Fatahillah313, Jakarta – Indonesia kembali menyaksikan panggung sinetron politik kelas kakap. Kali ini, aktor utamanya adalah Presiden Prabowo Subianto yang mendadak mencopot Budi Arie Setiadi dari kursi empuk Menteri Koperasi. Langkah berani ini sontak memicu amarah relawan Jokowi—sebuah “pasukan militan” yang terkenal loyal bahkan sampai ke urusan sandal jepit sang mantan presiden.
Adalah Yanes Yosua Frans, Ketua Umum We Love Jokowi, yang menjadi corong amarah. Dengan gaya pidato bak orator lapangan yang tak rela idolanya diperlakukan semena-mena, Yanes langsung menuding Prabowo sebagai sosok “arogan” yang lupa diri setelah duduk di kursi nomor satu RI.
“Pak Prabowo jangan terlalu arogan. Memang benar prerogratif itu hak anda, tapi itu bukan berarti bisa dipakai seperti tombol remote TV, asal pencet, saluran langsung ganti,” serang Yanes.
Relawan Jokowi, Luka Lama dan Luka Baru
Budi Arie, tokoh yang dielu-elukan sebagai ikon relawan Jokowi, dianggap “dipenggal” tanpa sebab. Yanes pun tak tanggung-tanggung menuding Prabowo melakukan “pengkhianatan politik” terhadap jasa-jasa besar Jokowi.
Relawan Jokowi seolah sedang bernostalgia pahit. Mereka mengingatkan bagaimana Jokowi pernah menjadi penyelamat Prabowo—dari kekalahan demi kekalahan di empat kali pemilu, hingga kursi Menteri Pertahanan dan gelar Jenderal kehormatan yang diberikan cuma-cuma.
Budi Arie, tokoh yang dielu-elukan sebagai ikon relawan Jokowi, dianggap “dipenggal” tanpa sebab. Yanes pun tak tanggung-tanggung menuding Prabowo melakukan “pengkhianatan politik” terhadap jasa-jasa besar Jokowi.
“Dia salah apa? Korupsi tidak, bikin masalah juga tidak. Tiba-tiba dicopot. Padahal dia sedang sibuk membangun 80 ribu koperasi. Apakah koperasi lebih berbahaya dari oligarki tambang?” ujarnya dengan nada getir.
Relawan Jokowi seolah sedang bernostalgia pahit. Mereka mengingatkan bagaimana Jokowi pernah menjadi penyelamat Prabowo—dari kekalahan demi kekalahan di empat kali pemilu, hingga kursi Menteri Pertahanan dan gelar Jenderal kehormatan yang diberikan cuma-cuma.
“Masih kurang apa? Jokowi bahkan kasih ‘paket hemat’: jabatan, gelar, plus bonus Gibran jadi cawapres. Sekarang malah dipinggirkan? Ini keterlaluan,” desak Yanes, seakan-akan sedang menagih utang piutang politik.
Antara Jasa Politik dan “Tagihan Moral”
Lucunya, di balik kecaman ini, publik jadi bertanya-tanya: apakah relawan sedang memperjuangkan rakyat, atau sekadar menagih kontrak politik yang belum lunas? Pernyataan Yanes terdengar lebih mirip debt collector ketimbang suara moral.
Namun, bukankah logika ini membuktikan bahwa demokrasi Indonesia makin menyerupai pasar malam, transaksi politik penuh barter, antara jasa memenangkan pemilu dan kursi menteri sebagai kembalian?
“Jokowi bantu anda menang, relawan juga sudah patuh ikut barisan, sekarang balasannya malah orang-orang Jokowi disingkirkan,” begitu kira-kira inti protes Yanes.
Namun, bukankah logika ini membuktikan bahwa demokrasi Indonesia makin menyerupai pasar malam, transaksi politik penuh barter, antara jasa memenangkan pemilu dan kursi menteri sebagai kembalian?
Relawan, Jokowi, dan Politik Ingatan Pendek
Satire politik paling pahit justru ada di kalimat pamungkas Yanes:
“Membenci Jokowi sama saja dengan membenci relawan Jokowi.”
Sebuah kalimat yang nyaris terdengar seperti ancaman. Seakan-akan, relawan bukan hanya komunitas, tapi juga sekte dengan ikatan emosional lebih kuat dari sekadar pilihan politik.
Ironisnya, publik tak lupa bagaimana relawan Jokowi dulu juga dengan gagah menjelek-jelekkan Prabowo habis-habisan di pilpres sebelumnya. Namun kini, sejarah politik singkat itu dilipat rapi, ditutupi spanduk besar bertuliskan “Demi Jokowi, Demi Bangsa.”
Kesimpulan Satiris
Drama pencopotan Budi Arie ini membuka kembali tabir lama: bahwa politik Indonesia bukan soal program kerja, melainkan soal siapa merasa berutang pada siapa. Relawan marah bukan karena koperasi terbengkalai, melainkan karena “ikon” mereka dicopot.
Prabowo dianggap durhaka karena melupakan jasa Jokowi. Sementara Jokowi, meski sudah lengser, tetap diposisikan sebagai “Bapak Asuh” yang harus dihormati oleh presiden penggantinya.
Singkat kata, panggung politik ini kembali mengajarkan satu hal: di Indonesia, loyalitas tak pernah gratis. Ada harga, ada tagihan, ada drama. Dan rakyat? Lagi-lagi hanya penonton setia sinetron panjang yang tak kunjung tamat.
(as)
#DramaPolitik #RelawanJokowi #BudiArieDicopot #PrabowoVsRelawan, #BudiArie #Prabowo #DramaPolitik #Kabinet2025

