Fatahillah313 - Proyek ambisius Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, kini menghadapi krisis keuangan serius. Dalam rapat dengan Komisi VI DPR pada 20 Agustus 2025, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mengungkapkan bahwa utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) telah mencapai angka triliunan dan menyebutnya sebagai 'bom waktu' yang harus segera diselesaikan.
Beban Keuangan yang Mengkhawatirkan
Anggota Komisi VI DPR, Hasani Bin Zuber, menyoroti kerugian KCIC yang mencapai Rp 1 triliun pada paruh pertama 2025 dan total kerugian Rp 2,69 triliun sepanjang tahun 2024. Darmadi Durianto, anggota lainnya, memperkirakan beban keuangan yang ditanggung KAI bisa melebihi Rp 4 triliun pada 2025.
Langkah Strategis dari Bobby Rasyidin
Menanggapi hal tersebut, Bobby Rasyidin Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), mengatakan :
“Kami optimis, dalam satu minggu ke depan, kami bisa memahami seluruh kendala yang ada di KAI. Terutama KCIC, yang seperti saya sampaikan tadi, memang menjadi bom waktu bagi perusahaan,” tegas Bobby saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (20/8).Bobby Rasyidin berjanji akan berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk mencari solusi atas masalah keuangan KCIC. Ia juga mengusulkan restrukturisasi utang sebagai langkah strategis untuk mengurangi beban keuangan yang ada.
Bobby Rasyidin, secara blak-blakan mengakui bahwa pihaknya masih memerlukan waktu untuk menelisik berbagai masalah serius di perusahaan. Salah satu sorotan utama adalah beban berat dari megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dikelola PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Pernyataan ini langsung menimbulkan kegemparan, karena mengungkap bahwa megaproyek yang seharusnya menjadi kebanggaan nasional kini menyimpan risiko besar bagi keuangan negara. Bobby menegaskan, langkah cepat dan strategis diperlukan agar “bom waktu” ini tidak meledak dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Meskipun Ada Tantangan, Whoosh Tetap Beroperasi berupa tantangan finansial, Whoosh tetap mencatatkan prestasi dengan melayani 6,06 juta penumpang sepanjang tahun 2024. Namun, tanpa langkah strategis, proyek ini berisiko menjadi beban berat bagi keuangan negara.
Bobby menegaskan, semua pihak harus segera mengambil langkah strategis agar proyek Kereta Cepat Whoosh tidak berubah dari kebanggaan nasional menjadi bom waktu yang menghantam keuangan negara. Masa depan megaproyek ini kini ada di tangan keputusan cepat dan tepat dari KAI dan pemerintah.
(as)
#KeretaCepatWhoosh #KCIC #KAI #BomWaktu #MegaproyekIndonesia #KerugianTriliunan #TransportasiCepat #BeritaEkonomi

