🩺 Dr. Tifa: “Saya Berhak Melihat Ijazah Asli”. Dalam konferensi pers singkat usai pemeriksaan, Dr. Tifa mengungkapkan kronologi pemeriksaan yang ia jalani. Selama lebih dari empat jam, ia dicecar 61 pertanyaan oleh penyidik.
“Sebagian pertanyaan yang diajukan tidak relevan dengan kasus. Tapi saya berusaha tetap menjawab sejujur mungkin,” kata Dr. Tifa, sambil menegaskan haknya untuk melihat dokumen asli, termasuk ijazah Jokowi.
Dr. Tifa menambahkan, ketenangan dalam pemeriksaan bukan berarti ia menyerah pada tekanan. Baginya, transparansi publik adalah kunci, dan semua pihak berhak mengetahui fakta yang sesungguhnya.
💻 Dr. Rismon Sianipar: Fokus Bukti Digital. Sementara itu, ahli digital forensik Dr. Rismon Sianipar juga menjalani pemeriksaan intensif. Ia dicecar 97 pertanyaan mengenai analisis dokumen digital dan kemungkinan manipulasi data.
“Ini bukan soal opini atau spekulasi, tapi soal fakta digital. Semua bukti harus diperiksa secara profesional,” jelas Dr. Rismon, yang terlihat tenang namun serius.
Ia menegaskan bahwa proses pengumpulan bukti digital adalah langkah krusial untuk memastikan kebenaran, menghindari fitnah, dan menjaga kredibilitas hukum.
⚡ Kasus ini memicu sorotan luas. Banyak media melaporkan setiap detail, sementara masyarakat mengikuti setiap perkembangan. Pemeriksaan Dr. Tifa dan Dr. Rismon dianggap sebagai upaya penyidik untuk mengungkap fakta secara mendalam, sekaligus menjadi tolok ukur transparansi hukum.
Beberapa momen dramatis yang sempat terekam: Di luar ruang pemeriksaan, wartawan menunggu setiap langkah, menyoroti ekspresi tegang namun tetap tenang dari para saksi.
Dr. Tifa, Dr. Rismon, dan Mar'i Alkatiri kini menjadi fokus dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi. Dengan tekanan yang tinggi, Dr. Tifa menegaskan haknya atas transparansi, Dr. Rismon memusatkan perhatian pada bukti digital, dan publik masih menanti pernyataan resmi Abdullah Alkatiri. Proses hukum masih berjalan, dan masyarakat diimbau untuk mengikuti perkembangan secara objektif.
(as)

