salah prosedur, melainkan tantangan langsung terhadap otoritas kepala negara.
Solusi hanya satu: ketegasan politik. Bila Kapolri lebih memilih aba-aba Solo daripada garis Merdeka Utara, maka opsi pencopotan tak bisa ditawar.
Pesan untuk Polri: Pilih Jalanmu
Said Didu memberi peringatan keras:
Reformasi Polri tak boleh gagal. Copot Kapolri bisa jadi langkah awalnya.
Sigit dan Polri jangan melawan Presiden yang sedang memenuhi harapan rakyat.Kini bola ada di tangan Prabowo. Apakah ia berani menunjukkan komando tertinggi benar-benar berada padanya? Atau membiarkan Polri tetap menari mengikuti irama Solo?
Reformasi Polri tak boleh gagal. Copot Kapolri bisa jadi langkah awalnya.
Oleh: Edy Mulyadi | Wartawan Senior
#ReformasiPolri #KapolriSigit #Prabowo #Jokowi #AbaAbaSolo #KrisisPolri #TimReformasiPolri #PolitikIndonesia #Polri


