Kalau Minta Kitab Abad ke-4, Singkirkan Dulu Blogspot dari Meja Debat!


Tafsir Tegas Nyai Raden Linawati Soal Kontroversi Nasab Walisongo

Fatahillah313 - Jakarta – Perdebatan soal asal-usul nasab Walisongo kembali memanas. Nyai Raden Linawati, tokoh dzurriyah Walisongo, menyoroti standar ganda yang kerap muncul dalam diskusi sejarah Islam di Nusantara.

Menurutnya, setiap kali para muhibbin dan keturunan Walisongo menyebut Imam Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir sebagai leluhur tokoh-tokoh seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, hingga Sunan Giri, muncul tuntutan berat: 
"Tunjukkan manuskrip abad ke-4 Hijriah! Mana kitabnya? Mana sanadnya? Mana buktinya?"
Namun, ketika diminta bukti serupa atas klaim yang menyambungkan Walisongo ke tokoh seperti Sayyid Ajal Syamsuddin Omar dari Yunnan (China) atau tokoh dari Prindavan, India, justru yang disodorkan adalah:
    • Blogspot
    • Wikipedia
    • Kutipan Google
    • Buku-buku sejarah tanpa verifikasi sanad
    • Babad lokal terbitan penerbit swasta tahun 1938
    • “Kronik China” Klenteng Sam Po Kong yang manuskripnya tak pernah ditunjukkan ke publik
"Kalau itu bukan standar ganda, lalu apa?" tegas Nyai Raden Linawati.
Kolonialisasi Ulang Jalur Nasab
Nyai Linawati menilai, ini bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan bentuk pemerkosaan sejarah. Ia menuduh adanya upaya kolonialisasi ulang terhadap jalur nasab oleh pihak-pihak yang tidak nyaman dengan kuatnya akar Ba‘alawi dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

Tamzilul Furqon, Takmir Angkringan sekaligus penulis tafsir pernyataan Nyai Linawati, menyatakan bahwa perdebatan ilmiah seharusnya dimulai dari keberanian menyajikan sumber primer yang valid — bukan dongeng digital, hasil copy-paste, atau sumber yang saling bertabrakan demi pembenaran klaim.
“Jika hari ini ramai soal nasab Imam Ubaidillah, itu bukan karena beliau fiktif. Tapi karena ada pihak yang kuasanya terancam oleh konsistensi sanad yang dipegang kaum Ba‘alawi,” ujarnya.
Ajakan Debat Ilmiah Tanpa Standar Ganda
Pesannya jelas: sebelum meminta kitab abad ke-4 dari pihak lain, singkirkan dulu semua sumber dari blog, Wikipedia, dan referensi tak terverifikasi dari meja debat.
“Baru setelah itu, kita bicara ilmiah,” tutupnya.


(as)