Dalam upayanya, PKI menargetkan dua kekuatan besar umat Islam, yaitu 𝗡𝗮𝗵𝗱𝗹𝗮𝘁𝘂𝗹 𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 (𝗡𝗨) dan 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱𝗶𝘆𝗮𝗵. Ulama, santri, serta aktivis dakwah menjadi korban pembantaian, intimidasi, dan kekejaman. Fakta sejarah ini harus terus diungkap agar generasi sekarang memahami siapa sebenarnya musuh Islam yang berusaha menghapus agama dari negeri ini.
𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗼𝗻𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗞𝗜
1. 𝗣𝗞𝗜 𝗠𝗮𝗱𝗶𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟰𝟴
Dipimpin Musso, PKI memproklamasikan berdirinya “Republik Soviet Indonesia” di Madiun.
▪Ribuan rakyat, termasuk ulama dan santri, menjadi korban kekejaman.
▪Pesantren dan masjid menjadi sasaran utama karena dianggap penghalang ideologi komunis.
2. 𝗣𝗞𝗜 𝟭𝟵𝟲𝟱 (𝗚𝟯𝟬𝗦)
👉PKI melalui Gerakan 30 September berusaha merebut kekuasaan dengan menculik dan membunuh jenderal TNI.
👉Setelah gagal, massa PKI di desa-desa melampiaskan kebencian kepada para ulama, jamaah NU, dan Muhammadiyah.
𝘚𝘪𝘵𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘭𝘰𝘴𝘰𝘬.
𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗺𝗮𝗮𝗵 𝗡𝗨 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗣𝗞𝗜
NU menjadi target utama karena basis pesantren dianggap benteng umat Islam.
👉𝗞𝗛. 𝗔𝗯𝘂 𝗠𝗮𝗻𝘀𝘂𝗿 (Magetan), dibunuh dengan kejam oleh PKI pada peristiwa Madiun.
👉𝗞𝗛. 𝗦𝗼𝗲𝗹𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗭𝘂𝗵𝗱𝗶 (Kediri), ulama NU yang gugur sebagai syuhada.
👉Puluhan kiai kampung dan santri di Madiun, Ponorogo, serta Magetan diculik dan dibantai.
👉Jamaah NU di desa-desa disiksa, rumah dirampas, dan pesantren dibakar.
𝘗𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘸𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘳𝘦𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘕𝘜, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘬𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘴𝘮𝘦.
𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗺𝗮𝗮𝗵 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱𝗶𝘆𝗮𝗵 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗣𝗞𝗜
Muhammadiyah, sebagai gerakan dakwah modernis, juga tidak luput dari teror PKI.
👉Aktivis dakwah Muhammadiyah di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi target pembunuhan.
👉Rumah-rumah anggota Muhammadiyah dijarah dan dibakar.
👉Masjid serta madrasah Muhammadiyah diserang, jamaah mereka diteror.
👉Banyak keluarga aktivis kampung Muhammadiyah yang hilang, sebagian tidak pernah ditemukan kembali.
Walau dokumentasi nama korban Muhammadiyah tidak sebanyak NU, fakta menunjukkan bahwa mereka turut menjadi korban nyata kekejaman PKI.
𝗦𝗶𝗸𝗮𝗽 𝗡𝗨 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱𝗶𝘆𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗣𝗞𝗜
🔸NU mengeluarkan resolusi dan seruan “𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺𝗻𝘆𝗮 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘀𝗺𝗲” karena bertentangan dengan Islam.
🔸Muhammadiyah menyatakan bahwa komunisme adalah ideologi anti-Tuhan, sehingga harus ditolak oleh umat Islam.
🔸Kedua ormas ini kemudian bergabung dalam 𝗙𝗿𝗼𝗻𝘁 𝗔𝗻𝘁𝗶-𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘀, bersama TNI, untuk menumpas PKI pasca-G30S 1965.
Persatuan NU dan Muhammadiyah dalam melawan PKI adalah bukti nyata kekuatan Islam ketika menghadapi musuh bersama.
𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸 𝗦𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵
🔸Masyarakat desa mengalami trauma mendalam akibat pembunuhan massal dan teror PKI.
🔸Peristiwa ini menumbuhkan kesadaran bahwa 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗻𝘁𝗲𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 melawan ideologi sesat.
🔸NU dan Muhammadiyah semakin mantap meneguhkan perannya menjaga akidah umat dan mempertahankan negara dari bahaya komunisme.
Sejarah kelam kekejaman PKI menunjukkan bahwa ulama dan umat Islam, baik dari NU maupun Muhammadiyah, menjadi korban nyata. Mereka dibunuh, pesantrennya dibakar, jamaahnya diteror, dan keluarganya dihancurkan.
Karena itu, generasi sekarang tidak boleh lupa. Sejarah ini harus terus diajarkan agar umat tidak terjebak kembali dalam tipu daya ideologi komunis, sekuler, maupun liberal yang sama-sama menolak Islam sebagai sistem hidup.
Kita wajib mewarisi semangat perlawanan ulama dan jamaah yang gugur, serta menjaga agar Indonesia tetap berdiri di atas nilai keislaman, bukan komunisme yang telah terbukti membawa darah dan kehancuran.
Pesan dari Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal AlJawy Al-Bantani, S.Pd, M.Pd, Gr (UAF/Ustadz Abu Fayadh) Petinggi di JAJAKA/Jawara Jaga Kampung Nusantara (Dewan Pertimbangan) di Majelis Silahturahmi Guru Aang Babelan, Kab. Bekasi dan sebelumnya di Majelis Tawassul DPC Jajaka Babelan:
1. Adakan Nobar/Nonton Bareng Film G30S-PKI dimana saja terutama di Majelis Taklim dan DKM Masjid/Mushollah bahkan di Kampus dan Sekolah agar kita jangan lupa sejarah (JASMERAH) Kekejaman PKI.
2. Kawal setiap Ulama siapapun dia baik itu Alawiyyin/Habaib, Kyai, Syaikh, Ustadz dan Asatidz dimanapun dia berada jangan sampai kasus terulang kembali pembacokan seperti Syaikh Ali Jaber Rahimahumulloh ketika beliau ngisi ceramah di Sukabumi Jawa Barat kurang adanya pengawalan terutama dari Para Jawara/Pendekar siapapun Alim Ulamanya Kita Kawal.
📢 𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻:
➡ Sebarkan sejarah kelam ini! Jangan biarkan umat lupa bahwa PKI pernah membantai ulama, santri, dan jamaah NU-Muhammadiyah.
➡ Ingatkan di setiap majelis, masjid, dan kampus bahwa Islam adalah benteng terakhir bangsa.
➡ Jangan biarkan generasi muda tertipu dengan wajah baru komunisme, sekulerisme, maupun liberalisme.
Barokallohu fiikum.
Hasbunalloh Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wanikman Natsir
Salam Ahadun Ahad ☝ Allohu Akbar ✊
Isy Kariman Aw Mut Syahidan (Hidup Mulia Atau Mati Syahid)
⚔🇮🇩🇮🇩🇮🇩⚔
#JASMERAH #JanganMelupakanSejarah #GanyangPKI #GebukPKI #BantaiPKI #September2025 #IngatPKI #TolakKomunisme #NUdanMuhammadiyahBersatu #KorbanPKI #IslamBentengBangsa #LawanSekulerisme #SejarahTakBolehLupa #SelamatkanBangsa #BahayaLatenPKIdanAnaknya #TNIBersamaRakyat


